Belajar dari Orang Rimba

Belajar dari Orang Rimba*

Bagi Butet Manurung, sang penulis buku ini, adalah benar-benar sebuah pengalaman langsung belajar dengan orang rimba. Bagi kita, pembaca buku ini, Sokola Rimba bisa jadi adalah sebuah proses pembelajaran dari orang rimba.

Adakah orang rimba itu, dalam buku ini Butet jelaskan adalah mereka yang hidup di tengah hutan di Provinsi Jambi. Dari buku ini kita bisa belajar bagaimana orang rimba hidup dengan alam yang memberi mereka makan. Bagaimana orang rimba memperlakukan alam supaya tetap bersahabat dengan mereka.

Atas nama pembangunan orang rimba harus menyesuaikan diri. Menyesuaikan diri dengan alam yang menjadi wilayah mereka yang semakin sempit karena hutan yang dialihfungsikan.

Pola pikirpun harus berubah. Seiring pembangunan mereka tidak hanya bersosialisasi dengan alam. Orang rimba pun harus bersosialisai dengan lingkungan, dengan pendatang yang memiliki budaya beda. Di sinilah mula perubahan pola pikir.

Adakeinginan untuk maju, ada keinginan untuk setara. Orang rimba merasa ada sesuatu yang tidak adil saat jual beli hasil hutan mereka dengan penduduk di sekitar rimba.

Ini adalah rangkaian rekaman yang Butet catat dalam buku hariannya selama belajar dengan orang rimba (nampaknya Butet secara pribadi merasakan banyak belajar dari orang rimba meski kehadirannya di tengah hutan adalah untuk mengajar mereka baca tulis dan hitung).

Buku ini menceritakan pengalaman Butet selama menjadi relawan mengajar orang rimba. Membaca buku ini ada rasa “beruntung” yang hinggap, karena nasib kita masih lebih untung karena bisa menikmati sekolah, ada rasa sedih karena ternyata masih ada saudara kita yang belum sempat belajar. Jangankan belajar melihat bentuk sekolah pun mereka belum pernah.Adajuga semangat, karena orang rimba juga punya semangat belajar, adalah wajar jika kita yang memiliki fasilitas jauh lebih bersemangat.

Membaca buku ini kita seolah diajak Butet untuk masuk ke dalam rimba, sekalipun tidak semua, catatan harian Butet masuk dalam buku ini tanpa penghalusan bahasa. Akhirnya kita pun seolah dibawa pada emosi saat kejadian berlangsung.

“Beiklah benyok tapi poneng. Nio lah sedikit poneng jugo. Kanto hopi melawon!” (Mendingan banyak tapi pening. Ini udah sedikit pening juga. Orang disini tidak hebat). Ini adalah kalimat Gentar salah seorang murid Butet yang membantu Butet untuk mengajar. Mereka kecewa karena animo kawan-kawannya tidaklah banyak.

Adajuga kekecewaan Butet terhadap tempatnya mengabdi karena dianggap salah mengenalkan orang rimba pada komputer dan saat Butet mengajari Linca, orang rimba, naik motor. Tapi tahu-tahu aku dimarahi rekanku, “Untuk apa diajari motor!” katanya. (hal 187).

*Putut Ariyotejo. Sumber: Batam Pos – Sabtu, 17 November 2007.

*Rehal buku: Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba/ Butet Manurung/ INSISTPress, 2007.