Pembelaan HAM Melalui Video

Pembelaan HAM Melalui Video*

Jika memiliki sebuah video, akan Anda gunakan untuk apa video tersebut? Kebanyakan dari kita akan menggunakannya untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting dalam hidup seperti perayaan ulang tahun, acara wisuda, acara pernikahan, atau upacara kematian. Tak sedikit pula yang menggunakannya untuk mendokumentasikan peristiwa sehari-sehari dan kegiatan rekreasi.

Pernahkah terpikir bahwa video yang Anda miliki dapat digunakan untuk melakukan advokasi? Video for Change adalah sebuah buku yang mengajak kita menggunakan video secara berbeda, yaitu menggunakan video untuk melakukan pembelaan HAM. Melalui buku ini kita diajak untuk menemukan potensi dari sebuah video kamera sederhana dan kekuatan yang dimilikinya untuk menstimulasi perubahan sosial. Melalui penggunaan sebuah video kamera kita dapat memastikan bahwa suara-suara yang tak terdengar menjadi terdengar dan perombakan-perombakan penting pun dapat terjadi.

Pengalaman menggunakan video sebagai satu kesatuan dari kampanye yang memfokuskan diri pada HAM, lingkungan hidup, globalisasi perusahaan, dan hak-hak adat telah dilakukan oleh organisasi-organisasi pelopor, seperti Appalshop di Amerika Serikat, Chiapas Media Project di Meksiko, CEFREC di Bolivia, Dristhi Media Collective di India, Undercurrents di Inggris, Labor News Production di Korea Selatan, INSIST di Indonesia, dan sejumlah lainnya.

Dalam pelaksanaannya para aktivis media ini mempertahankan sebuah tradisi yang dihormati sepanjang zaman, yaitu eksperimen cinema veritë – pembuatan film dokumenter yang berusaha menangkap kejadian dan situasi sebagai terjadi tanpa kontrol penyutradaraan dan editing yang mendominasi (hlm. xiv).

Buku yang terdiri dari tujuh bab ini menyuguhkan bagaimana melakukan “advokasi video” dengan berangkat dari pengalaman-pengalaman nyata para aktivis yang telah bekerja dengan organisasi HAM Witness. Bahkan beberapa bab merupakan materi pelatihan organisasi HAM Witness. Oleh sebab itu, pada bab pertama dari buku ini kita akan mendapati pengalaman kerja Gillian Caldwell yang telah menjadi Direktur Eksekutif Witness dalam merintis sebuah kampanye melawan perdagangan global perempuan.

Pada bab dua, kita akan menemukan tulisan Katerina Cizek, seorang pembuat film keadilan sosial yang cukup berpengaruh dari Kanada, tentang keselamatan dan keamanan dari mereka yang bekerja untuk menghasilkan sebuah video.

Katerina Cizek pun menulis bab tiga dengan mengangkat bagaimana berpikir lewat sebuh cerita yang sanggup menyentuh, melibatkan, mendesak, atau membuat malu para penonton sehingga mampu membuat mereka tergerak dan bertindak. Bab keempat, yang ditulis oleh Joanna Duchesne dan Liz Miller, merupakan tawaran panduan-panduan dan latihan-latihan sederhana untuk membantu kita membuat kemajuan dari satu shot gambar hingga menjadi rangkaian gambar (sekuens), dan menjelaskan pentingnya menggunakan beberapa jenis shot yang berbeda dalam proses edit.

Bab keempat kemudian dilanjutkan dalam bablimaoleh Katerina Cizek yang mengajak kita untuk melihat proses teknis editing. Hal ini akan membantu kita untuk mempertinggi kemampuan membuat footage yang berpengaruh kuat. Aspek legal dari penggunaan video juga diberikan ruang khusus dalam bab enam. ‘Video sebagai Bukti’ yang ditulis oleh Sukanya Pillay akan menolong kita untuk melihat video merupakan sumber bukti kuat di pengadilan. Ia juga memaparkan beberapa contoh kasus.

Bab terakhir ditulis oleh Thomas Harding yang mengajak kita merencanakan dengan baik pemilihan penonton. Ia menjelaskan bagaimana memanfaatkan pemutaran video komunitas, bagaimana menjalin pertemanan dan membangun jaringan dengan mitra dan bagaimana mendatangi langsung para pembuat keputusan atau menggunakan media arus utama dan jaringan internet.

Pada bagian akhir terdapat lampiran yang merupakan format-format dan daftar pengecekan yang mungkin dibutuhkan. Terdapat juga salinan dari “Video Action Plan” yang diberikan Witess kepada para mitranya untuk membimbing mereka melalui proses berpikir dari penggunaan video untuk advokasi.

Buku ini memang dipenuhi oleh istilah-istilah yang asing bagi mereka yang tidak pernah mendalami penggunaan video secara teoretis-akademis. Akan tetapi, bab-bab yang telah dipaparkan dengan singkat di atas berisi penjelasan-penjelasan sederhana yang akan memberdayakan kita untuk menghasilkan sebuah karya advokasi yang baik.

*Oleh: Marijke Joanna Belle Bangun (lulusan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta) | Sumber: Suara Pembaruan – 18 Juli 2008.

*Rehal buku: Video for Change: Panduan Video Untuk Advokasi/ Sam Gregory, Gillian Caldwell/ Astrid Reza Wijaya & Veronika Kusuma (penerjemah)/ INSISTPress, 2018.