Mengantar dari Luar

Mengantar dari Luar*

Sedianya, tulisan ini akan menjadi semacam pengantar pada buku kecil yang telah kelar ditulis oleh sahabat saya, Nurhady Sirimorok, yang jika tidak ada aral akan diterbitkan oleh Penerbit InsistPress di bulan ini dengan judul Laskar Pemimpi. Tetapi atas beberapa alasan, saya membatalkan pemuatan tulisan ini di buku tersebut.

Alasan saya sederhana belaka. Pertama, saya merasa bahwa tanpa tulisan ini, buku hasil karya Ady, begitu biasa saya panggil si penulis, lebih bisa hadir secara mandiri. Tulisan yang baik, menurut hemat saya, tidak perlu dikukuhkan oleh tulisan yang lain. Bahkan pada banyak hal, tulisan pengantar malah bisa menghambat dan mereduksi substansi yang ingin ditatahkan oleh si penulis.

Alasan kedua, sebagai seorang kawan yang diminta menyunting buku tersebut, mau tidak mau saya perlu memberikan apresiasi. Sebagai penyunting, sebagaimana yang pernah saya tulis di lain naskah, merupakan keberuntungan sebab saya telah dipercaya menjadi bagian dari pembaca pertama. Namun saya berpendapat, mungkin ada baiknya jika semacam pengantar ini tersebar dengan cara tersendiri, sebelum buku tersebut terbit dan tidak harus menjadi bagian dari buku tersebut. Anggaplah tulisan ini semacam hidangan pembuka, yang tidak harus dikudap tepat di acara makan bersama.

Laskar Pemimpi menyorot isi novel Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi dan kemudian melihat pula novel-novel hasil karya Andrea yang lain sebagai sekuel dari Laskar Pelangi yakni Sang Pemimpi dan Edensor. Pemilihan judul yang dilakukan oleh Ady, boleh jadi berusaha menggabungkan dua hal: substansi kritik Ady atas ketiga novel tersebut, sekaligus menggabungkan dua kata kunci yang tersurat dari judul-judul trilogi Andrea.

Saya sendiri tidak membaca ketiga tulisan Andrea. Laskar Pelangi, pernah saya coba baca, tetapi baru sampai pada halaman-halaman awal, kemudian tidak saya lanjutkan. Ini hambatan yang wajar dari seorang penulis ketika membaca tulisan penulis lain. Secara teknis, kecerdasan anak-anak kecil di luar kewajaran yang ada pada Laskar Pelangi, telah mengganggu saya. Namun saya sadar betul, hambatan saya di dalam membaca novel tersebut tidak harus ada atau dialami oleh pembaca yang lain. Setiap pembaca punya kuasa.

Jika kemudian Laskar Pelangi menarik perhatian saya, bukan karena kemudian novel ini menjadi buku yang sangat laris. Tetapi justru karena hal lain yang bersifat personal: ibu saya. Ibu saya adalah seorang pembaca yang tekun. Dia tinggal di kampung, di mana suplai bahan-bahan bacaannya berasal dari buku-buku yang saya belikan. Di kampung saya, tidak ada toko buku. Sejauh yang bisa saya ingat, jarang sekali ibu saya meminta judul buku atau nama pengarang tertentu, agar saya mengirimkannya ke rumah. Hanya ada dua nama yang langsung pernah ditunjuk oleh ibu saya agar saya mengusahakan untuk mengirimkan ke kampung: NH Dini dan Andrea Hirata.

Kalau soal NH Dini, saya tidak akan kaget. Ibu saya pernah lama menjadi guru, dan kemudian bekerja di kantor Depdiknas setingkat kecamatan. Nama NH Dini, sudah menjadi pocapan yang lama terdengar bagi para guru, pengarang perempuan yang sangat terkemuka. Saya terperanjat ketika ibu saya menyebut nama Andrea Hirata, dan dengan fasih menyebut pula judul bukunya: Laskar Pelangi.

Saya mencoba mengusut bagaimana bisa ibu saya mendengar nama Andrea. Lalu ibu saya bercerita, suatu saat di kantornya geger oleh sebuah obrolan. Hal tersebut dikarenakan banyak di antara orang-orang di kantor ibu saya bekerja, telah menonton sebuah acara televisi dengan tajuk Kick Andy. Karena tahu persis saya selalu melunasi setiap permintaan ibu saya jika berhubungan dengan buku-buku, warga kantor tersebut meminta ibu saya agar saya mengirim buku tersebut. Dan saya dengan senang hati meluluskan permintaan itu.

Saya memang melakukan serangkaian analisa mengapa buku tersebut segera menyita perhatian para pegawai kantor yang berurusan dengan banyak guru itu. Sebab kalau alasannya sekadar menonton acara Kick Andy, terlalu lemah untuk kemudian meletupkan gairah mereka untuk segera membaca novel itu. Di sebuah kecamatan yang tidak ada toko buku, di tengah-tengah komunitas para pengajar, sebuah buku yang mereka lihat dari acara televisi yang kemudian segera memantik rasa ingin tahu banyak orang di sana, pastilah bukan sembarang buku. Sayang, analisa saya tentang fenomena tersebut tidak bisa saya udar di sini, akan terlalu panjang dan mungkin agak kurang relevan.

Hanya saja yang jelas, ibu saya membaca tuntas Laskar Pelangi, teman-temannya juga membaca tuntas, dan mereka suka sekali dengan buku itu. Sebagai seorang penulis, saya sempat iri kepada Andrea karena ia telah membahagiakan ibu saya dan teman-temannya. Tetapi rasa iri itu tertutupi karena sekaligus saya merasa bahagia sebab bisa membuat ibu saya dan teman-temannya bahagia dengan cara yang sangat sederhana: mengirim sebuah novel ke kampung halaman.

Dengan demikian, pengalaman saya menyangkut Laskar Pelangi, hanya sederhana saja. Pertama, saya tahu kalau novel itu laris manis. Kedua, saya pernah membacanya walau hanya pada halaman-halaman awal. Dan ketiga, karena ibu saya.

Hingga kemudian, Laskar Pelangi meruyak kembali ke pikiran saya dikarenakan dua hal: saat beberapa bulan yang lalu saya secara tidak sengaja menonton acara bincang-bincang di televisi dengan bintang tamu para penulis, yang kalau tidak salah: Andrea Hirata, Moammar Emka dan Helvy Tiana Rosa. Dan yang kedua, saat Ady mengirim draf tulisannya.

Perbincangan di televisi itu, sebagaimana perbincangan yang pernah saya ikuti di dalam dunia sastra, nyaris tidak menarik secara intelektual. Mereka antara lain berdebat soal definisi sastra. Saya, sudah sejak lama punya kesimpulan soal tema itu: definisi sastra itu soal kuasa. Definisi selalu diperebutkan, dan oleh karena itu tidak pernah selesai diperdebatkan. Setiap kelompok atau penulis, berhak membuat definisi tentang sastra, dan hal itu berkaitan dengan kekuasaan. Sudah tentu, kekuasaan di sini tidak persis sama artinya dengan kekuasaan politik.

Saya sering menyitir contoh yang mudah dan gamblang. Dulu, ketika Politik Etis tengah mengalami masa panen dari program tersebut, pernah muncul yang namanya Bacaan Liar. Salah satu cirinya adalah dengan munculnya karya-karya novel berbahasa Melayu Pasar, dan dengan tema-tema yang dianggap tidak adiluhung. Tema-temanya berputar soal kriminalitas, seks, dan tentu saja soal politik. Oleh agen Kolonial yang berniat ‘menjaga’ selera orang-orang di bawah dominasi mereka, karya tersebut sering dibilang sebagai sastra rendah, cabul, dan tidak punya selera, atau kalau dalam bahas sekarang disebut ecek-ecek. Tetapi bagi mereka yang mengusung dan memasukkan diri mereka di dalam pergerakan politik, tema tersebut merupakan bagian dari pemberontakan, termasuk pemberontakan selera yang melenakan anak bangsa.

Contoh lain yang mudah adalah saat karya-karya WS Rendra disebut sebagai pamflet, bukan sajak. Saat itu, karya yang dianggap bercitarasa adalah karya-karya yang personal, susah dipahami, dan oleh karena itu layak untuk dianggap bercitarasa tinggi. Konteks sosial saat itu, Orde Baru sedang membungkam suara rakyatnya. Kalau masih belum jelas, karya Pramodya Ananta Toer menjadi contoh yang lain. Saat Orde Baru berkuasa, karya-karya Pram tidak dianggap sastra. Tetapi saat Orde baru rontok, karya Pram kembali dielu-elukan sebagai karya sastra.

Sayangnya, sampai sekarang, jika kita mengikuti perdebatan sastra, pertanyaan soal apa itu sastra menjadi begitu penting, dan masing-masing kelompok maupun orang membuat definisi yang acakadut. Seakan-akan definisi itu patuh rumus, jumud dan pasti.

Demikian juga perdebatan antara ketiga pelaku sastra di televisi. Baik Helvy, Andrea dan Moammar berdebat soal definisi. Moammar dan Andrea berada di satu kubu, sementara Helvy di kubu yang berseberangan. Kira-kira saat itu perdebatannya seperti ini: Helvy punya definisi yang adiluhung soal sastra, tetapi Moammar dan Andrea menganggap bahwa apa yang mereka tulis merupakan sastra. Moammar, tentu Anda tahu, sering menulis tema-tema yang diangap saru. Pada titik itu, perdebatan tidak menarik karena tidak ada di antara mereka yang mencoba menyatakan bahwa definisi apapun itu, termasuk di dalam sastra, adalah soal perebutan kekuasaan. Dan karena itu definisi selalu diperebutkan karena berbagai kepentingan.

Pada bagian akhir acara itu, barulah muncul hal yang menarik. Yakni ketika Andrea dan Moammar, dengan agak mengeluh merasa bahwa mereka berdua tidak dimasukkan dalam kategori ‘sastrawan’. Dan pada saat yang sama, Helvy mengeluarkan keluhan yang hampir sama yakni soal: mafia sastra.

Pikiran saya langsung tercekat mendengar soal itu. Bukan soal apa-apa. Hanya soal yang sederhana: mengapa orang seperti Moammar dan Andrea masih perlu untuk dikategorikan sebagai sastrawan? Dan kenapa seseorang yang punya ‘kekuasaan’ cukup besar seperti Helvy yang merupakan dosen sastra sekaligus penggiat kelompok sastra yang nisbi besar yakni kelompok Lingkar Pena, mengeluh soal mafia sastra?

Di sinilah ketaksaan terjadi, tidak bertemunya antara definisi dengan posisi. Mereka bertiga, secara tidak langsung telah mempraktikkan perebutan definisi sastra, tetapi di saat yang hampir bersamaan, membicarakan posisi. Hal tersebut tentu saja ganjil adanya. Kalau saja mereka menyadari soal perebutan definisi, pastilah mereka juga menyadari adanya perebutan posisi. Soal apa itu sastra selalu mempunyai hubungan dengan cap siapa saja yang berhak dianggap sastrawan.

Saya tidak akan memperdalam soal tersebut. Saya hanya mencoba memaparkan hal-hal yang bisa ditangkap sekelabatan saja, soal lapis-lapis yang melingkupi dunia sastra. Sekali lagi, maaf saja, saya ambil gampangnya saja. Kita tentu sudah mulai meraba perihal sastra dan kekuasaan. Baik yang berada di internal sastra, yakni kekuasaan di dunia sastra, maupun yang ada hubungannya dengan dunia di luar sastra.

Kalau kita sadar bahwa sastra itu punya dimensi politik, sebagai sebuah kapital yang bisa memperkuat dan melemahkan kekuasaan, maka kita selalu sadar bahwa dunia sastra adalah sebuah medan pertarungan politik dan kekuasaan. Pada sisi yang lain, kalau kita sepakat bahwa sastra mempunyai dimensi ekonomi, sebab buku diperdagangkan, maka kita sadar betul bahwa sastra juga merupakan telatah pertarungan ekonomi. Dan kalau kita mafhum bahwa ada hubungan yang kuat antara ekonomi dan politik, maka kita akan menganggukkan kepala: sastra bukan wilayah yang benar-benar otonom, suci dari urusan politik dan ekonomi.

Tentu saja, karut-marut masalah itu tidak sederhana. Diperlukan kehati-hatian tingkat tinggi untuk menganalisa sengkarut masalah dalam dunia sastra. Ada kalanya, pertarungan yang terjadi dalam dimensi politik dalam dunia sastra, sama persis dengan pertarungan di dimensi ekonomi. Tetapi ada kalanya tidak.

Saya akan memberi sedikit contoh. Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya adalah contoh di mana pada awalnya, dimensi politik sastra tidak ada hubungannya dengan dimensi ekonomi sastra. Penguasa Sastra, sebutlah begitu tetapi mohon tidak dipahami sebagai kekuasaan tunggal dan monolitik, tidak menganggap Andrea sebagai sastrawan, dan Laskar Pelangi sebagai karya sastra. Tetapi dimensi ekonomi mengatakan hal yang berbeda: Laskar Pelangi laris-manis, dan Andrea dielu-elukan di mana-mana. Hal yang sama pernah dialami oleh Moammar Emka. Sebagai contoh lain, saat terjadi merebak dan larisnya teenlit dan chicklit sekitar dua atau tiga tahun yang lalu.

Tetapi ada kalanya, dimensi politik sastra berhubungan secara langsung dengan dimensi ekonomi. Kita misalkan saja, sekali lagi ini misal, kekuatan politik sastra di Indonesia dikuasai oleh dua kelompok. Sebutlah misalnya kelompok pertama adalah kelompok Islam dan sebutlah misalnya kelompok kedua adalah kelompok Liberal. Jika petanya kita sepakati saja sebagai mudahnya seperti itu, maka berhasilnya novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman secara ekonomis, pastilah ada hubungannya dengan dimensi politik. Hal yang sama juga bisa kita andalkan untuk melihat sisi keberhasilan Ayu Utami dengan karya-karyanya.

Udaran secukupnya di atas, berusaha memaparkan dengan sederhana soal-soal di dalam sastra, yang berhubungan dengan dimensi politik dan ekonomi. Kalau kita tilik lebih jauh lagi, lebih dalam dan lebih hati-hati, maka kita akan dihadapkan pada panorama sastra yang cukup mencengangkan. Mereka yang berpikir bahwa sastra adalah hal yang otonom, dunia sunyi yang jauh dari tangan-tangan kepentingan, lebih baik menyimpan paham itu di museum bersama tulang-belulang binatang masa lalu.

Sayang sekali, kita kekurangan peneliti yang andal untuk melihat panorama tersebut. Dan karena itu, setiap kali kita hadir di wahana sastra, masih banyak orang yang ribut soal definisi sastra: yang itu sastra, yang ini bukan… Pak Itu sastrawan dan Bu Ini bukan sastrawan…

Hal tersebut di atas, agak lain soal dengan hal tersebut di bawah ini.

Ketika Ady mengirimi saya draf karya tulisnya, barulah saya belajar dari sana mengenai isi Laskar Pelangi. Jadi, isi Laskar Pelangi saya pelajari bukan dari novelnya, melainkan dari karya Ady.

Tulisan Ady menyorot ke soal isi Laskar Pelangi. Itu artinya, di dalam tulisannya, Ady tidak membedah dimensi ekonomi dan politik novel Laskar Pelangi, melainkan bedah isi. Tetapi apakah betul di dalam isi sebuah novel tidak ada dimensi politiknya?

Saya pribadi berpendapat: ada. Dari sebuah novel, seorang pembaca bisa dan berhak menafsir paradigma apa yang digotong dan diedarkan oleh si penulis.

Tetapi hal tersebut bukan berarti tidak kalah rumit dibanding yang telah saya paparkan dengan sederhana di atas. Sekali lagi, saya ambil gampangnya saja. Tetapi mohon dicatat, saya bukan orang yang ahli dalam hal ini. Seorang penulis ingin menyampaikan sesuatu, dan dia memakai alat bernama bahasa. Dan bahasa, kita tahu, adalah gugus nalar sekaligus alat untuk mendekati kenyataan. Karena kenyataan itu didekati, maka tidak ada jaminan bahwa yang didekati sama persis dengan yang mendekati. Itu baru dari segi produksi yakni dari sisi kreator atau penulis. Sementara dari segi konsumsi, setiap pembaca mempunyai pengalaman sosial sendiri, dan bukan seseorang yang dengan mudah didikte oleh keinginan sang kreator yang memaparkan gagasan-gagasannya. Si pembaca ‘memainkan’ sendiri partitur yang ditulis oleh si kreator, tidak sama persis, dan mustahil memang sama persis. Seorang pembaca mempunyai hak yang sama dengan hak seorang kreator di dalam mencerna dan menafsir sebuah tulisan.

Ady telah memenuhi haknya sebagai pembaca, dan ia menafsiri karya Andrea dengan pikirannya sendiri. Ia berusaha membongkar paradigma apa yang ngendon di novel-novel karya Andrea. Kelak bisa Anda baca, kira-kira kesimpulan Ady adalah di karya-karya Andrea, virus modernitas mengambil peran yang sangat penting. Benar tidaknya hal itu ada pada niatan Andrea, sudah tidak penting lagi. Sebab Andrea sudah kehilangan otoritasnya sebagai seorang pengarang, begitu Ady membaca karya Andrea. Dalam melihat bentuk tulisan seperti ini, yang penting adalah menyimak keruntutan nalar Ady di dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Tetapi harap diingat, ini seperti efek-bola-salju-tafsir, Anda yang membaca karya Ady, punya otoritas yang sama seperti yang dimiliki oleh Ady ketika membaca karya Andrea. Ady dan Andrea, bagi kita sebagai pembaca, sama-sama tidak penting.

Modernitas memang menjadi sesuatu yang tak pernah sepi dari perdebatan, apalagi di dalam konteks Indonesia sebagai negara bekas jajahan. Kesadaran atas bangsa yang terjajah mendapatkan momentum pentingnya justru di saat Politik Etis mulai dijalankan oleh pihak kolonial. Pendidikan yang pada mulanya ditujukan agar pihak kolonial mampu mendapatkan tenaga-tenaga kerja murah, selain tentu saja desakan etis dari kelompok di lingkar penjajah sendiri, membuahkan senjata bermata dua. Di satu sisi, imajinasi atas modernitas mulai merasuki kaum terpelajar Indonesia dan di sisi yang lain, sebagai senjata perlawanan karena memasok kesadaran atas keterjajahan.

Penggambaran yang paling jitu atas kondisi di atas sebetulnya bisa kita lihat pada Tetralogi Buru karya Pram. Bumi Manusia, novel pertama, dibuka dengan terpukaunya si sosok protagonis, Minke, atas modernitas. Eropa beserta ilmu pengetahuan dan teknologinya, dikonsumsi dan jadi imajinasi bagi Minke. Dari mana ia mendapatkan imajinasi itu? Dari sekolah tentu saja. Sekolah siapa? Sekolah kolonial tentu saja. Siapa saja agennya? Buku-buku dan para guru, yang utama pastinya.

Tetapi di adikaryatama itu pula, kalau kita jeli, polemik modernitas mulai meruyak di diri Minke. Bahasa yang digelutinya, dipakainya, yakni bahasa Belanda, harus menghadapi tantangan politis, sehingga ia memutuskan untuk menulis dalam bahasa Melayu. Nilai-nilai modern yang menghiasi pikiran Minke, harus dibenturkan dengan kasunyatan yang harus dihadapinya: penjajahan yang penuh dusta. Kesetaraan, kebebasan individu, pada akhirnya harus patuh pada gembok kolonialisme. Tetapi di sanalah ironi bersemayam, pada tahap selanjutnya, alat perlawanan modern menjadi senjatatama untuk melawan: organisasi modern, alat propaganda modern, cara berpikir dan bertindak modern.

Modernitas, sejak mula di tanah Indonesia, mengukuhkan ironi besar. Maka, di perkembangan selanjutnya, perdebatan soal modernitas menjadi wacana penting. Soal Barat dan Timur, sejak awal adalah persoalan yang tidak mudah.

Tetapi sayang, perdebatan penting itu kemudian harus berganti atmosfer. Kemenangan politik Orde baru, membuat segala hal nyaris tidak memiliki lawan baku tanding. Termasuk di antaranya adalah imajinasi atas modernitas. Mantra pembangunan, lepas landas, mengejar ketertinggalan, jauh di atas segalanya. Tanpa perlu memikir dan memilah, apa yang harus dikejar, dan apa yang tertinggal.

Pada konteks itulah, Ady dengan ciamik, memaparkan bagaimana imajinasi modernitas menyebar laksana virus supercepat, bebas hambatan, dan menjadi faktor penggerak penting di dalam novel-novel Andrea. Modernitas di Era Orde Baru adalah papan jungkat-jungkit yang berat sebelah. Sekolah itu penting, kemajuan itu penting, penaklukan itu penting. Yang tidak sekolah itu bodoh, yang tidak maju itu tertinggal, dan udik itu memalukan.

Laskar Pemimpi, menurut hemat saya, bukan semata-mata mengkritik habis karya Andrea. Bukan itu persoalannya. Tetapi Ady berusaha menyodorkan hasil analisa yang tajam, dari sesuatu yang telah lama tidak disentuh dalam dunia sastra. Menurut hemat saya, Ady hanya meminjam novel-novel Andrea untuk menjelaskan apa yang merisaukan hatinya. Ady berusaha membersihkan kacamata kita yang telah buram karena terlewat asyik menyimak pandangan-pandangan yang homogen.

Saya tidak ingin menambah problema dunia sastra kita. Tetapi memang telah lama kita kehilangan kekayaan analisa. Debat dan kritik sastra mengarah ke hal yang itu-itu saja, diulang-ulang, membosankan. Dunia sastra, sebagaimana cerminan dunia sosial kita, telah lama kehilangan gairah, kesegaran dan sifat kritis.

Rampungnya tulisan Ady, dan semoga segera diikuti dengan selesainya proses cetak, membuat saya mempunyai gairah baru. Semoga akan ada banyak karya yang mengkritisi isi produk sastra kita, dan semoga ada yang punya waktu luang, kesabaran dan keberanian untuk membeberkan dimensi politik dan ekonomi sastra kita. Tanpa pengetahuan soal itu, para pelaku sastra ibarat bermain pedang di lanskap gelap. Sibuk bergerak, menebas ke kanan dan ke kiri, kehilangan alasantama mengapa dan untuk apa seseorang menulis, kehilangan peta dan kompas sehingga tidak tahu sedang berada di mana, dan yang paling memprihatinkan tentu saja kehilangan alasan etisnya.

*Puthut EA | Sumber: www.puthutea.com – 2008.