Resensi Buku; Menggugat Novel Laskar Pelangi

Resensi Buku; Menggugat Novel Laskar Pelangi*

Setiap karya tidak ada yang sempurna. Seperti kata pepa­tah, tidak ada gading yang tak retak. Hal ini berlaku terhadap novel karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Banyak yang takjub dengan novel tersebut. Kisah perjuangan anak-anak Belitong dalam meperoleh pendidikan demi mengejar cita-cita.

Laskar Pelangi adalah novel spektakuler. Ia laris hingga 600 ribu eksemplar. Itu luar biasa bagi novel Indonesia. Angka ini jauh melebihi terjemahan Harry Potter 1-4 yang tak sanggup melampaui angka 200 ribu eksemplar.

Namun, bagi Nurhady Sirimonok, novel tetralogi karya Andera Hirata, tidaklah tanpa cacat. Ada beberapa kritikan yang disam­paikan Nurhady melalui bukunya “Laskar Pemimpi; Andrea Hirata Pembacanya dan Modernisasi Indonesia” terbitan INSISTPress.

Dalam novelnya Andrea Hirata seperti mempertontonkan kepada pembacanya bagaimana pendidikan yang baik itu agar mencapai cita-cita. Pendidikan model Laskar Pelangi mengajarkan, masyarakat harus bisa menempuh pendidikan formal mulai dari SD, SMP dan SMA. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke S1. Sampai S1 harus melan­jutkan pendidikan S2. S2 yang ditempuh itu haruslah di luar negeri seperti di Eropa.

Untuk pekerjaan, menjadi Pegawai Negeri Sipil yang paling utama. Namun, sebaiknya menjadi PNS di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang paling baik.

Mengapa demikian, karena di buku tersebut, anak sejenius Lintang. Sadar atau tidak, Andrea Hirata melalui novelnya telah mengganggu mimpi ideal pembaca Indonesia yang menginginkan seorang anak jenius secara akademik, telah berjuang dengan keras, di sekolah yang terlantar, mendapatkan haknya di pucuk dunia moderen yaitu bersekolah ke luar negeri.

Dengan menyekolahkan Ikal di Sorbonne, Perancis, dan menunjukkan betapa Lintang lebih cerdas daripada Ikal, Andrea membangun semacam ukuran di mana seharusnya Lintang berada.

Novel Laskar Pelangi perlu diragukan risetnya. Ada aturan tidak tertulis di dalam dunia sastra yang menyatakan, sebuah karya sastra harus mampu membuat pembacanya percaya dengan tidak mel­abrak logika ceritanya. Deskripsi tokoh yang berlebihan, akan sulit dipercaya sebagian pembacanya.

Ambil contoh memoles Lintang menjadi anak yang menguasai ilmu luar biasa di usia muda. Di novel itu Lintang menemukan buku-buku hebat ketika bertugas menyapu di sekolah. Implikasi, biimplikasi, filosofi Pascal, binominal Newton, limit, diferensial, integral, terori peluang dan vektor.Itu semua terjadi di sekolah miskin di tempat terpencil nan tak terurus pemerintah.

Masalah serupa terjadi ketika pemilik toko kelontong A Miauw menghardik Ikal saat hendak membeli kapur tulis. “Utang kalian sudah menumpuk,”. Padahal sebelumnya, digambarkan sekolah terse­but memiliki alat band yang lengkap. Atau ketika keluarga Ikal berlangganan majalah Aktuil yang beroplah cukup terbatas dan harganya mahal. dan masih banyak lagi keanehan yang tidak masuk logika. Setiap elemen muncul terlalu tiba-tiba dan serba kebetu­lan.

Andrea juga sepertinya menganggungkan aliran orientalisme. Yakni melihat kebudayaan timur dari kacamatan budaya barat. Misalnya dengan melatinkan nama-nama pohon yang ada di dalam novel. ia membayangkan pembacanya berpendidikan Eropa sama seperti dirinya. Nurhady menduga Andrea adalah produk sekolah Orde Baru yang gampang sekali menghilangkan nama lokal. Kasus pohon ficium yang muncul ratusan kali di dalam novel menjadi salah satu buk­tinya.

Lalu Andrea juga menceritakan perbedaan pendidikan yang diperoleh mahasiswa dari negara yang sudah maju dengan dari negara miskin. Hal ini menjelaskan kepada pembaca, pendidikan warga non barat lebih rendah.

Bagi pembaca novel Laskar Pelangi, tidak lengkap kiranya jika tidak juga membaca kritikan sastra karya Nurhady Sirimonok ini. Nurhady tidak asal melakukan kritikan saja. Ia memiliki referensi sendiri untuk menyampaikan kritikan tersebut.

*Oleh: Eriandi, junalis Indonesia. Sumber: eriandi.wordpress.com – 15 Desember 2008.

*Rehal buku: Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi IndonesiaNurhady Sirimorok/ Puthut EA (ed.)/ INSISTPress, 2008.