Membongkar novel-novel karya Andrea Hirata

Membongkar novel-novel karya Andrea Hirata*

Bagi penulis yang bijak tentu akan senang bahkan berterima kasih bila karyanya dikritik orang lain, sehingga si penulis menjadi tahu sisi kekuatan dan kelemahannya. Betapa bahagianya ketika sebuah karya mendapatkan kritikan, karena dengan begitu justru menjadi lecutan untuk membuat karya-karya yang lebih baik lagi pada masa-masa mendatang.

Demikian pula bagi Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi dan dua sekuelnya, Sang Pemimpi dan Edensor. Pasalnya, karya ini dikritik habis-habisan oleh Nurhady Sirimorok melalui bukunya Laskar Pemimpi ini. Buku ini menyorot isi novel-novel karya Andrea. Ia berusaha membongkar paradigma tentang yang ada di balik novel-novel Andrea. Namun, ia bukan sekadar mengkritik, melainkan juga menyodorkan analisisnya.

Kalau selama ini banyak orang mengagumi karya novel Andrea, begitu pula dengan filmnya yang diangkat dari novel itu, Nurhady justru mengungkap kelemahan novel itu. Namun, setidaknya ia menunjukkan bahwa antara novel dan filmnya sebenarnya sudah merupakan contoh bagian mana yang dikritik oleh sineas. Bagian mana yang hilang dan mana yang dipertahankan, itu menunjukkan kelebihan dan kekurangannya secara estetis. Sehingga diketahui bagian mana yang dianggap berhasil dan mana yang gagal.

Sebagaimana novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy—yang juga telah difilmkan, ternyata luar biasa telah menghipnotis pembaca dan pemirsa. Demikian pula karya-karya Andrea, menjadi fenomena tersendiri.

Yang pasti, dari enam tulisan dalam buku ini, semua berupa kritik terhadap karya Andrea. Dari tulisan tentang komentar pembaca sebagai narasi. Hingga tulisan bertajuk Andrea Hirata mundur dua abad, dan modern itu cuma cap. Semua ditulis dengan kritis namun tetap santun.

*Pardoyo, Litbang SOLOPOS. | Sumber: SOLOPOS –  21 Desember 2008, Hal.VIII.

*Rehal buku: Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi IndonesiaNurhady Sirimorok/ Puthut EA (ed.)/ INSISTPress, 2008.