Ketika Perusahaan Farmasi Membeli Lembaga Publik

Dari Buku Nicotine War, Anti Tesis Gerakan Anti Tembakau (4)
Ketika Perusahaan Farmasi Membeli Lembaga Publik*

American Medical Association (AMA) adalah pemain penting dalam perang melawan nikotin. Asosiasi ini menerima jutaan dollar AS setiap tahun dari industri farmasi. Dan beberapa juta dollar AS diantaranya, khusus ditujukan untuk gerakan anti tembakau. Robert Wood Johnson Foundation bahkan memberikan dana khusus ke AMA untuk menjalankan program SmokeLess States yang dimotori oleh RWJF.

Selain AMA, Journal of the American Medical Association (JAMA) juga menerima iklan dari perusahaan farmasi. Demikian pula halnya dengan British Medical Journal (BMJ) Journal yang diterbitkan oleh British Medical Association. Kedua Journal yang banyak menerima iklan dari perusahaan farmasi ini, lebih banyak mengupas soal pengendalian tembakau. Selain juga gencar mengampanyekan pengendalian tembakau, journal ini juga giat mempublikasikan sejumlah editorial yang mendukung produk-produk farmasi tentang berhenti merokok.

Kedua Jurnal ini juga dikenal sigap dalam menerbitkan kajian-kajian yang didanai industri farmasi produsen nikotin penghenti rokok. Penelitian dilakukan oleh para peneliti yang tentu juga didadanai oleh kalangan industri farmasi. Ini bukan berarti para staf redaksi jurnal itu tak sadar akan adanya bias pada banyak kajian obat-obatan yang didanai industri farmasi tertentu.  Karena kedua jurnal ini juga sempat memuat artikel yang membahas benturan kepentingan para peneliti.

Satu hal yang tidak pernah mereka publikasikan adalah konflik kepentingan asosiasi kedokteran serta hubungan finansialnya, maupun hubungannya dengan industri farmasi. Kepentingan tersembunyi yang tidak jarang  dalam banyak kejadian justru lebih dipentingkan  ketimbang standar penerbitan yang objektif serta keselamatan pasien. Dan tidak ada contoh yang lebih jelas dari soal ini, kecuali perang nikotin.

Para redaktur BMJ maupun JAMA, maupun para pejabat British Medical Association dan American Medical Association nampaknya sudah tidak lagi mempertimbangkan dampak buruk kampanye anti tembakau yang mereka sebarkan, atau sejumlah kebijakan yang mereka dukung. Salah satunya, adalah dukungan mereka untuk mengurangi nikotin dalam kandungan rokok.

Mantan Ketua Surgeon General C Everett Koop mengatakan bahwa kandungan nikotin rokok jangan dikurangi karena hanya akan menyebabkan para perokok, akan merokok lebih banyak. Sehingga akan terpapar zat penyebab kanker dua kali lebih banyak. “Saya tidak membayangkan komunitas kesehatan publik akan membiarkan FDA mengurangi nikotin  sedemikian banyak pada rokok,” kata Koop .

Sebagian besar dokter praktek di AS memang tidak menjadi anggota AMA. Meski begitu, tak diragukan lagi, banyak diantara mereka yang pernah menerima atau dicekoki informasi sesat tentang tembakau oleh penguasa medis dan kesehatan publik. Sehingga, membuat sejumlah dokter merasa tidak nyaman dengan propaganda anti tembakau yang dicecarkan terus menerus itu.

Sebuah kajian yang dimuat dalam jurnal JAMA pada tahun 1998 menyebutkan, para pembaca jurnal hanya menempatkan isu pada peringkat ke 55 dari 73 topik skala prioritas yang tersedia. Sementara para redaktur jurnal menempatkan isu ini pada peringkat ke 17. Tentu saja, data ini membuat murka sejumlah anggota komunitas anti tembakau, karena mereka khawatir jurnal JAMA akan merubah kebijakan redaksional, sehingga tidak sejalan dengan keinginan mereka para juragan farmasi. “Kami heran, sebenarnya siapa pembaca JAMA. Apakah mereka semua mewakili suara dokter-dokter praktik. Prioritas mereka tentu sama sekali tidak sesuai dengan kepentingan terbesar kesehatan publik,” ujar Dennis Wahlgren dan Melbourne Hovel dalam sebuah jurnal pengendalian tembakau di musim gugur 1999.

Dari kajian itu jelas, para dokter praktik di Amerika Serikat sebenarnya lebih tertarik pada artikel-artikel yang terkait dengan praktik-praktik kedokteran aktual, daripada membaca laporan tentang iblis yang bernama tembakau. Namun, sikap dokter yang seperti itu, justru akan dicap sebagai dokter yang tidak peduli dengan kesehatan publik.

Selain itu, ternyata banyak pula dokter-dokter yang mengaku tidak nyaman jika harus mengidentifikasikan pasiennya sebagai perokok atau bukan. Menguliahi mereka tentang bahaya merokok, atau juga menawarkan produk-produk farmasi sebagai obat berhenti merokok, seperti diamanatkan oleh Clinical Guidelines. Karena, mereka khawatir hubungan dokter dengan pasien bisa runyam jika seorang dokter terus menerus menasihati semua perokok agar berhenti merokok. Kekhawatiran seperti itu jelas ada dasarnya. Karena, menurut berbagai penelitian di AS menunjukkan, “bahwa orang-orang yang mengetahui dirinya memiliki kebiasaan yang dianggap membahayakan kesehatan, seperti merokok atau minum alkohol, membatalkan janjinya ketemu dengan dokter, karena mereka tida ingin dikuliahi tentang hidup sehat.

Jadi, dengan mengubah para dokter praktik menjadi para pengomel  dan pengasong obat berhenti merokok, assosiasi-assosiasi medis besar dan komunitas pengendalian tembakau itu sebenarnya tidak hanya menghancurkan  hubungan antara dokter dan pasien, namun juga mematikan minat para pasien untuk mendapatkan perawatan medis yang diperlukan.

Kampanye anti rokok, memang sempat mempengaruhi  para dokter bedah . BAhkan, mereka sampai tidak mau menangani pasien perokok. Akibatnya, di sejumlah negara banyak para pasien yang meninggal bukan karena nikotin, tetapi karena dokter menolak menangani mereka. Dokter bedah baru akan menangani pasiennya, jika sang pasien berjanji akan menghentikan kebiasaan merokoknya.

Selama ini, masyarakat memandang organisasi-organisasi seperti American Society, American lung assoiciation dan American Heart Association merupakan organisasi murni nirlaba yang tidak dicemari oleh kepentingan lain, seperti politik dan perdagangan, kecuali berkonsentrasi pada bidang masing-masing. Sayangnya, anggapan publik ini jauh dari kenyataan. Karena, faktanya organisasi -organisasi itu justru terlibat jauh dalam kancah politik, dalam upayanya memburu dollar baik dari pemerintah maupun corporat.

Pengaruh politik organisasi-organisasi besar ini sama sekali tak terukur. Mereka memperkerjakan para pelobi profesional untuk memasukkan agenda mereka ke setiap tingkat pemerintahan. Menurut Edmund Burke, direktur center forcorporate  community relation diBostonCollege, selain urusan pajak, semua kebijakan penting dalam negeri selama 20 tahun terakhir, disusun  dan dirancang oleh kelompok-kelompok advokasi.

American Cancer Society (ACS), American Lung Association (ALA) dan American Heart Association (AHA), oleh US Internal Reveneu Services  (Departemen Pajak AS) dimasukkan ke dalam golongan organisasi nirlaba atau amal. Ini artinya, sumbangan-sumbangan yang dimasukkan ke dalam ketiga organisasi itu bisa dimasukkan ke dalam pemotongan pajak. Dengan demikian, seharusnya organisasi nirlaba seperti itu menghindari politik partisan dan aktivitas lobi mereka harus dibatasi.

Tetapi, kenyataannya tidak demikian. Mereka justru berlaku sebaliknya. Mereka melobi pemerintah dan korporat dengan gencar. Sekalipun, kadang-kadang mereka bertopeng sebagai “advokasi isu” atau “mengedukasi para legislator”. Dengan memasang iklan satu halaman penuh di mediamassa, sekaligus memaksa para legislator untuk mendukung UU anti tembakau.

Selain ACS, ALA dan AHA yang bertindak sebagai pemimpin kelompok anti tembakau federal atau tingkat negara-negara bagian, juga dibantu oleh organisasi non pemerintah (NGO) yang dibiayai oleh keuangan negara Federal dari program ASSIST milik National Cancer Institut dan Program IMPACT dari Center for Desease Control untuk membentuk dan mempertahankan koalisi anti tembakau di setiap negara bagian. Dengan demikian, NGO-NGO ini dibayar tidak hanya untuk merencanakan upaya anti tembakau namun juga dibayar untuk memperluas jaringan koalisi anti tembakau yang aktif secara politik baik di AS maupun pada tingkat lokalnya.

Selama tujuh tahun pertama, gerakan SmkoeLess States yang digagas oleh RWJF menghabiskan dana sekitar 40 juta USD. Dana sebesar itu, digunakan membiayai kebijakan maupun pendidikan yang dijalankan oleh koalisi NGO di 36 negara bagian. Gerakan ini, kemudian diperluas menjadi 50 negara bagian, dengan menyuntikkan dana tambahan 52 juta USD. SmokeLess States merupakan gerakan anti rokok yang didanai oleh RWJF dan dikelola oleh American Medical Association (AMA). AMA menerima dana hingga Jutaan Dollar dari RWJF atas keterlibatannya dalam kampanye ini.

Kemudian, dua puluh limas dari 60 hibah SmokeLess States, yang totalnya mencapai 19 juta USD memngalir ke divisi-divisi ACS. Sedangkan ALS dan AHA menerima 6 hibah, selain juga mendapatkan dana tambahan dari RWJF. Dana-dana itu, kemudian digunakan untuk menggalang kampanye Larangan Merkok, mempengaruhi kebijakan Pajak-meningkatkan Pajak Tembakau di setiap negara bagian, serta mendorong medicaid, asuransi kesehatan, pegawai negeri maupun asuransi kesehatan swasta untuk mencantumkan biaya perawatan ketergantungan terhadap tembakau.(aj-bersambung)

*Lansir dari Harian Jawa Pos – Rabu, 30 Juni 2010.

*Rehal buku: Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat/ Wanda Hamilton/ Sigit Djatmiko (penerjemah)/ INSISTPress dan Spasimedia, 2010.