Mengenang Hiburan Lokal Tempo Dulu

Mengenang Hiburan Lokal Tempo Dulu*

Buku ini dibuka dengan catatan kecil penulis mengenang ihwal betapa kaya budaya dan kesenian yang sudah ditorehkan bangsa leluhur negeri ini. Barangkali, ingatan sederhana inilah yang mendorong penulis mengumpulkan rampai sejarah hiburan dan kesenian negeri ini. Kekayaan khazanah seni bangsa ini memang menjadi harta tak ternilai.

Dimulai dari kekayaan tradisi lokal, Fandy, sang penulis, berfokus pada elaborasi kesenian kawasan daerah kelahirannya, sekitar Jabodetabek. Sisi penulisan buku tercipta sebagai kumpulan antologi esai yang dijabarkan ke dalam 5 bagian. Dalam setiap bagian dielaborasikan judul esai tentang jenis hiburan dan budaya tertentu.

Pada bagian pertama, “Panggung Sandiwara Kita”, diurai sejarah kelompok sandiwara Miss Tjitjih yang semula bernama Opera Valencia, namun diganti menisbahkan pada figur primadona yang bernama Nyi Tjitjih, seorang gadis jelita asal Sumedang, yang kemudian dipersunting pemilik Opera bernama Aboe Bakar Bafaqih, seorang keturunan Arab.

Pada awal berdirinya tahun 1928, Opera Miss Tjitjih memulai merangkai cita rasanya dengan pengabadian sandiwara Sunda, namun setelah meninggalnya sang figur Nyi Tjitjih pada usia 31 tahun, opera itu mengalami dekadensi, walaupun tetap eksis hingga sekarang, berkah dari perjuangan keras Nyi Tjitjih hingga akhir hayat.

Kemudian, juga diungkap perjalanan perkumpulan sandiwara kala itu yang tak lepas dari persaingan antarkelompok. Dalam judul “Sepenggal Kisah Miss Riboet Orion dan Dardanella” dikisahkan betapa ketat persaingan pertunjukan sandiwara tempo dulu. Pada babak ini, Fandy mencatat kedua perkumpulan sandiwara itu menjadi benih sandiwara modern Indonesia, yaitu mereka telah merombak tradisi sandiwara klasik, memetakan episode cerita yang lebih ringkas, memainkan cerita asli bukan hikayat tempo dulu (hal 8).

Ada hal menarik, titik sulut persaingan kedua sandiwara ini selain pasar, adalah adanya kesamaan nama pemain lakon utama dan primadona antara Miss Riboet Orion dan Dardanella, hingga pada akhirnya kelompok Dardanella mengalah dengan mengubah nama pemainnya tadi menjadi Miss Riboet II.

Dalam “Budaya Lokal”, Fandy bercerita tentang warna-warni tradisi dan budaya yang kian luntur dewasa ini. Semisal, Tradisi Rengkong, Seni Masyarakat Agraris. Kesenian masyarakat Sunda ini dilakonkan dengan wujud tarian kuda renggong diselingi musik angklung dan perkusi dogdog. Adapun, istilah rengkong sendiri berasal dari nama alat untuk memikul padi dari sawah ke lumbung (hal 41). Juga, sintren sebagai kesenian magis yang menyejarah. Dalam instrumentasinya, sintren terdiri dari juru kawih atau sinden, diiringi tabuhan gendang dan sejenisnya.

Adapun, unsur mistis yang disajikan adalah tatkala para sintren dengan suara merdunya memanggil bidadari, kemudian bidadari pun merasuki tubuh pesintren (kesurupan). Dalam sejarahnya, sintren menjadi alat perlawanan pada digdaya kolonialisme, juga sebagai lambang kebebasan.

Selanjutnya, gotong domba, tradisi seni Kiara Beres. Kesenian ini ditandai dengan iring-iringan dua pasang arca domba berwarna hitam dan putih yang digotong empat orang (hal 62).

Buku ini berbicara tentang keaneragaman seni dan budaya lokal kita. Dewasa ini, dengan pesatnya perkembangan zaman, hingga semakin luasnya cakupan dan dampak globalisasi, sudah menggerus keberadaan tradisi itu.

Kritik penulis adalah penggugahan kesadaran dan kepedulian masyarakat kita dalam menghidupkan kembali khazanah tradisi apik itu.

*Muhammad Bagus Irawan (pegiat Idea Studies, IAIN Walisongo). Sumber: Koran Jakarta – 05 September 2011.

*Rehal buku: Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal: Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia •Penulis: Fandy Hutari •Penerbit: INSISTPress •Edisi: I, April 2011.