Kisah Petani Garam: Tiga Nama, Tiga Nasib

Kisah Petani Garam: Tiga Nama, Tiga Nasib*

Jeneponto adalah nama yang tidak asing bagi saya. Sejak bekerja di Bulukumbatak terhitung berapa kali saya melintasi kabupaten yang terletak sekira 90an km arah selatan Makassar ini. Pun, pada tahun 2007 dan 2010 saya pernah membantu sebuah LSM lokal teman yang bergerak di Jeneponto. Pernah juga saya melakukan riset mengenai garam di daerah yang terkenal dengan Coto Kuda ini.

Tulisan ini adalah catatan saya mengenai beberapa nara sumber dalam riset garam itu. Hasil riset itu sendiri dipublikasikan dalam buku berjudul “Petambak Garam Indonesia Dalam Kepungan Kebijakan dan Modal” yang diterbitkan oleh Penerbit Ininnawa. Tinjauan singkat mengenai buku itu dapat dibaca di sini

***

Namanya Daeng Timbang, seperti orang suku Makassar lainnya, ia memperkenalkan diri dengan nama paddaengang, suku Makassar biasanya punya dua nama. Satu nama resmi yang tertera di dokumen-dokumen administratif seperti KTP, SIM dan lainnya. Satu nama lagi yaitu nama paddaengang.

Nama paddeangang ini biasanya diberikan bersamaan dengan nama resmi, namun adapula yang diberikan setelah dewasa. Di daerah perkotaan seperti Makassar orang suku Makassar dikenal dengan dua nama itu, tetapi di daerah pedesaan orang suku Makassar lebih dikenal dengan nama paddaengang-nya.

Daeng Timbang berusia 35 tahun dan telah memiliki seorang anak berusia dua tahun. Ia bekerja sebagai petani garam sejak 2003. Ia menggarap lahan delapan petak milik Haji Mansyur yang merupakan salah satu pemilik lahan garam terluas di Desa Punagaya. “Tidak kurang dari 10 hektar,” kata Daeng Timbang.

Satu petak lahan yang digarap Daeng Timbang seluas 4 X 7 meter.  Rata-rata delapan petak itu menghasilkan 40 karung sekali panen. Satu karung biasanya seberat 50kg. Garam yang diolah oleh Daeng Timbang adalah garam muda dengan masa panen 2-3 hari. Tahun 2009 ketika musim kemarau panjang, Daeng Timbang mampu menggarap lahannya hingga bulan desember.

Saat itu ia bisa memperoleh hasil sebesar 10 juta rupiah dengan harga jual Rp. 10 ribu per karung. Seingat Daeng Timbang, harga garam saat itu sempat anjlok sampai pada harga rp. 7 ribu/karung karena produksi garam sangat banyak mengingat musim kemarau yang panjang. Pada tahun 2009 itu, Daeng Timbang mampu memproduksi garam sebanyak 2000 karung lebih. Harga tertinggi pada tahun 2009 sebesar Rp20.000/karung.

Hanya saja, para petani penggarap oleh pemilik lahan tidak diperbolehkan menjual garamnya pada pedagang lain. “Pernah ada yang menjual ke orang lain, setelah itu pemilik lahan tidak memberinya lagi lahan untuk digarap,” tutur Daeng Timbang. Untuk pembagian hasil disepakati 2/3 untuk penggarap dan 1/3 untuk pemilik lahan.

Harga  garam di tingkat petani di Desa Punagaya ditentukan oleh pemilik lahan yang bertindak sebagai pedagang garam. Oleh pemilik lahan sekaligus pedagang ini, garam lalu dijual ke daerah-daerah Bugis seperti Bone dan Palopo. Garam yang dijual ke daerah-daerah itu umumnya tanpa yodium untuk konsumsi rumah tangga.

Musim kemarau basah yang berkepanjangan di tahun 2010 membuat Daeng Timbang dan petani garam lainnya di Kabupaten Jeneponto tak mampu menggarap lahannya. Untuk menyambung hidup, Daeng Timbang bekerja sebagai tukang kayu atau buruh bangunan selama tidak menggarap lahan garam.

Lahan garam di Desa Punagaya hanya dimiliki segelintir orang. Daeng Timbang menyebut beberapa nama yaitu H. Mansyur, Karaeng Timung, Karaeng Raja’ dan Karaeng Fattah yang mengelola lahan milik Karaeng Sanggu’. “Tidak lebih dari 10 orang yang punya lahan di sini” tutur Daeng Timbang.

Petani garam di Desa Punagaya lebih memilih memanen garam mereka per 2-3 hari dengan pertimbangan ekonomis yaitu hasil yang didapatkan lebih banyak. Hal yang juga diamini oleh Daeng Buang, seorang petani garam di Desa Palengu. “Beda dengan petani garam di Arungkeke yang memanen seminggu sekali, saya panen 2-3 hari karena bisa dapat lebih banyak,” tutur petani garam yang menggarap lahan garam seluas sehektar lebih.

Daeng Buang menggarap lahan garam yang terletak jalan poros Makassar–Jeneponto tepat depan SPBU Kilometer 67 di Kecamatan Bangkala. Kawasan tempat Daeng Buang ini dikenal sebagai paccelang’ (mks. penggaraman) yang terbentang dari Desa Bontorannu hingga Desa Palengu. Di kawasan ini para penjual garam eceran menggelar dagangannya sepanjang jalan.

Berbeda dengan Daeng Timbang yang hanya petani penggarap, Daeng Buang menggarap lahan orang lain yang digadaikan padanya. “Lahan ini di-pattagallang sama yang punya 15 juta,” ungkap Daeng Buang. Dalam bahasa Makassar pattagallang secara harfiah berarti ‘sesuatu yang dipegang’. Pemilik lahan meminjam uang sebesar Rp15 juta pada Daeng Buang, sebagai imbalannya Daeng Buang akan memiliki dan memanfaatkan lahan itu selama tiga tahun.  

Seperti halnya petani lain di Kabupaten Jeneponto, pada tahun 2010 Daeng Buang juga tidak mengolah lahan garam disebabkan hujan yang berkepanjangan. Beruntung Daeng Buang masih menyimpan garam produksi tahun sebelumnya. Garam itu disimpan di dalam tiga gudang sederhana beratap dan berdinding rumbia dan dijual eceran di pinggir jalan. Satu gudang mampu menampung 1000 karung. Namun di dalam gudang itu garam masih berbentuk timbunan, tidak dalam karung.

Harga jual garamnya bervariasi berdasarkan besaran karung. Di sore 24 November 2010 lalu, karung terbesar yang berkisar 50 kg dijual seharga 50 ribu, karung yang memuat setengah dari karung terbesar dijual seharga 30 ribu, garam karung sebesar seperempat karung terbesar dihargai 20 ribu dan yang terkecil seharga lima ribu.  Selain menjual eceran, Daeng Buang juga menjual ke pedagang. Pada bulan Oktober 2010 ia menjual garam sebanyak satu gudang sebesar 30 juta. Kini, ia masih menahan garamnya untuk dijual karena menunggu harga naik lagi meski seorang pedagang menawar garamnya sejumlah 45 juta untuk satu gudang. “Siapa tahu nanti naik sampai Rp100 ribu/karung,” harapnya.

Nasib lebih baik dialami oleh Basri Daeng Bani. Ia menangguk untung lumayan dari musim kemarau basah tahun ini. Lelaki berusia 40-an tahun ini mengaku memiliki dan menggarap sendiri lahan seluas satu hektar. Lahan itu diperoleh dari kakeknya, H. Mannarima’ Daeng Nai’ yang juga petani garam. “Sudah tua mi, jadi dia kasi ka’ satu hektar di sini karena tidak bisa mi pulang pergi dari sini ke Palengu,” tutur Daeng Bani. Kini sang kakek hanya menggarap lahannya di Palengu.

Daeng Bani juga menyebut bahwa ayahnya naik haji dengan menjual garam pada tahun 1998. Menurut perkiraan lelaki berpostur kecil itu, ayahnya hanya menjual 200 karung garam untuk naik haji di tahun berikutnya.

Daeng Bani mulai menggarap lahan garamnya sejak tahun 1982. Hingga kini pola penggaramannya masih dengan cara tradisional yaitu dengan memadatkan tanah dengan cara menumbuknya. Proses penumbukan ini membutuhkan waktu satu bulan agar benar-benar padat. “Semakin padat semakin bagus agar air garam tidak terserap ke dalam tanah,” tutur lelaki yang memiliki dua putra ini.

Setelah pemadatan tanah, proses selanjutnya adalah mengalirkan air laut ke dalam sepetak lahan yang difungsikan sebagai penampung pertama. Cara mengalirkan air laut ini memakai kincir angin atau mesin. Air yang masuk penampungan didiamkan selama tiga hari. Setelah mendiamkan di sana, air asin itu dialirkan lagi ke sebuah petak penampungan kedua yang bersampingan dengan petak-petak pengeringan air laut.

Di dalam petak itu, air didiamkan lagi selama dua hari. Setelah dua hari kemudian air di petak-petak penggaraman. Air yang ditampung ke petak lahan penggaraman setinggi dua garis tangan. “Dikasi tinggi ki pak, ka biasa ada yang tertiup angin atau menguap,” ungkap Daeng Bolla istri Daeng Bani yang turut membantu suaminya menggarap lahan. Daeng Bani pernah mendapatkan bantuan sebuah kincir angin dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jeneponto pada tahun 2008. Empat bulan kemudian bantuan mesin pompa air menyusul. Mereknya Honda.

Selain bantuan berupa alat, Daeng Bani juga pernah mendapat pelatihan dua kali. Pelatihan pertama diadakan di Hotel Bintang Karaeng pada tahun 2006 oleh Pemerintah Kabupaten Jeneponto. Tahun berikutnya, Daeng Bani kembali mendapat pelatihan di Makassar yang diadakan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan. “Materi pelatihannya bagaimana cara membuat garam. Sama ji dengan yang biasa kita lakukan,” ungkap Daeng Bani.

Daeng Bani ketika itu baru tiba dari Makassar ketika kami melakukan wawancara dengan istrinya. Ia baru saja membeli motor baru merek Suzuki seharga 19 juta lebih. Motor itu, menurut pengakuan Daeng Bani, merupakan hasil penjualan garamnya.

Selain menggarap lahannya sendiri, Daeng Bani juga membeli garam dari petani sekitarnya lalu menjualnya kemudian ke Karaeng Timung. Di tingkat petani ia membeli garam seharga 60 – 65 ribu per karung lalu dijual ke Karaeng Timung seharga Rp75 ribu per karung. Karaeng Timung, melalui Koperasi Halimun Jaya, kemudian menjualnya ke PT. Ekasari Lestari di Makassar. Perusahaan inilah yang mengolah garam menjadi garam halus beryodium.

Daeng Bolla masih mengingat perubahan harga garam yang terjadi sejak bulan Ramadan 2010. Pada bulan itu harga masih berkisar Rp15 ribu per karung, lalu naik menjadi Rp20 ribu per karung menjelang lebaran Idul Fitri. Harga garam kemudian menanjak perlahan menjadi 25 ribu per karung, lalu 30 ribu per karung hingga mencapai 70 ribu per karung pada bulan November 2010. “Biasanya naiknya per 10 hari,” kata Daeng Bolla.

Tidak kurang 300-an karung garam masih tersimpan di gudang yang ada bawah rumahnya. Empat ratus karung lainnya sudah Daeng Bani amankan di gudang milik Karaeng Timung lantaran air merembes dari lahan persawahan di seberang jalan depan rumahnya. Karung-karung garam diletakkan beralas tanah. “Orang bilang, kalau pakai papan biasanya garam mencair,” katanya.

Di dalam gudang Karaeng Timung yang terletak di Desa Allu—kawasan perbatasan perbatasan Jeneponto Takalar, garam-garamnya disimpan dengan cara menghamparnya, tidak terbungkus karung. Menurut Daeng Bani, gudang Karaeng Timung sangat besar. Lelaki berkumis tebal itu mengatakan di gudang Karaeng Timung ‘sebuah truk bisa memutar’, menggambarkan besarnya gudang tersebut.  Karaeng Timung memiliki dua gudang penggaraman seluas itu.

Awalnya, Daeng Bolla selalu menyebut kalau karung-karung itu diamankan ke gudang milik omnya, Karaeng Timung. Belakangan, istri Daeng Bani itu menyebut mereka tidak memiliki hubungan keluarga. Panggilan itu tampaknya karena hubungan bisnis yang sudah lama terjalin di antara mereka.

Daeng Bani mengatakan, harga pada tahun 1998 bisa setinggi itu disebabkan oleh mesin pengering di Madura tidak berfungsi sehingga produksi garam di Madura menurun. “Saya dengar-dengar mati lampu ki’ di sana selama dua bulan,” tambahnya.

Hingga kini Daeng Bani masih menyimpan sekira 700 karung produksi tahun 2009 dan belum mau menjualnya. Daeng Bani dan istrinya percaya harga garam akan semakin naik seperti harga yang berlaku pada tahun 1998. Selain ketiadaan produksi pada tahun 2010, Daeng Bolla juga mengaku pernah diberitahu oleh seorang lelaki tua berjanggut putih yang datang ke tokonya. Saat itu Daeng Bolla memberi lelaki tua itu segelas air putih, roti dan sebatang rokok. Setelah mengucapkan terimakasih, lelaki tua itu mengatakan pada Daeng Bolla bahwa harga garam akan melonjak tinggi. “lelaki tua itu langsung pergi setelah kasi tau kalo harga garam akan naik tinggi,”ungkap Dg. Bolla yang percaya lelaki itu perwujudan wali.

Selama musim hujan berkepanjangan di tahun 2010, Daeng Bani mengubah lahannya menjadi empang ikan bandeng dan udang. Namun, hasilnya tak sebagus dibanding berdagang garam, “Hasil empang ini hanya cukup untuk kasi makan tamu-tamu yang datang,” tambahnya.

Selain mengolah empang, Daeng Bani ini juga berdagang udang, ikan dan kayu. Sementara Daeng Bolla yang dinikahinya pada tahun 1993 lalu membantu perekonomian keluarganya dengan berjualan barang campuran.[]

*Sumber: lelakibugis.net – 1 November 2011.

*Rehal buku: Petambak Garam Indonesia dalam Kepungan Kebijakan dan Modal/ Anwar J. Rachman (ed.)/ ININNAWA, Indonesia Berdikari, & INFID,  2011.