Ironi di Negeri Sawit

Ironi di Negeri Sawit*

Indonesia tampil sebagai negara penghasil sawit nomor satu di dunia pada 2010, satu abad setelah sawit dibudidayakan secara komersial pada 1911. Dengan produksi 22 juta ton minyak sawit mentah, Indonesia berhasil menggeser posisi Malaysia sebagai raja sawit. Ironisnya, pengelolaan komoditas ini belum memakmurkan buruh perkebunan, bahkan memunculkan konflik agraria.

Para pekerja kebun sawit di Indonesia wajar iri bila menengok kondisi buruh sawit di negara tetangga. Di Malaysia, ada deviden dari perusahaan untuk pekerja dan masyarakat. Upah yang di berikan juga relatif lebih besar dibandingkan dengan upah pekerja sawit di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang hanya Rp.39.000.- per hari. Bahkan, buruh berusia tua tetap digaji dan diberi asuransi 150 ringit per bulan. Kondisi bertolak belakang yang terjadi di Indonesia ini antara lain disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang cenderung berpihak kepada pemodal. Sengketa lahan adalah contoh hak dan suara masyarakat adat yang dikesampingkan. Protes yang dilayangkan penduduk kerap ditanggapi dengan pendekatan keamanan melalui pengerahan polisi dan tentara.

Sejarah sawit di Indonesia sendiri dimulai pada 1869 saat Maskapai Dagang Belanda (VOC) mendatangkan kelapa sawit dari Mauritania, Afrika. Melalui sistem tanam paksa, pemerintah kolonial membudidayakan sawit hingga menjadi ekspotir minyak sawit mentah terbesar dunia. Antara 1960-1980, kebun sawit paling banyak dikelola BUMN. Kini dari 7,8 juta hektar luas kebun sawit nasional 3,9 juta hektar (50 persen) dikuasai perusahaan swasta. Urutan kedua di tempati kebun rakyat yang menguasai 3,3 juta hektar (42 persen), sedangkan BUMN hanya memiliki 8 persen. (TGH/LITBANG KOMPAS)

*Sumber: Harian KOMPAS – edisi Minggu, 8 Juli 2012, hal. 22. | Kliping oleh: Pustaka Sempu.

*Rehal buku: Raja Limbung. Seabad Perjalanan Sawit Di Indonesia/ Mardiyah Chamim, Dwi Setyo Irawanto (penyunting)/ Sawit Wacth Indonesia, Tempo Institute, INSISTPress, dan Aliansi Desa Sejahtera, 2012.