Reverse Anthropology dalam ‘Korporasi & Politik Perampasan Tanah’

Reverse Anthropology dalam ‘Korporasi & Politik Perampasan Tanah’ (*)

“Kami juga mau kami punya hidup maju. Tapi kalau hutan ditebang habis, baru kasuari, buaya, ke mana?” (Savitri 2013: 20)

Kegelisahan tetua di kampung Domande, yang dicatat oleh Laksmi A. Savitri dalam bukunya berjudul Korporasi & Politik Perampasan Tanahitulah yang mengantar imaji saya masuk ke dalam dunia Marind Anim saat ini. Dunia di mana sebagian besar tanah tidak lagi dapat diakses oleh orang Marind Anim, melainkan milik tuan-tuan asing yang konon berjanji akan “memberadabkan” manusia Marind melalui jalan pembangunan dan kemajuan. Dengan dalil pemenuhan pangan dan energi global, masuknya MIFEE ke Merauke telah merampas tanah melalui berbagai pendekatan (dari rayuan tali asih hingga ancaman suanggi); menyudutkan posisi orang Marind Anim untuk melepaskannya demi mimpi-mimpi pembangunan.

Gelombang pembangunan yang dibawa MIFEE sebenarnya bukan yang pertama kali dirasakan oleh manusia Marind di Merauke. Tuan-tuan asing yang membawa iming-iming kemajuan pertama kali datang lewat wajah para misionaris pada satu abad yang lalu. Setelah itu berturut-turut masuk dibawa oleh Pemerintah Indonesia lewat program transmigrasi dan program pembangunan lainnya. Namun, gelombang MIFEE merupakan gelombang terakhir (paling tidak untuk hari ini) sekaligus terhebat yang pernah dirasakan oleh manusia Marind. Ratusan ribu hektare tanah Marind “dipisahkan” dari tangan-tangan Marind untuk dikelola oleh 46 perusahaan yang konon demi memenuhi kebutuhan pangan global. Pertanyaannya kemudian, apa yang terjadi pada manusia Marind?

Sebagai sebuah kajian ekonomi-politik, etnografi Savitri begitu tajam menunjukkan kepada para pembacanya bagaimana perampasan tanah yang dilakukan oleh MIFEE mengakibatkan pemiskinan dan konflik sosial di antara orang Marind sendiri. Sebagai sebuah tulisan etnografi, buku ini mampu menghadirkan cara pandang manusia Marind atas segala kejadian yang dialaminya. Hal ini mengingatkan dengan apa yang disebut sebagai reverse anthropology. Reverse anthropologysebagai sebuah metodologi yang merupakan “kebalikan” dari umumnya cara para antropolog menulis etnografi, pertama kali diperkenalkan oleh Roy Wagner (dalam Kirsch 2006) dalam catatan etnografinya mengenai cargo cults di masyarakat Melanesia, kemudian dikembangkan lagi oleh Stuart Kirsch (2006) dalam karya etnografi mengenai masyarakat Yonggom di Papua New Guinea.

Kirsch menceritakan pengalaman orang Yonggom di Papua yang mengalami penderitaan karena kehadiran perusahaan tambang Ok Tedi. Kehadiran perusahaan tambang tersebut mengakibatkan kerusakan hutan milik orang Yonggom, sekaligus mencemari Sungai Ok Tedi dan Sungai Fly, di mana keduanya merupakan sumber air bagi orang Yonggom. Kejadian-kejadian terkait dengan pengrusakan yang dilakukan oleh perusahaan Ok Tedi dianalisis oleh orang Yonggom dengan tautan pada kepercayaan (beliefs) dan praktik kehidupan mereka.

Oleh Kirsch, analisis orang Yonggom dalam melihat ancaman perusahan tambang ini disebut sebagai indegenous analysis. Menurut Kirsch, pengetahuan yang didorong dari indegenous analysis ini dapat membuka jalan bagi masyarakat setempat untuk melakukan perlawanan atas apa yang mengancam kehidupan mereka. Di sini, posisi reverse terjadi dalam catatan etnografi. Sebuah kejadian bukan lagi dianalisis oleh sang etnografer, melainkan subjek penelitian menganalisis sendiri apa yang mereka alami.

Itu yang dilakukan oleh Savitri di dalam bukunya. Ia menampilkan cara berpikir manusia Marind dalam melihat kejadian-kejadian yang menyebabkan perubahan bagi mereka dan alam mereka. Savitri mengangkat cara pandang manusia Marind atas diri dan relasinya dengan tanah. Bagi orang Marind, tanah bukanlah komoditas yang dapat diperjualbelikan. Tanah merupakan ruang hidup orang Marind bersama-sama dengan kasuari, buaya, segala binatang, benda, tumbuhan, dan berbagai peristawa alam. Ruang di mana manusia Marind dan berbagai mahkluk hidup saling menghidupkan dan dihidupkan. Segala unsur, mahkluk, dan peristiwa ini saling terhubung dalam kosmologi Marind dan terwujud dalam totem dan dipraktikkan sebagai sebuah mekanisme timbal balik dengan alam yang setara. Mengutip paparan P. John Mitakda, MSC, bagi manusia Marind, tanah “menempati poros utama dalam pandangan kaum …. Segala sesuatu yang ditemukan dalam tata yang kelihatan dan tak kelihatan berporos pada tanah” (2013, dengan penekanan dari saya). Sehingga, ketika tanah sebagai ruang hidup Marind dirampas, mereka bukan sekadar kehilangan tempat menanam ubi atau pun sagu, melainkan juga kehilangan “ke-Marind-an”, identitasnya. Perampasan tanah, bagi manusia Marind, adalah perampasan aspek-aspek manusia sejati (Anim-Ha) dalam diri mereka. Refleksi inilah yang muncul pada diri Marind hari ini: “Apakah saya masih Sang Anim-Ha ketika semua kepercayaan yang menyusun diri Anim-Ha diruntuhkan?”

Bagaimana pun, etnografi Savitri memiliki kekhasan sendiri, yang membedakannya dengan Kirsch. Savitri tidak hanya menyajikan analisis manusia Marind, tetapi ia justru dengan lugas menunjukan kelindan analisis manusia Marind terhadap kejadian yang mereka alami dengan analisis miliknya sendiri. Masuknya MIFEE yang mencerabut kemanusiaan milik orang Marind membuat Marind menjadi apa yang disebut Savitri sebagai “Sang Liyan, di Tanah Air sendiri” (hal. 25). Perubahan penggunaan lahan menyebabkan manusia Marind yang tinggal di “kota yang sudah terbangun” hanya dapat masuk sebagai “warga kota” dalam kegelapan. Mereka menjadi pengemis di negeri sendiri. Sebuah gangguan bagi masyarakat pendatang. Manusia Marind tidak dapat turut menikmati kemajuan fisik dan ekonomi yang dirasakan oleh para pendatang. Pesoalannya sederhana, mereka dengan sengaja disingkirkan dari tanahnya atas nama ijazah dan segala rupa legalitas sehingga tidak memungkinkan manusia Marind dapat turut menikmati “kemajuan”.

Justru pada kelindan inilah, sebagai pembaca yang terajak ke dalam pengalaman-pengalaman tersebut, saya menjadi turut gelisah pada persoalan perampasan tanah yang tidak hanya terjadi pada Marind, tetapi juga di berbagai masyarakat di negara-negara berkembang. Pada titik ini, bagi saya, Savitri berhasil untuk menunjukkan bahwa sebuah teks etnografi bukan sekadar catatan etnografi yang dibuat untuk memuaskan keinginan etnografer sendiri, melainkan juga sebagai sebuah upaya untuk mengetuk rasa kemanusiaan para pembacanya.

Daftar Pustaka

  • Kirsch, Stuart. 2006. Reverse Anthropology: Indigenous Analysis of Social and Environmental Relations in New Guinea. California: Stanford University Press.
  • Mitakda, John P. 2013. “Pandangan Melanesia tentang Hutan dan Tanah: Upaya Kita Berdialog dengan Budaya Marind Anim.” Makalah pada kuliah terbuka Jurusan Antropologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 21 November 2013.
  • Savitri, Laksmi A. 2013. Korporasi & Politik Perampasan Tanah. Yogyakarta: INSISTPress.

*Des Christy | Makalah ditulis sebagai bahan  Diskusi dan Bedah buku “Korporasi & Politik Perampasan Tanah”  di Magister Adminitrasi Publik, Fisipol, UGM. Senin, 25 November 2013.

*Rehal buku: Korporasi & Politik Perampasan Tanah/ Laksmi A. Savitri/ INSISTPress/ Edisi: I, Oktober 2013.