Jebakan-Jebakan Reformis dan Revisionis

Jebakan-Jebakan Reformis dan Revisionis*

“Seribu satu reform tidak akan menghasilkan perubahan yang mendasar bagi rakyat.”

TATIANA Lukman, anak seorang Menteri Komunis yang hidup sederhana. Sebagai eksil sejak 1965, dia terpaksa meninggalkan kehidupannya di Indonesia dan berpindah-pindah tempat tinggal, dari Tiongkok, Kuba, Perancis hingga akhirnya menetap di Belanda. Dari pengalaman pelarian ini dia mendapatkan praktik-praktik yang penyesatan pemikiran Marxis-Leninisme yang dilakukan kelompok neokolonialisme dan neoimperialisme (nekolim) melalui propaganda anti-komunis yang menyesatkan. Panta Rhei, buku yang Tatiana tulis mengangkat beberapa kasus praktik nekolim untuk menghancurkan komunis yang terhimpun di dalam Komintern Internationale di beberapa tempat di dunia seperti di Rusia, Tiongkok, dan Indonesia yang menjadi poros komunisme dunia.

Tatiana merupakan anak dari M.H. Lukman, Menteri dari Partai Komunis yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua DPR Gotong Royong (DPR-GR) setelah Pemilu yang dianggap paling demokratis di Indonesia pada 1955. Berbeda dari kehidupan keluarga pejabat pada umumnya, Tatiana menceritakan bagaimana kesederhanaan hidup yang diterapkan Lukman terhadap keluarganya. Bahkan untuk makan mie bakso, anak seorang menteri hanya pernah sekali mencicipinya. Dengan tegas Lukman memperingatkan pada anak dan istrinya bahwa fasilitas negara yang ada di rumah, semua milik rakyat. Suatu saat mereka harus angkat kaki dari rumah, maka yang boleh dibawa hanya pakaian yang ada di badan saja, semua harus ditinggalkan.

Berbekal penasaran dan kerinduan, penulis mulai menelusuri silsilah keluarga dan mengumpulkan informasi yang mengantarkanya pada rahasia besar tentang Kadirun (kakek penulis) sebagai seorang komunis. Kadirun yang harusnya menjadi pahlawan revolusioner karena turut berjuang melawan Pemerintahan Kolonial Belanda pada November 1926. Namun yang didapat Kadirun dan keluarga adalah pembuangan di Digul dan selanjutnya pada 1943 dipindahkan ke Cowra Australia bersama tahanan Perang Dunia II asal Jepang dan Italia.

Catatan Hidup Kakek

BERAWAL dari catatan hidup Kadirun, Tatiana mulai mendapat jawaban mengapa selama ini dia harus meninggalkan tanah air dan keluarganya selama bertahun-tahun. Bahkan hingga saat ini tidak ada petunjuk keberadaan ayahnya semenjak kudeta berdarah Soeharto (1965-1966) yang memakan korban ribuan orang komunis dan yang dituduh sebagai komunis. Keluarga yang tersisa sengaja menutup-nutupi keterlibatan Kadirun sebagai pengikut setia SI Merah/PKI.

Setelah mengetahui kebenaran tentang kehidupan Kakeknya, bukannya malu, Tatiana justeru bangga menjadi cucu Kadirun. Kakek yang dia banggakan sebagai pejuang revolusi 1926, pemberontakan pertama yang dilakukan PKI melawan penghisapan pemerintah kolonial Belanda. Perjuangan yang mengantarkan Kadirun ke pembuangan di Digul bersama istri dan tiga orang anaknya.

Berselang sebulan setelah dipindahkan di Cowra, istri Kadirun, Salamah, meninggal dunia karena sakit. Dari sinilah Tatiana memulai perjalanan menuju Australia untuk menemukan makam Salamah. Makam leluhurnya yang secara samar pernah dia ingat dari cerita ayahnya yang hilang.

Menolak Penokohan Tan Malaka Kontribusinya Terhadap Perkembangan PKI

TAN MALAKA sebagai salah satu tokoh dalam tubuh PKI tentu sudah menjadi pengetahuan umum. Bahkan Harry Poeze menjadikan Tan sebagai objek penelitian seumur hidupnya. Namun bagi Tatiana, Tan dianggap sebagai kelompok kontra revolusioner yang mengaburkan ajaran komunisme melalui pandangan reformis dan revisionisnya.

Lebih lanjut Tatiana melihat istilah “kiri” telah menjadi sangat kompleks dan elastis sehingga dapat ditarik sepanjang-panjangnya. Dalam sebuah ceramah di Leiden pada 2014 tentang buku, Poeze yang sedari awal menganggp dirinya sebagai orang “kiri” yang kemudian menambahkan lagi kata sifat “moderat”. Maka tidak heran ketika Tony Blair, pimpinan partai-partai dan pemimpin sosial demokrat memasukkan diri mereka dalam kategori orang “kiri”. Padahal yang terjadi adalah pengaburan paham komunisme seperti yang diajarkan Marx dan Lenin. Mereka inilah kelompok revisionis dan reformis yang menjadi kaki tangan nekolim untuk menangkal perkembangan komunisme dunia.

Ilmuwan di Indonesia juga tidak kalah menarik untuk dibahas dalam buku ini, khususnya peran mereka dalam penokohan Tan Malaka. Sejarawan seperti Asvi Warman Adam1, dan ilmuwan Eddy Widjanarko2; berpendapat bahwa seharusnya Tan Malaka diterima rezim Orde Baru. Menurut Tatiana, Tan Malaka adalah orang yang berbalik melawan PKI dengan mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) pada 2 Juni 1927.

Tatiana tidak menolak peryataan bahwa Tan Malaka bukan sepenuhnya orang komunis, itulah kebenarannya. Apalagi setelah dia menarasikan dengan gamblang awal keterlibatan Tan Malaka dengan PKI melalui perkenalannya dengan Semaun di Semarang. Tan Malaka menjabat sebagai ketua PKI selama enam bulan setelah perkenalannya dengan organisasi progressif ini, itupun hanya enam bulan saja sebelum akhirnya berbalik menentang PKI. Jadi hanya satu tahun saja keterlibatan Tan di dalam tubuh PKI.

Tatiana dengan tegas menyatakan tidak benar bila Tan Malaka-lah yang menjadikan PKI bisa melebarkan sayap organisasinya hingga dapat merangkul kelompok Islam dan Nasionalis—sebagaimana yang dijelaskan oleh ilmuwan di atas. Waktu 1 tahun tidaklah rasional untuk mengkonsolidasikan kelompok-kelompok ideologis yang dimaksud, apalagi dengan dinamika sosial politik yang rumit saat itu.

Bukan hanya terjadi di Indonesia, penyimpangan ajaran komunisme dilakukan juga terjadi di Tiongkok sepeninggalan Mao Tse-tung. Di pemerintahan Deng Xiao-ping, Tiongkok keluar haluan dari cita-cita komunisme bahkan bertolak belakang dari apa yang Mao cita-citakan. Pertumbuhan ekonomi yang ditafsirkan Xiao-ping sebagai “Sosialisme Berkepribadian Tiongkok” faktanya dibangun di atas penghisapan kelas pekerja perkotaan dan pemiskinan buruh tani di desa.

Tatiana yang pernah tinggal di Tiongkok, dalam hal ini pernah melakukan pengamatan etnografi terhadap kehidupan langsung masyarakat di sana. Semakin timpangnya kehidupan ekonomi di mana hanya 1% saja orang kaya baru yang memonopoli ekonomi di Tiongkok. Belum lagi sektor pendidikan, kesehatan dan ketenaga-kerjaan yang semakin menyengsarakan rakyat. Sama sekali jauh dari apa yang diajarkan oleh komunisme yang ingin menghapuskan kelas dimana dalam masyarakat tidak ada lagi manusia yang melakukan penghisapan terhadap manusia.

Sejarah Keluarga Untuk Merekam Sejarah Dunia

Sejarah masa Orde Baru  telah menjadi sejarah milik penguasa yang dituliskan untuk mengontrol dan mempertahankan kekuasaan. Sejarah di Indonesia masa itu masih didominasi oleh sejarah-sejarah versi penguasa yang menceritakan kebesaran pimpinan perang, borjuis terkenal dan aktor-aktor penting sejarah penguasa. Hal ini kemudian menyingkirkan sejarah yang ada pada kehidupan orang-orang biasa seperti petani, buruh, pekerja pabrik dan orang-orang biasa lainnya. Padahal sejarah orang biasa ini bisa melahirkan sejarah tandingan. Kisah hidup yang bisa mengantarkan kita pada diskursus sejarah dan membuka tirai kebenaran sejarah dalam versi yang lain.

Meminjam kalimat Bambang Purwanto3, “sejarah bangsa ini, selain ditulis oleh dominasi laki-laki, juga militer.” Kalimat ini bisa mewakili gambaran bagaimana sejarah ditulis dan dikontrol oleh penguasa. Penguasa yang menentukan siapa yang boleh atau pantas untuk dituliskan dalam sejarah, baik peristiwa, aktor maupun ideologi  yang menjadi pondasi sejarah tersebut. Demikian pula dengan peristiwanya, harus luar biasa seperti perang, kudeta berdarah, Pemilu, dan peristiwa sosial politik lainnya. Peristiwa itu pun harus berhubungan dengan tokoh-tokoh nasional, para jenderal dan tokoh-tokoh besar lainnya yang mampu menyokong dominasi kuasa. Sejarah tidak untuk merekam hidup orang-orang biasa! Sejarah selanjutnya dibingkai  dalam sebuah nilai untuk menanamkan kepercayaan mendalam agar seluruh pembacanya patuh pada pembuat sejarah, rezim penguasa.

Tatiana setidaknya telah menyumbangkan kisah sederhana keluarganya untuk merekonstruksi sejarah PKI di Indonesia dari sudut pandang lain. Dengan mengumpulkan catatan yang keluarganya miliki, ditambah dengan beberapa referensi yang ia temukan selama masa pelarian telah membuka tirai kebohongan sejarah Orde Baru.

Buku ini penting menjadi salah satu rujukan bagi sejarawan yang ingin mengorek lebih dalam dinamika dan perkembangan paham komunisme di Indonesia dan sumbangan besar PKI dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari pemerintah Kolonial Belanda.****

Zulhasril Nasir, Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia, Malaysia, dan Singapura: Penerbit Ombak, 2007__dalam pengantar “Apakah Tan Malaka Tokoh Minangkabau?”

Eddy Widjanarko, Penyidikan Tindak Pidana Di Kalangan Militer: Studi Terhadap Peran POM AD Dalam Penyelidikan Tindak Pidana di Kalangan TNI AD, Studi Kasus di DEN POM AD Kota Surakarta: Skripsi FH Universitah Muhammadiyah Surakarta, 2009

Bambang PurwantoGagalnya Historiografi Indonesiasentris?: Penerbit Ombak, 2006.


*Oleh: Agung Prabowo, peneliti dan pegiat AcSI Makassar. Sumber tulisan: agpketan.wordpress.com  – 15 April 2015, disunting dan dirilis ulang)

*Rehal buku: Panta Rhei: Tidak Ada Pengorbanan Yang Sia-Sia. Air Sungai Digul Mengalir Terus!/ Tatiana Lukman/ Pustaka Sempu, 2014.