Teologi Pembebasan, Titik Balik Agama

Teologi Pembebasan, Titik Balik Agama*

Leonardo Boff menjelaskan bahwa teologi pembebasan adalah pantulan pemikiran, sekaligus cerminan dari keadaan yang nyata, suatu praksis yang sudah ada sebelumnya. Pada tahun 1960-an suatu gerakan sosial, gerakan pembebasan berbasis teologis yang amat luas muncul. Gerakan ini melibatkan sektor-sektor penting dari gereja, pastor yang merakyat, dan kelompok masyarakat gereja.

Melihat gerakan pembebasan teologis yang dilakukan pada tahun 1960-an tersebut, tentu mengingatkan kita pada saripati konsepsi marxisme, “Agama adalah candu masyarakat.” Benarkah agama itu memang “candu” bagi kehidupan? Lalu, jika mengacu pada gerakan di atas apakah konsepsi marxisme ini masih relevan? Bagaimana dengan pertentangan antara materialisme dan idealisme melihat hal ini? Lantas bagaimana teologi pembebasan jika di kontekskan dengan islam dan kehidupan umat muslim yang ada?

Minggu, 26 September 2015 lalu, Himmah mengangkat materi teologi pembebasan dalam diskusi mingguannya, Himmah Berbicara, dengan referensi buku Teologi Pembebasan karya Michael Lowy. Pemantik diskusi kali ini, Arieo Prakoso mengawali diskusi dengan memaparkan pertentangan yang terjadi antara paham materialisme dan idealisme. Ia menjelaskan bahwa paham materialisme yang di usung oleh Karl Marx muncul dalam kultur masyarakat kristen konservatif. “Pada saat itu kristen dijadikan alat oleh penguasa untuk mengendalikan masyarakat,” papar Arieo yang juga staf Pengembangan Sumber Daya Manusia Himmah.

Arieo menjelaskan bahwa Marx memandang paham idealisme yang dibawa oleh agama Kristen pada saat itu malah membuat masyarakat yang ada menjadi berpikir dengan logika magis. Agama justru hanya dijadikan tempat pelarian. Hal ini lah yang ditentang paham materialisme. Paham idealisme pun sebaliknya, menganggap bahwa materialisme yang dibawa Marx telah menodai agama itu sendiri, karena materialisme hanya menyangkut hal-hal keduniaan.

Terkait pemahaman materialisme dan idealisme sendiri, Nurcholis Ainul R. T., Staf Jaringan Kerja Himmah, bertanya terkait pendefinisian materialisme dan idealisme itu sendiri. “Yang aku tahu idealisme dan materialisme, beda sama filsafat materialisme dan filsafat idealisme. Filsafat idealisme itu dibawa oleh Plato. Filsafat idealisme memandang bahwa segala hal yang ada di dunia itu muncul dari individu-individu yang ada. Sedangkan filsafat materialisme sebaliknya. Artinya apa-apa yang ada di dalam pikiran individu tersebut adalah buah interaksinya dengan dunia luar. Nah ini seperti apa?” tutur Cholis.

Robby Sanjaya, salah satu peserta diskusi yang juga alumni Himmah mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Robby sepakat dengan pemahaman bahwa materialisme sendiri sebenarnya adalah konsepnya, bukan orang yang matre. Menurutnya materialisme itu membicarakan perihal kebendaan. Robby yang mengambil pemahaman terkait materialisme dari Madilog ini mengatakan, “Materialisme mengatakan bahwa Indonesia saat itu terperangkap dalam logika mistis. Hal itu pula yang membuat Indonesia dijajah dalam waktu yang sangat lama,” papar Robby.

Robby kembali memaparkan bahwa dengan materialisme Tan Malaka mencoba mengajak bangsa Indonesia untuk fokus terhadap segala hal yang memang benar-benar ada dan tidak terjebak dalam hal-hal gaib. “Contohnya itu mungkin kalo kita pergi kuliah. Dari kos ke kampus. Terus di jalan kita beli bensin. Nah, tapi pas sampai kampus dosennya gak ada. Nah dari studi kasus ini, dari situ kadang kita menganggap itu hal yang sia-sia. Padahal sebenarnya tidak. Kita sebenarnya sudah menguntungkan penjual bensin loh,” terang Robby lagi.

Mengomentari pemaparan Robby, Arieo mengatakan bahwa hal tersebut, logika mistis yang menjangkiti bangsa Indonesia menjadi kritik tersendiri. “Dalam konteks keagamaan, kehidupan itu sudah dirumuskan, ketika hidup kemana, ketika mati kemana. Tapi disisi lain, orang yang mengatasnamakan dirinya komunis, sebagai ateis. Mereka mencoba merumuskan keadaan sosial masyarakatnya. Bagaimana mereka mencoba mengkontekskan surga dengan kehidupan. Kehidupan yang aman, kehidupan yang adil. Itu sih yang jadi masalah, dalam konteks kekinian bahwasannya banyak para pemeluk agama itu hanya mengharapkan surga di akhirat tapi lupa untuk mewujudkan ‘surga’ di dunia,” terang Arieo. Menurutnya, ini salah satu penyebab latennya penindasan yang terjadi di muka bumi. Yang dilakukan para pemeluk agama cuman terima-terima saja. Padahal konteks keimanan itu tidak hanya membahas hal-hal ritualistis. Agama juga menjadi penggerak bagi pemeluknya untuk melakukan gerakan revolusioner. Gerakan yang akhirnya menginspirasi para kaum agamis untuk memperbaiki tatanan sosial yang ada.

Agama sebagai gerakan revolusioner, Arieo melanjutkan, pada dasarnya juga sudah disadari oleh Friedrich Engels. Dalam konteks agama Kristen, Engels menyadari bahwa ada dua buah sisi dari agama. Satu sisi agama menjadi tempat bagi orang-orang kristen konservatif. Yaitu pemeluk agama Kristen yang dekat dengan kaum kapitalis dan borjuis, karena kebanyakan penganut Kristen konservatif adalah orang-orang yang mapan, bukan dari kalangan tertindas. Wajah satunya lagi adalah Kristen revolusioner. Gerakan kristen revolusioner ini hadir saat masyarakat tertindas menyadari bahwa mereka harus memperjuangkan hak-haknya. Berangkat dari kasus tersebut, Arieo memandang bahwa teologi pembebasan artinya menyatukan pandangan antara iman dan materialisme. Bersatu melawan segala bentuk penindasan.

Nurcholis Ma’arif, staf Penelitian dan Pustaka Himmah pun sependapat dengan Arieo. Ia berpendapat bahwa pembebasan dapat berangkat dari dogma-dogma yang ada di dalam masyarakat. “Misalnya ketika masyarakat itu gak punya duit, mereka malah mikirnya ‘ini ujian dari tuhan’,” ungkapnya. Permasalahan ini pada dasarnya bukan murni kesalahan masyarakat itu sendiri. Pemimpin dari masyarakat itu pun juga perlu bertanggung jawab.

“Mungkin aku ingin melihat dari zaman Nabi Muhammad ya. Rasul itu hadir di dunia ini dengan tujuan pembebasan. Bebas dari perbudakan contohnya. Jadi aku ingat perkataan Kholid (Pemimpin Redaksi Himmah) yang mengutip pernyataan Suwarsono Muhammad. Jadi yang ditolak kaum Quraisy itu bukan cuma perkara tahuid, tapi juga persoalan ekonomi politik. Bisa diibaratkan secara tidak langsung kaum Quraisy pada saat itu pun menganut sistem kapitalisme,” lanjut Ma’arif.

Menanggapi soal teologi pembebasan dalam islam, Fahmi AB, Staf Redaksi Himmah teringat juga dengan Ali Syari’ati. “Jadi itu pas zaman revolusi Iran. Dulu disana dipertanyakan dimana peran islam dalam permasalahan-permasalahan sosial,” ujar Fahmi. Dia melanjutkan lagi bahwa pada saat itu, Masyarakat Iran menuntut peran agama untuk hadir dalam permasalahan-permasalahan sosial. Agama di tuntut untuk berperan melakukan pembebasan terhadap kaum-kaum tertindas. Dan dari sana lah teologi pembebasan di Iran lahir dan Ali Syari’ati hadir sebagai eksponen dalam diskursus teologi pembebasan di Iran. “jadi agama bukan cuma untuk pelarian, bukan cuma hal-hal yang ritualistis aja. Tapi agama lahir untuk membebaskan.” papar Fahmi.

Nurcholis Ainul R.T. kemudian juga menanggapi persoalan teologi pembebasan dalam islam yang dikontekskan dengan marxisme. “Aku tertarik sama salah satu tulisan yang ada di Indoprogress, yaitu wawancaranya Muhammad Al-Fayyadl. Jadi dia mengatakan bahwa dari segi aksiologis atau manfaat, islam itu sama dengan marxisme. Yaitu sama-sama mencita-citakan pembebasan,” ungkap Kholis. Ia melanjutkan lagi, “Bahkan seorang Tan Malaka yang seorang komunis ekstrem pun adalah penganut agama islam. Kokmalah jadi banyak pertentangan begini ya jadinya. Yang menjadi titik fokus pembahasan kok hanya pernyataan Marx yang mengatakan bahwa ‘agama adalah candu’ saja. Bahkan PKI pun yang dianggap hina oleh bangsa ini pun merangkul agama dalam manifesto politiknya.”

Menanggapi permasalahan ini, Arieo memaparkan bahwa teologi pembebasan bisa menjawab hal tersebut karena ada kekurangan-kekurangan dalam marxisme. Salah satunya yang memandang bahwa orang-orang agamis adalah orang-orang yang dekat dengan para penguasa, yang kemudian juga turut melakukan penindasan. “Nah pertanyaannya apakah pandangan marxisme terkait agama sebagai candu masih relevan saat ini? Ketika masyarakat beragama pun juga melakukan perjuangan membela masyarakat kelas bawah,” papar Arieo.

Pada akhir diskusi, Arieo mengutip pernyataan Bung Karno, “Ketika kaum muslimin terus terjebak dalam arus yang sama dan tidak mampu untuk mengontekskan keilmuannya dengan zaman sekarang ini, maka kaum muslimin akan tertinggal.”

*LPM HIMMAH UII | Sumber: lpmhimmahuii.org – Oktober 2015.

*Rehal buku: Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme & Marxisme Kritis  (Edisi 2013)  Penulis: Michael Lowy •Penerjemah & penyunting: Roem Topatimasang •Penerbit: INSISTPress •Edisi: cetakan ke-4, Maret 2013.