Berguru dari Gramsci

Berguru dari Gramsci*

”Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi, yang bisa mengadakan aturan-aturan yang bisa terpakai untuk segala jaman.  Teori-teorinya haruslah diubah, kalau jaman itu berubah; teori-teorinya haruslah diikutkan pada perubahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut.”

Itulah yang diungkapkan oleh Sukarno dalam artikelnya yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” pada tahun 1926. Inilah cikal bakal konsep “Marhaenisme” yang menurut Sukarno gambaran kelas proletar di Indonesia.

Jauh sebelum Sukarno, Antonio gramsci telah melakukan hal yang sama. Gramsci tidak mentah-mentah memakai teori Marx sebagai kerangka berfikir dan panduan aksi. Melalui buku ini, Roger simon memaparkan pemikiran-pemikiran Gramsci. Selain itu, buku ini juga memuat pendapat dari Stuart hill dan Stuart Hall.

Berbeda dengan tulisan-tulisan yang dituliskan oleh Gramsci, ini merupakan tafsiran dari Roger Simon atas pemikiran Gramsci. Dalam buku ini terangkum ide-ide Gramsci tentang hegemoni, ideologi, masyarakat sipil, peran intelektual, gerakan dewan pabrik, dan partai revolusioner.

Teori-teori ini justru lahir saat Gramsci sedang dipenjara, dan menyaksikan kehancuran gerakan kiri di Italia dan berkuasanya partai fasis yang dipimpin Mussolini. Keadaan inilah yang membuat Gramsci memikirkan ulang Marxisme. (hal 3)

Menurut Gramsci, kaum Marxis yang berpandangan bahwa kapitalisme akan hancur dengan sendirinya membuat gerakan buruh di Eropa lebih bersikap menunggu. Hal ini menyebabkan tidak adanya inisiatif politis dari gerakan buruh. Sehingga, partai fasis dapat berkuasa dengan mudah. (hal 6)

Selain, itu Gramsci juga mengkritik sosialisme yang berkembang di Uni Soviet yang melaksanakan revolusi pasif. Karena, bagi Gramsci sosialisme tidak bisa dipaksakan dari atas melainkan harus dibangun dari bawah dengan menyertakan pastisipasi aktif dari masyarakat. (hal 12)

Melihat situasi yang terjadi di Italia Gramsci menyatakan bahwa unutk menjadi kelas hegemoni, gerakan buruh harus menyertakan kepentingan kelas sosial lainnya seperti gerakan perempuan, gerakan pemuda, gerakan lingkungan, yang semuanya tidak berhubungan dengan kelas dalam ekonomi. (hal 55)

Kemudian, Gramsci juga membahas tentang peranan intelektual. Menurut Gramsci ada 2 kategori intelektual, yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah intelektual yang masih digerakkan oleh model produksi. Sedangkan, intelektual organik adalah intelektual yang memiliki kemampuan organisasi politik dan sadar akan posisinya di masyarakat. (hal 144)

Buku yang berisi 12 bab ini sangat menarik untuk dibaca dan dikaji, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui peta pemikiran Gramsci dan mengenal lebih jauh marxisme. Idenya tentang hegemoni dan demokrasi yang ideal kiranya masih relevan untuk saat ini.

*Oleh: Muhammad Fahri. Sumber: www.didaktikaunj.com – 15 November 2015.

*Rehal buku: Gagasan-gagasan Politik Gramsci/ Roger Simon/ Penerjemah: Kamdani dan Imam Baehaqi/ Pengantar: Mansour Fakih/ INSISTPress dan Pustaka Pelajar, 1999.