Melihat Kritik Terhadap Lembaga Pendidikan Formal

[Review] Melihat Kritik Terhadap Lembaga Pendidikan Formal Melalui Buku Sekolah itu Candu Karya Roem Topatimasang

“…Sekolah kini menjadi milik dan alat dari satu kekuatan yang –atas nama dan dengan label-label ‘demi pembangunan, industralisasi, modernisasi, globalisasi’—bukan Cuma mengajarkan bagaimana caranya merampok habis sumberdaya kebendaan komunal yang dimiliki dan sudah berabad dilestarikan oleh para wong cilik setempat: hutan dan tanah ulayat, hasil bumi, dan sebagainya; tetapi juga mengajarkan bagaimana caranya menjarah sumberdaya kerohanian priadi maupun kolektif dari orang-orang ugahari itu…”

9/30.

Setelah membaca buku ini bisa dipastikan banyak yang mengutuk diri sendiri karena menyadari bahwa sekolah di negeri ini sudah sangat bertolak belakang dengan makna sekolah itu sendiri.

Buku Sekolah itu Candu bisa dikatakan sebagai buku saku bagi siapa saja yang merasa janggal dengan sekolah namun belum memiliki keberanian untuk memastikan bahwa memang ada yang salah dan harus dikritik.

Buku ini memperlihatkan banyaknya kekeliruan di sebuah lembaga yang dianggap bisa mencerdaskan seseorang. Berisi 14 bagian dan dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami.  Meski ditulis puluhan tahun lalu, keadaan saat itu masih sangat relevan dengan keadaan sekarang.

Penulisannya santai namun berisi sehingga enak dibaca meski pemilihan fontnya tidak tepat menurut saya. Begitu pula dengan pengaturan marginnya, untuk buku sebagus ini sayang sekali jika dikemas dengan kesan asal-asalan, beberapa orang memiliki selera membaca yang menyebalkan, misalnya hanya mau membaca buku-buku yang pengemasannya (pemilihan font dan pengaturan margin) baik, untung saya bukan termasuk golongan pembaca seperti itu.

Pada bab 1 penulis memperkenalkan sejarah sekolah, mulai dari arti kata sekolah yang berasal dari bahasa Latin yaitu shole, scola, scolae atau chola yang artinya waktu luang atau waktu senggang. Orang Yunani kuno menggunakan waktu luang mereka untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-hal yang mereka rasa perlu diketahui. Lambat laun seiring perkembangan jaman sekolah menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan yang menyita banyak waktu, tidak ada lagi makna waktu luang untuk belajar, yang ada murid dipaksa belajar seharian di sekolah. Ini menarik untuk didiskusikan, dan membaca buku ini seolah-olah kita berdiskusi langsung dengan penulisnya.

Bab 2 penulis mengajak pembaca untuk membandingkan beragam sekolah, mulai dari sekolah formal hingga sekolah kehidupan yang digelar di bawah-bawah jembatan sekitar daerah kumuh maupun tepian rel kereta api.

Bab selanjutnya berbicara tentang aturan-aturan yang diterapkan di sekolah, aturan yang menurut penulis justru mematikan kehadiran sekolah sebagai rumah belajar dan laboratorum pengetahuan anak-anak manusia.

Ada juga bagian di mana penulis memperlihatkan realitas bahwa sekolah bagi para pemodal adalah sebuah bisnis besar, ibaratkan perusahaan. Pengusaha kini bisa menjadikan sekolah sebagai alternatif bisnis yang sangat menjanjikan.

Realitas tentang sekolah di daerah pedalaman juga dituliskan di buku ini, bagaimana mereka semangat ke sekolah, menamatkan jenjang Sekolah Dasar hingga SMA namun tidak pernah mendapat ilmu yang bisa mereka implementasikan di kehidupan sehari-hari, mereka akhirnya hanya jadi petani padi meski telah mengantongi ijazah SMA. Ini memperlihatkan bahwa sekolah tidak memberi pengetahuan apapun untuk kehidupan.

Berbagai kenyataan pahit tentang sekolah dituturkan dengan manis oleh penulis. Dan seketika ada rasa berontak yang bergejolak di dada saya, apalagi kalau mengingat biaya sekolah yang makin mencekik leher, mengingat para ibu di kampubg yang berjalan gontai ke kantor-kantor koperasi simpan pinjam untuk meminjam uang agar anaknya bisa mendaftar kuliah tahun ini, atau para ayah di kota yang harus bekerja lebih dari 18 jam dalam sehari agar gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mengayar tagihan kredit dan membiayai anak yang sekolah di sekolah favorit.

Sekolah di satu sisi membuat para orang tua gila, ya, gila dalam bekerja. Mereka bahkan melupakan lapar, lelah, dan keinginan pribadi mereka agar anak-anaknya bisa pergi ke sekolah. Sementara itu lembaga pendidikan bernama sekolah ini semakin hari semakin tidak masuk akal, bahkan sering dianggap tidak berhasil mencetak manusia-manusia berskill, ini terbukti dengan tingginya angka pengangguran. Kalau mengingat sejarah sekolah, maka sekolah sekarang semakin tidak layak disebut sekolah.

Sebagian orang tua yang menyadari ini memilih untuk memberikan pendidikan dengan cara berbeda, sekolah formal tidak lagi jadi pilihan. Mereka membantu anak belajar dengan cara yang menyenangkan, memasukkan mereka ke sekolah informal, contohnya seperti Sekolah Canopy di Pontianak, Kalimantan Barat. Di sini anak-anak bisa belajar apa saja dari pengajar-pengajar berkompeten, tanpa sekat, mereka bisa bertanya apa saja, metode pengajaran seperti ini dianggap tepat oleh orangtua yang memasukkan anaknya di sini. Tapi sayang tidak semua orang tua memiliki kesadaran seperti mereka, atau bahkan kemampuan untuk memberikan pendidikan yang seperti ini pada anak-anaknya.

Buku ini sangat layak dibaca dan didiskusikan, tidak hanya oleh para pelajar tapi juga oleh para akademisi, pemerintah, orang tua, mahasiswa gondrong yang doyan foto dengan hashtag save gondrong, siapa saja yang peduli pada pendidikan.

Bayangkan kita menghabiskan waktu berbelas-belas tahun untuk belajar dan menghabiskan uang di sekolah, kita pergi ke perguruan tinggi dan dikuras oleh sistem pambayaran yang semakin hari semakin tidak manusiawi, kita wisuda, jadi sarjana dan menganggur, sebagian lainnya jadi budak korporasi dan kerja bagai sapi perah, kita memberikan sebagian hidup kita untuk sekolah dan apa yang sekolah berikan pada kita? Masihkan sekolah jadi satu-satunya tempat untuk mencerdasakan kita?

Mari kita jawab sendiri sambil menyaksikan berita-berita tentang demonstrasi mahasiswa yang menentang tingginya biaya sekolah dari hari ke hari. Mari jawab sendiri sambil membaca narasi berisi argumentasi tentang metode pendidikan apa yang tepat diterapkan di negeri ini sementara para pengusaha, politisi, dan akademisi menjalin kerjasama membuka sekolah-sekolah baru, perguruan tinggi baru, sekolah akhirnya jadi bisnis baru, investasi masa tua yang menjanjikan. Dan kita masih dipaksa untuk pergi ke sekolah demi sebuah ijazah, agar kelak bisa diterima oleh sistem yang berlaku saat ini, kita bekerja dan mengabdi untuk sebuah lembaga, memelihara sistem ini agar langgeng sembari tetap menjaga harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Padahal, menurut saya, sekolah harusnya membuat kita cerdas dan sadar.

*Oleh: Claudia Liberani. Sumber: http://www.claudialiberani.com/ – 2 Juni 2018.

*Rehal buku: Sekolah Itu Candu/ Roem Topatimasang/ Toto Rahardjo/ INSISTPress , 2010 (cetakan ke-11).