Ini Bukan “Sekolah Biasa Saja”

Ini Bukan “Sekolah Biasa Saja”*

Saya membuka naskah pengantar ini dengan cuplikan sajak WS. Rendra (1996), Seonggok Jagung.
…………
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Sekolah-sekolah telah menjadi pembentuk komodifikasi sumberdaya manusia. Manusia dinilai sebagai sumberdaya yang diperdagangkan. Apa yang sedang terjadi dan mau ke mana semua ini?
Semakin tinggi tingkat sekolah orang-orang desa, semakin kuat pula aspirasi, motif dan dorongan mereka untuk meninggalkan kampung halamannya untuk mendapatkan harga tenaga kerja yang lebih tinggi dan sesuai. Sekolahnya mengajarkan ilmu-ilmu pergi. Desa ditinggalkan pemuda-pemudi yang pandai, untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Semua itu akibat aspirasi, motif, dan dorongan untuk punya suatu cara dan gaya hidup modern, yang dianggap sebagai keniscayaan yang harus ditempuh. Pemuda-pemudi sekarang ini telah dan sedang menganut ideologi bahwa tenaga kerja manusia adalah komoditi, barang yang diperdagangkan. Bagi mereka yang tinggal di desa, kota menjadi daya tarik, magnet yang luar biasa. Badan mereka di desa, tapi imajinasinya hidup di kota-kota. Lulusan sekolah menjadi tenaga kerja urban. Mereka berpikir, dan bertindak berbeda dengan orang tua mereka. Di zaman sekarang terbuka lebar akses pada ruang virtual melalui teknologi informatika dan pasar barang komputer dan cell phone. Komunikasi internet, budaya tontonan, dan e-commerce semakin mengisi waktu para pemuda-pemudi, mulai bangun tidur hingga tidur lagi.

Pada gilirannya, mereka inilah yang semakin memenuhi kota-kota kabupaten, provinsi dan metropolitan. Migrasi ke kota-kota dan pertumbuhan kota semakin dipadati oleh orang-orang dari desa. Mereka dari desa yang terdidik dan berhasil menjadi kelas menengah di kota-kota tidak kembali ke desa. Mereka menjadi bagian dari penduduk konsumtif, dengan membeli tanah dan/atau rumah untuk tinggal di pinggiran kota, serta motor, dan mobil baru untuk transportasi, yang pada gilirannya membuat infrastuktur jalan di kota-kota provinsi dan metropolitan tidak lagi memadai. Di kota-kota metropolitan, terjadi macet di mana-mana setiap pagi pada jam pergi menuju pusat kota dan jam pulang menuju pinggiran kota.

Di sebagian wilayah pedesaan, kita menyaksikan tanah, wilayah, dan sumber daya alam di desa-desa diincar sebagai kapling-kapling perusahaan-perusahaan yang bergerak di usaha perkebunan, kehutanan hingga pertambangan. Perusahaan-perusahaan itu membentuk konsesi-konsesi penguasaan tanah, cara-cara produksi, sistem pengaturan tenaga kerja, hingga sirkuit rantai komoditas global mulai dari saat diproduksinya hingga sampai ke konsumen, dengan motif efisiensi mencari keuntungan dan akumulasi kekayaan. Kepemilikan dan tata guna lahan kampung, ladang, sawah, hutan, sungai, dan pantai telah, sedang, dan akan terus diubah oleh perusahaan pengerukan (batu bara, timah, nikel, pasirbesi, bauksit, emas, semen, marmer, dsb), pulp and paper, perkebunan (kelapa sawit dll), perumahan, industry manufaktur, kompleks infra struktur pariwisata, dan lain sebagainya. Desa menjadi reservoir atau tempat persediaan tenaga kerja.

Kesempatan kerja di sektor pertanian semakin sempit dari tahun ke tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan mereka yang membutuhkan pekerjaan. Minat bekerja pada bidang pertanian juga semakin menipis. Banyak sekali lapisan orang miskin di pedesaan, yang mayoritas tidak bertanah dan tidak bisa menikmati sekolah tinggi, harus mengambil risiko dengan memilih pergi ke luar desa untuk mendapatkan pekerjaan melalui kerja migran di kota-kota provinsi, metropolitan hingga ke luar negeri. Sebagian besar rakyat pekerja migran ini sesungguhnya berhasil memperoleh upah kerja yang lebih baik, mengirimkan pendapatannya ke desa, dan kemudian menjadi daya tarik bagi pemuda-pemudi desa generasi berikutnya untuk mengikuti jejak langkah mereka. Pengalaman pahit hidup kerja sebagai migran, mulai kesulitan pekerjaan atau kondisi kerja yang tidak layak, penipuan, diskriminasi, hingga jadi korban perlakuan kekerasan, umumnya dipersepsi sebagai nasib buruk. Informasi nasib buruk ini tidak mencegah rombongan lain untuk pergi.

Adakah sekolah yang tidak mengajarkan ilmu-ilmu pergi yang membuat siswa meninggalkan kampung halaman yang menjadi tanah airnya? Ya, ada. Sekolah Sanggar Anak Alam (SALAM) contohnya. Kita bisa pelajari prinsip-prinsip metodologis yang berasal dari pengalaman praktik para pengelola Sekolah Sanggar Anak Alam (SALAM), sebagaimana secara sederhana diungkap dalam buku Sekolah Biasa Saja ini. Hal terpenting adalah hubungan guru-murid. Pertama-tama yang dipegang erat-erat oleh pengelola sekolah SALAM adalah bagaimana membuat hubungan murid dan gurunya diperantarai oleh tema-tema belajar yang berasal dari situasi dari masyarakat dan alam lingkungan sekolah. Sejak mula, murid dibekali dengan motif untuk mengamati dan memeriksa keadaan lingkungan sosial dan fisik sekolah. Selanjutnya, sesuai dengan umurnya, murid diperlengkapi dengan cara-cara kodifikasi yang berujung pada tugas yang diminati oleh mereka sendiri. Sesungguhnya, inilah dasar dari budaya ilmiah itu, yakni pembentukan rasa ingin tahu dan memenuhinya dengan cara-cara memenuhi rasa ingin tahu itu. Jadi dasarnya adalah mengalami sendiri. SALAM memberi kesempatan siswanya aktif membangun rasa terpanggil dan membangun suatu ikatan batin melalui pengalaman-pengalaman baru. Memang mula-mula siswa mengusahakan secara coba-coba, tapi lama-lama ia menyadari kekuatan daya cipta sebagai motor penggerak perubahan.

Apa yang sudah dilakukan SALAM ini pada gilirannya dapat menjadi dasar untuk mempelajari sejarah geografi lokal. Pembabakan perjalanan kampung bisa dibuat sendiri, dan tidak perlu mengikuti babak-babak nasional. Ini bisa dilakukan dengan menyelidiki peristiwa-peristiwa penting yang mengubah situasi sosial dan alam dari kampung. Hasil wawancara itu bisa dikodifikasi menjadi narasi maupun visualisasi dengan garis waktu tersendiri. Lokal bukan sekedar merupakan akibat dari kebijakan dan kekuatan yang bergerak di atas lokal hingga nasional, tapi lokal juga memiliki dinamika tersendiri sendiri, yang perlu dihubungkan dengan kekuatan supra local itu. Begitulah, SALAM memberi bekal bagi siswa untuk menjadi pemuda-pemudi yang bersarang di kampung halaman tempat sekolah berada.

Saya menjadi ingat pada sebagian kata-kata dalam teks lagu kebangsaan Indonesia Raya. Karena “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku”, maka “di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku” (dari bait pertama dari stanza pertama); Karena “Indonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya”, maka “di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya” (dari bait pertama dari stanza kedua); dan karena “Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti,” maka “di sanalah aku berdiri, menjaga ibu sejati” (dari bait pertama dari stanza ketiga).

Sebagai penutup, saya akan kembali ke pesan utama tulisan ini: sekolah-sekolah kita perlu didekolonisasi, dan diisi oleh gagasan dan rintisan kembali merawat dan mengurus tanah air, dengan benar-benar menimbang sejarah dan geografi mulai dari masing-masing kampung/desa, lalu kawasan, lalu pulau, hingga mengurus kembali Indonesia sebagai bangsa agraris sekaligus maritim terbesar di dunia. Ini adalah ekspresi dari suatu kesadaran kritis dan sekaligus semangat mengubah nasib. Para siswa pada gilirannya menjadi pemuda dan pemudi, yang merintis dan membangun arus balik atas gelombang komodifikasi sumber daya manusia, dengan menjadikan tempat kita berasal sebagai tempat berangkat dan sekaligus tempat kita mengabdi.

Selamat membaca.
Bandung, 11 Juni 2018.

*Noer Fauzi Rachman, Anggota Dewan Pendidikan Indonesian Society for Social Transformation (INSIST), Yogyakarta.

*Pengantar buku Sekolah Biasa Saja: Catatan Pengalaman Sanggar Anak Alam (SALAM)/ Toto Rahardjo/ INSISTPress, 2018.