Orangtua Luar Biasa, Anaknya di ‘Sekolah’ Biasa Saja

Orangtua Luar Biasa, Anaknya di ‘Sekolah’ Biasa Saja*

Menjadi orangtua luar biasa itu julukan propaganda ideologis sekaligus kekuatan komunitas yang ada di lingkungan belajar Sanggar Anak Alam (SALAM) Nitiprayan Yogyakarta. Ini sama sekali tidak sedang mengatakan: orangtua keren, anak ikutan keren, ortu kaya anak payah, apalagi Rich Dad, Poor Dad ala Robert Kiyosaki. Dunia itu tak asimietris begitu juga pola piker manusia, orang per orang.  Tak semua manusia berorientasi harta raya adalah satu-satunya alat membentuk jati diri manusia. Saya kira orangtua SALAM setuju ‘kan dengan pernyataan saya. Jika tidak setuju, ya memang benar SALAM itu tidak seragam hahaha.

Menjadi orangtua luar biasa itu artinya mampu menerima keberadaan anak-anaknya sebagai manusia yang akan hidup di zamannya sendiri, dapat menerima dan percaya kepada komunitas belajar yang tak selalu disebut ‘sekolahan’ sebagai Lembaga Pendidikan formal dan kaku. Sanggar anak alam diterima sebagai tempat belajar. Sekolah yang nampaknta luar, tetapi diterima sebagai komunitas belajar oleh sekitar 500 manusia di dalamnya, dan juga ada kerabat serta simpatisan atau apa namanya yang menancapkan rasa cinta dan peduli kepada SALAM.

Tidak sedikit sejak terbit edisi pertama tahun 2015 oleh penerbit Progress buku karya Toto Rahardjo yang sarat refleksi yang penuh dekontruksi ini direview dan didiskusikan. Saya sebagai salah satu bagian kecil di SALAM hendak menyumbangkans sedikit penilaian dan apresiasi buku ini dari sudut pandang orangtua, warga belajar, mungkin juga sebagai orangtua luar biasa yang percaya bahwa SALAM adalah sawah belajar bersama yang bukan hanya terbaik untuk anak saya, tetapi juga proses yang membentuk relasi manusiawi kami sekeluarga, saya dengan anak-anak, saya dengan istri, dan saya/kami dengan orangtua SALAM lainnya, dengan fasilitator, dan dengan penyelenggara pendidikan berbasis komunitas yang diwakili oleh Pak Toto dan Ibu Wahya (begitu kami sehari-hari memanggilnya).

Sebagai sebuah kesaksian, tahun 2014 kami membaca buku sekolah biasa saja ini dan memunculkan kemantapan hati kami sebagai orangtua untuk menjadikan SALAM sebagai medan belajar, arena ‘liar’ yang entah bagaimana harus dipercaya sebagai rumah belajar bersama, sebagai keluarga untuk saling membentuk peristiwa saban hari yang kemudian dinamai sebagai proses belajar. Di SALAM, belajar ya mengajar atau mengajar yang belajar (hal.175). Semua orang belajar, hampir saya bisa memastikan bahwa itu benar adanya di dalam ekosistem atau lingkungan alam-belajar di SALAM. Fasilitator adalah orang-orang pembelajar yang hebat, bukan hanya memfasilitasi anak-anak, tetapi juga orangtua dengan anak, orangtua dengan penyelenggara, dan begitu juga sebalik-baliknya, dapat berlaku sebaliknya, seperti daur belajar yang mengapresiasi semua orang, semua manusia.

Untuk memperjelas uraian saya yang tidak melulu berbasis buku karya Pak Toto ini setidaknya saya ingin memperlihatkan posisi anak-anak, fasilitator, dan orangtua SALAM dalam serangkaian proses daur belajar. Tidak gampang harus membacai detail buku edisi baru yang lebih komplit dibanding edisi sebelumnya. Buku sekolah biasa saja terbitan Insist tahun 2018 ini memiliki sejumlah artikel baru dan hasanah refleksi yang belum secara detail disajikan di edisi buku pertama. Yang sudah membaca buku terbitan pertama, sangat perlu membaca lagi edisi baru yang diperluas jangkauan daya refleksinya ini.

Pertama, anak-anak atau murid-murid yang tumbuh di sekolah yang bukan sekolah (biasa saja), atau di Sanggar Anak Alam memiliki karakter khas masing-masing. Karakter itu misalnya, karakter liar atau bahasa manusianya merdeka. Ya, liar dalam arti kebebasan berekpresi, kebebasan memilik tempat belajar dan kegiatannya, membangun solidaritas, membangun rasa setia kawan, kejujuran, keuletan, kemandirian yang dapat diulas dari beragam aktifitas gerak dan lagu, pasar seni, pameran, teater, dinamika kelas alam, pasar ekrpresi, pasar 35 harian atau pasar senin legi. Walaupun saya tidak mendengar istilah SALAM sebagai sekolah alternatif namun beberapa posisi buku pak Totok hendak dijelaskan posisinya tersebut namun tidak latah sebagai sekolah alternatif karena alternatif juga mengalami peyorasi di dalam konteks lingkungan Pendidikan neoliberal atau masyarakat pasar/masyarakt industrial. Pak Toto jelas menyadari posisi tak menggembirakan dengan istilah alternatif itu. Selain kelatahan, kenyataannya itu hanya berhenti pada jargon tuna filosofi dan praksis.

Julukan alternatif, saya kira orangtua SALAM tidak familiar dan menganggap itu bukan subtantif jika hanya julukan tetapi praktiknya-lah yang paling diutamakan. Pilihan diksi ‘alternatif’ sebagai posisi yang berguna untuk membangun kesadaran internal warga belajar SALAM saya memparafrase karakter yang ditawarkan penulis buku ini yaitu empat karakter utama jika sebuah tempat belajar layak disematkan sebagai alternatif (hal 88-90). Pertama, proses humanisasi di dalam keseluruhan proses belajar. Kedua, pembelajaran diperuntukkan sebesar-besarnya kebaikan anak (apa yang menurut anak-anak/murid itu terbaik dan dibutuhkan, itulah yang akan diupayakan bersama-sama sebagai sebuah konsensus belajar di sanggar.

Ketiga, kontekstualisasi pelajaran atau apa yang disebut Pak Toto pendekatan pendidikan holistik. Untuk mempelajari suhu dengan alat thermometer misalnya, harus punya konteks misalnya proses menetaskan telur atau anak-anak yang demam sehingga langsung mendapati kemanfaatan dan dapat dikuasai. Hal ini yang sangat cocok di SALAM sebagaimana ungkapan yang banyak dicetak dalam produk t-shit SALAM atau pasar si Mbok: mendengar aku lupa, melihat aku ingat, melakukan aku paham, menambahi aku menguasai. Pendidikan dengan metode holistik ini punya akar budaya yang sering disampaikan penulis buku dengan merujuk pada Ki Hajar Dewantara: niteni (menyimak, memperhatikan), nirokke (menirukan), nambahi (memperbaharui, inovasi, membuat hal baru, reproduksi). Pendidikan formal mainstream selama ini berhenti pada menirukkan—sebagai implikasinya adalah pendidikan di Indonesian menjadi proses penjinakan dan penyeragaman dimana pendidikan benar-benar mengungkung, membisukan, mendoktrin, menaklukkan, membebani, menghancurkan, dan  membunuh kemanusiaan. Proses dehumanisasi ini terus berlangsung disadarai atau tidak. Sekolah adalah menghafalkan apa yang dipeirntahkan guru dan buku mata pelajaran. Itu kira-kira definisi sekolah yang pas, wajar saja Chu-Diel (2010) teriak dalam bukunya: ‘Sekolah Dibubarkan Saja’. Kalau tidak bubar, sekolah hanya menjadi candu sebagaimana kegalauan Roem Topatimasang (1998). Candu ini benar-benar akan meracuni masyarakat, dan meracuni bangsa. Bagaimana candu ini diobati? Semua orang harus berusaha mencarinya sebagai nalar kehidupan, bukan malah memporak-porandakan kesadaran. Dalam banyak hal saya setuju, sekolah ala pendidikan neoliberal benar-benar menganggu pendidikan, juga meracuni filosofi pendidikan itu sendiri. Kalau ini penjelasan harus dibaca pelan-pelan dibuku ini (hal.1-74). Silakan dibaca dan dirasakan, dirasakan dan terlibat di SALAM atau di ekosistem hidup/lingkungan pendidikan di mana pun, dengan siapa saja.

Terakhir atau keempat, ciri sekolah yang sejatinya alternatif adalah proses belajar sebagai wahana demokratisasi. Relasi antar guru-murid, fasilitator-warga belajar/murid, murid orangtua, dan dengan penyelanggara merupakan hubungan yang tidak kaku. Semua punya posisi pilihan dan keluar (exit dan choice) dan diupayakan sekuat tenaga segalanya dapat dijalani dengan proses dialogis, banyak arah, dan menghargai kemerdekaan dan pemerdekaan. Di SALAM, hanya ada garis besar pembelajaran dan keberadaan kurikulum atau apapun sebutannya bukan menjadi alat kontrol dan standarisasi. Jangan tanyakan output atau outcome pendidikan model begini, tetapi hargailah prosesnya karena ini bukan pabrik yang dipertanyakan berapa omsetnya. Ini kekuatan yang dibentuk oleh orangtua luar biasa, yang anaknya sedang menjalani praksis belajarnya di ‘sekolah’ biasa saja.

Saya kira mendiskusikan sekolah alternatif saya cukupkan, perdebatan antara idealitas dan praksis dapat diriset oleh pembaca diberbagai arena. Pembaca buku ini saya kira adalah orang-orang yang tercerahkan dan terbangun akal budinya, sehingga membaca buku ini akan menggerakkan praktik humanisasi pendidikan di berbagai penjuru negeri. Arus kecil yang banyak akan menjadi arus besar, itulah keyakinan kami. Seringkali ada pertanyaan: apakah SALAM bisa diterapkan di tempat lain? Jawabannya pendidikan itu harus berbasis realitas bukan copy and paste atau cut and glue, prinsip pemerdekaan adalah prinsip universal inilah yang bisa diupayakan dengan keteguhan, keberanian, dan nekad.

Terakhir sekali, saya ingin menjawab pertanyaan orangtua SALAM yang bertanya apa yang membedakan buku cetakan/edisi baru ini dengan edisi lama. Edisi tahun 2014 buku ini tebalnya 184 halaman, terdiri dari 25 judul tulisan ditambah prolog dan epilog, edisi baru (2018) setebal 252 halaman dilengkapi dua kata pengantar dari M. Sobary dan Noor Fauzi Rachman dan sejenis epilog oleh Prof. Dr. Sylvia Tiwon. Tetapi yang terlihat menonjol sekali adalah posisi anak-anak dan risetnya (hal. 183-240) dan peran serta dinamika orangtua siswa (hal. 78-85;110-111) yang mendapat tempat lumayan terhormat dalam buku ini.

Namun, saya kira banyak hal tentang orangtua salam, Forsalam yang belum dikisahkan dalam buku ini, dan saya kira perlu tulisan tulisan orangtua dan fasilitator diterbitkan jadi buku melengkapi perspektif dan refleksi buku karya pak Toto sebagai penyelenggara. Ilustrasi gambar dalam buku ini dibuat oleh orangtua salam dan juga fasiliatator, jika terbitan berikutnya saya berharap ilustrasi buku juga diproduksi oleh anak anak atau siswa SALAM yang punya banyak kreatifitas. Juga, dinamika SMP dan SMA SALAM belum banyak dikisahkan bisa jadi karena belum lama didirikan sebagai bentuk pencarian cara membangun pembalajaran yang berkesinambungan dengan inisiatif orangtua, fasilitator, dan penyelenggara pendidikan. Fasilitator dan orangtua itu luar biasa, tak mungkin saya bilang biasa saja. Bisa dikata 60-70% urusan SALAM ada ditangan fasilitator dan orangtua, orangtua punya porsi keterlibatan sangat aktif, penting, perlu, dihargai, dari serangkaian proses belajar berbasis keluarga dan ‘ke-bebrayanan’. Betul sekali kata Ibu Wahya: tanpa orangtua, SALAM bukan apa-apa. Pengakuan penyelenggara Pendidikan SALAM yang haruslah diacungi jempol berjejer-jejer (jika tayang di WA).

Pertanyaannya, dengan semakin dikenalnya SALAM di jagat raya, apakah SALAM akan menjadi besar dan menjadi sejenis center of excellence? Sampai hari ini jawaban penulis buku ini adalah: “SALAM harus tetap kecil, dan hanya di Nitiparyan,” jawaban yang kadang tidak menggembirakan bagi penanya, juga kadang bagi orangtua SALAM. Kanapa? Kadang sebagai orangtua sanggar anak alam ini ‘kan juga perlu ya dianggap keberadaannya kontributif dan eksis (maaf ya saya hanya berspekulasi sebagai orangtua SALAM, bukan sebagai tukang promosi sebab di SALAM tak perlu promosi mencari murid).

Untuk pembaca pemula, tentu saja kisah-kisah dalam buku meski secara akurat dan ‘obyektif’ digambarkan praksis pendidikan SALAM namun tetap saja membaca hanya dapat menimbulkan efek pengetahuan sekilas, tapi datanglah ke SALAM dan bangun kesadaran lalu mulailah praktik pendidikan pemerdekaan yang menjadi terapi dampak pendidikan yang membisukan selama beberapa dekade terakhir ini di republik yang kita cintai ini. Selamat berperan sebagai manusia merdeka dan memerdekan. SALAM dari orangtua luar biasa yang anak-anaknya di “sekolah” biasa saja.

*Oleh: David Efendi. Lansir dari: davidefendi.staff.umy.ac.id – 23 Agustus 2018.

*Rehal buku: Sekolah Biasa Saja: Catatan Pengalaman Sanggar Anak Alam (SALAM)/ Toto Rahardjo/ INSISTPress, 2018.