Ujian Persamaan Tak Merendahkan Derajatmu

Ujian Persamaan Tak Merendahkan Derajatmu*

“Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Setiap buku adalah ilmu.” –
Roem Topatimasang

Saya diingatkan kembali dengan loncatan – loncatan kalimat Roem saat melihat tayangan pesilat Hanif mengungguli Thau Linh Nguyen, pesilat Vietnam di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Rabu lepas. Setelah diberi bendera Indonesia, Hanif berlari menuju deret VVIP, menghampiri Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) periode 2016 – 2020, Prabowo Subianto.

Puncaknya, ketiga orang hebat itu berpelukan, atas inisiatif Hanif. Tak lama, jagad media sosial Indonesia heboh. Banyak yang terharu bahkan meneteskan airmata walaupun ada juga yang masih nyinyir menyaksikan capture momen tersebut. Konstelasi masih saja panas bagi sebagian pendukung duo kandidat presiden Republik Indonesia tahun 2019 s/d 2024 itu.

Melihat atmosfer diarea VVIP itu, saya masih menjagokan Hanif, selain prestasi Joko Widodo dan kematangan Prabowo Subianto tentunya. Remaja yang mengecat rambutnya dengan warna keemasan itu, jadi hero lahir batin bagi saya. Secara fisik buat pukulan serta tangkisannya dan efek batinnya, menjadi penyejuk bagi Indonesia.

Hanifan Yudani Kusumah lahir di Bandung, 25 Oktober 1997. Bakat bela diri remaja laki-laki itu berasal dari orang tuanya, yang juga atlet Pencak Silat, dulu. Hanif kecil mulai dikenalkan pada Silat saat duduk kelas dua Sekolah Dasar.

Kembali pada Roem Topatimasang. Kalimat yang bisa menggambarkan gagasan Roem tentang pendidikan dan prestasi adalah: “Paling sedikit duabelas tahun waktu dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekadar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain. Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat. Masihkah pantas sekolah mengakui diri sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang?”

Sepertinya, penulis buku Sekolah itu Candu ini, buku yang berisi kumpulan tulisan Roem Topatimasang kala menjadi mahasiswa IKIP Bandung (1976-1980), ingin menegaskan sekolah formal bukan segalanya. Singkatnya, kumpulan tulisan Roem tentang dunia pendidikan, membangunkan kita dari mimpi indah tentang ‘konsep’ pendidikan yang kita pelihara, kita sanjung dan anggap terbaik. Roem datang dan mengubah persepsi itu.

Sekolah itu Candukah?
Secara umum, kandungan buku garapan Roem masih relevan dengan kondisi hari ini dan kembali menguji kesadaran serta keberanian kita sebagai orangtua. Sanggupkah kita mendidik anak – anak berpasrah total pada keteguhan? Dengan yakin menjadikan hobi dan bakatnya seperti apa yang mereka ingin tuju. Jadi model, pesilat, perenang, penghapal al quran, ahli bahasa korea, jepang, mandarin atau arab. Mungkin juga sebagai pelari, pesepakbola, musisi, barista, koki, bahkan pembalap. Berani?

Pola homeschooling, pesantren, sekolah atlet atau PPLP, kursus-kursus yang berjenjang ataupun sekolah keagamaan yang fokus pada materi tertentu dengan ‘sedikit menepikan’ kurikulum standar, membuat orangtua meragu berkali – kali. Kita kerap lupa bahwa orang besar tidak lahir dengan perjuangan seperti orang biasa. Ditempa dengan kedisiplinan, keyakinan dan keteguhan. Tidak takut menjadi berbeda, berani mencoba dan gagal.

Contoh, Susi Pudjiastuti. Wanita kelahiran 1965 itu merupakan jebolan Ujian Persamaan (UP) Paket C, ujian setara sekolah menengah atas. Tanggal 7 Juni 2018, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia tersebut dinyatakan lulus saat jadi petinggi direpublik ini. Begitu juga rata-rata murid atau santri program hapalan al quran atau pesantren. Banyak sistem pendidikannya yang ‘baru’ menjadwalkan pelajaran umum pada Sabtu dan Ahad semata. Diakhiri dengan UP diakhir masa pendidikan, sebagai modal melanjutkan kuliah di Indonesia ataupun kawasan Timur Tengah.

Siapa yang tak sayang anak. Acapkali rasa cinta itu menjadi ketakutan, yang sejatinya apabila dilakoni jadi lompatan besar dalam hidup buah hati kita. Ijazah UP seperti menjadi penghalang bagi ayah bunda untuk mulai meyakini jalan yang akan dipilih putra-putrinya. Seperti merasa menelantarkan potensi akademik dan mengorbankan masa depan anak.

Disebalik itu, tak pula berarti pendidikan formal dengan kurikulumnya ansich menjadi sepele. Karena memang ada profesi, pekerjaan, kebanggaan dan marwah yang pencapaiannya harus fokus dibentuk sejak usia dini. Takbisa dibuyarkan dengan rutinitas lain dalam rentang waktu yang panjang, jika ingin kesayangan kita membesar seperti Hanif dkk, para pemegang medali emas Asian Games 2018 atau layaknya Susi Susanti, juara dunia bulutangkis pada eranya. Bukankah kita selalu berharap mereka menjadi yang terbaik bagi keluarga, agama dan bangsanya? Akhirnya, hidup adalah piliha ***

*Oleh: Mohammad Endy Febri, Pernah mengajar di Universitas Maritim Raja Ali Haji, TanjungpinangSumber: tanjungpinangpos.id – 1 September 2018.