Sekolah Jangan Jadi Penjara

Sekolah Jangan Jadi Penjara

“Sekolah Biasa Saja”, Kritik terhadap Praktik Pendidikan Di Indonesia

Sekolah seharusnya menyenangkan dan menggembirakan bagi siswanya. Kalimat tersebut satu dari sekian kalimat diucapkan Toto Raharjo, penulis buku ‘Sekolah Biasa Saja’ yang digelar di lantai 3 Rektorat IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Senin (23/10/2018).

Sejak awal, mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon memenuhi ruangan untuk mengikuti diskusi ini. Mahasiswa juga para dosen begitu antusias mengikuti diskusi ini sampai akhir.

Dalam bedah buku ini, Toto menerapkan sistem pembelajaran yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Alih- alih mengikuti standarisasi pendidikan dari Pemerintah, sistem pembelajaranya yakni membuat standar pendidikan sendiri.

Kurikulum dari pemerintah resmi sekadar jadi bahan pembanding kurikulum yang mereka buat sendiri.

Misalnya, kira-kira anak kelas satu ditarget menguasai angka 1- 100. Maka anak-anak dibimbing ngubek-ngubek angka 1- 100 di sawah, di pohon, di pasar, di kali, dan dimanapun.

Dalam bedah buku ini, dikupas secara tuntas mengenai sekolah unik Sanggar Anak Alam (Salam) yang berada di Yogyakarta.

“Mereka bisa belajar dari mengikat ranting, lidi, atau kerikil di sekitar. Jadi semua proses belajar ada peristiwanya,” kata Toto saat memberikan materi pada bedah buku ‘Sekolah Biasa Saja’.

Untuk anak-anak pra-sekolah misalnya, lebih difokuskan bukan kepada pengetahuan, melainkan kepada rasa ingin tahunya yaitu kepada penguatan panca indera.

“Apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu rasakan, bagaimana berinteraksi dengan teman. Dari itu semuanya-lah sumber belajarnya,” katanya.

Bagi Toto Rahadjo (pendiri sekaligus penulis buku ini), sekolah mestinya sebagai tempat di mana orang-orang dapat memuaskan dahaga keingintahuannya, mewujudkan impian- impian dan imajinasi kekaryaannya.

Sekolah jangan jadi penjara, jangan berkiblat pada kompetisi, tindak berhasrat mengungguli, atau sekolah biasa saja,” ungkapnya.

Hadirnya sekolah Salam yang digawangi oleh Toto Rahardjo beserta lstri dan kawan-kawan komunitasnya yang diceritakan dan dipaparkan dalam buku ini. Hal ini turut memperkaya literatur praktik pedagogi kritis di Indonesia dalam bentuk mengembangkan sekolah alternatif.

Dalam diskusi ini, beberapa mahasiswa bergairah untuk berdialog aktif dengan Toto Rahardjo dan Wakil Rektor I IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Saefudi Zuhri. Salah satu mahasiswa terlihat satu pandangan dengan Toto Rahardjo.

Menurutnya, sekolah diibararkan semacam oasis seperti air di padang pasir. Sekolah menurutnya memuaskan dahaga untuk keilmuanya.

“Selayaknya pendidikan sekolah siswa harus merasa nyaman senang dan tertantang semangatnya. Tapi nyatanya sekolah mengungkung siswa terbelenggu untuk mempelajari hal- hal yang tidak penting. Sekolah Biasa Saja ini saya kira terobosan bagus,” kata Haryanto. (Iskandar)

*Lansir dari: Kabar Cirebon – 24 Oktober 2018.