Daya Saing Pertanian Indonesia di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Rp 50.000,00

Description

Sebagai implementasi adanya kesepakatan antara seluruh pemimpin negara-negara ASEAN maka pada awal tahun 2015 negara Indonesia bersama dengan 9 negara anggota ASEAN lainnya akan bersam-sama memberlakukan ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Secara garis besar visi implementasi AEC merupakan upaya membangun integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang bertujuan untuk membentuk terwujudnya pasar tunggal dan basis produksi ASEAN. Integrasi ekonomi tersebut akan dicapai melalui adanya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas di kalangan negara-negara anggota ASEAN.

Beberapa laporan terkait dengan skenario implementasi MEA juga menunjukkan bahwa sektor-sektor prioritas dalam rangka menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN juga telah disepakati dan ditetapkan. Pada ASEAN Summit ke-9 tahun 2003, telah ditetapkan adanya 11 Priority Integration Sectors (PIS) yang dalam perkembangannya, pada tahun 2006, menjadi 12 PIS yang terdiri atas 7 sektor barang dan 5 sektor jasa, yaitu: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari kayu, transportasi udara, e-ASEAN (ITC), kesehatan, pariwisata, dan jasa logistik.

Keberadaan komunitas ASEAN 2015 tidak hanya membawa peluang dan kemanfaatan, akan tetapi juga akan memunculkan permasalahan, hambatan dan tantangan bagi Indonesia di bidang ekonomi dan non-ekonomi termasuk untuk sektor agro baik tanaman pangan-hortikultura, perkebunan, kehutanan, perikanan-kelautan dan peternakan.

Berbagai problem dan tantangan yang masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat serius baik dalam jangka pendek maupun menengah bagi pembangunan ekonomi Indonesia agar mampu berkompetisi dan mengambil manfaat yang seluas-luasnya dalam implementasi MEA terutama untuk sektor agro antara lain terkait dengan masih rendahnya efisiensi produksi sektor hulu, rumit dan mahalnya biaya transportasi dan logistik, penerapan standar produk agro yang belum merata, fasilitas infrastruktur yang masih sangat terbatas, dan rendahnya kapasitas SDM serta struktur kelembagaan usaha yang umumnya masih lemah.

Indonesia memiliki populasi, luas kawasan, dan ekonomi terbesar di ASEAN. Dengan modal itu, seharusnya pemerintah lebih tanggap terhadap kepentingan nasional sebelum bereaksi terhadap berbagai isu kawasan. Karena itu, dalam waktu yang sangat singkat, pemerintah punya sederet tugas mendesak untuk memperkuat sektor pertanian. Konsistensi strategi pertanian jangka panjang yang mampu melindungi petani mulai dari praproduksi hingga distribusi akan jauh lebih mulia ketimbang mengandalkan usaha asing yang lantas melemahkan sektor pertanian di Indonesia. Jadi, pertanyaannya bukan soal mampu atau tidaknya, melainkan kemauan dan komitmen pemerintah memulihkan peran dalam melindungi bangsa.


•Judul: Daya Saing Pertanian Indonesia di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 •Penulis: Subejo, Mida Saragih, Nur Saudah Al Arifa, Muhammad Hidayatul Mustofa, Tarmidzi Taher A.S., & Ari Akbar Devananta •Penerbit: Kelompok Kerja untuk Daya Saing Indonesia (KKDSI) UGM •Kalibrasi & cetak: Pustaka Sempu (Grup INSISTPress)  •ISBN: 978-602-71910-2-0 •Edisi: I, Februari 2015 •Kolasi: 17 x 24 cm; 82 halaman.