Demokratisasi atau Kenapa Demokrasi Itu Buruk

Rp 65.000,00

Categories: , Tags: , , Product ID: 4197

Description

Jurnal WACANA No.18/2004 | Demokratisasi atau Kenapa Demokrasi Itu Buruk 

Demokrasi telah memberi kontribusi yang besar dalam kemerdekaan bagi umat manusia untuk berbeda pendapat, menyatakan kepentingan, membentuk kelompok, mengaspirasikan hasrat kekuasaannya dengan tujuan mencegah terjadinya dominasi satu kelompok terhadap kelompok lain. Demokrasi telah sukses menggusur kekejaman dan penindasan rezim otoriter yang mengoyak nilai-nilai kemanusiaan. Tapi, demokrasi juga memiliki cacat bawaan yang bisa menelikung cita-cita mulianya dalam sekejap. Dominasi paham liberal membuat teori demokrasi gagal menghilangkan hierarki kelembagaan yang menindas, melahirkan pemerintah elitis, melempangkan kesenjangan dan ketimpangan sosial, dan mengesampingkan mayoritas. Kata akhirnya adalah, demokasi telah mati, karena pemerintah nasional hanya mengabdi pada kepentingan korporasi dan kekuasaan hanya dipegang segelintir elite.

Demokrasi sudah terlanjur dianggap sebagai sistem politik yang terbaik di zaman modern kini. Tetapi, benarkah demikian? Jurnal WACANA kali ini mencoba untuk mengurai secara kritis tatanan politik yang diyakini sebagai bentuk sistem terbaik dari yang terburuk, yang dimantapkan lewat berbagai proyek-proyek demokrasi seperti pemilihan umum, good governance, civic education, dan lain-lain. Karenanya, edisi kali ini layak untuk dibaca akademisi, aktivis gerakan sosial, dan mereka yang peduli tetapi seklaigus kritis terhadap isu-isu demokrasi dan demokratisasi.

(IVAN A. HADAR, Pengantar: Demi Demokrasi, Gusur Politisi Busuk, ataukah Ada yang Salah dengan Demokrasi?, h.3-14)

Daftar Isi:

  • Pengantar | Demi Demokrasi, Gusur Politisi Busuk, ataukah Ada yang Salah dengan Demokrasi? | Ivan A. Hadar | h.3-14)
  • Kajian | GNTPPB (Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk), Demokrasi dan Masyarakat Sipil | Indra J. Piliang | h.15-49
  • Kajian | Kenapa Demokrasi itu Buruk | Heru Prasetyo (penerjemah) | h.51-111
  • Kajian | Tentang Krisis Demokrasi Perwakilan di Uni Eropa dan Strategi Alternatif Partisipatif | Henri Myrttinen | h.113-128
  • Kajian | Oposisi Sosial Dalam Empat Tinjauan | M. Fadjroel Rachman | h.129-146
  • Kasus | Urgensi Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya bagi Konsolidasi Demokrasi Indonesia: Refleksi atas Pengalaman Gerakan Sosial dan ‘Politik Konstituen’ Yayasan Nen Mas Il | Saleh Abdullah | h.146-167
  • Kasus | Sistem Pemilu DPR/DPRD 2004 | Pipit R. Kartawidjaya | h.169-203
  • Buku | Indonesia dalam Kerumitan Transisi Demokrasi [Tinjauan buku Gerakan Demokrasi di Indonesia Pasca-Soeharto karya A.E. Priyono et al.] | M. Mustafied dan Slamet Thohari | h.204-213
  • Profil INSIST (Indonesian Society for Social Transformation), Asosiasi Komunitas Pengembangan Sumber Daya Indonesia untuk Transformasi Sosial | h. 215-227

>> edisi lainnya, lihat daftar jurnal WACANA