Gerakan Budaya: Antara Pengkhianatan dan Perlawanan

Rp 65.000,00

Description

Jurnal WACANA No.24/2008 | Gerakan Budaya: Antara Pengkhianatan dan Perlawanan 

Dalam pengertian popular, kebudayaan bisa berarti cara berkomunikasi, cara berekspresi, cara bagaimana merefleksikan dunia di mana kita berada. Tentu saja, tidak ada refleksi yang netral. Refleksi selalu dipengaruhi ideologi tertentu, dan karenanya refleksi akan mengambil bentuk pandangan (yang mungkin sudah terdistorsi) dari kacamata ideologi tertentu. Jurnal WACANA kali ini, merefleksikan apa-apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakat/individu, dan melihat persoalan-persoalan di luar diri mereka. Kelompok masyarakat atau individu yang mencoba memulai tindakannya dari definisi tentang kebudayaan yang paling dasar; manusia sebagai pusat kesadaran dan dinamika kehidupan.

Dalam relasi antar masyarakat yang makin menihilkan batas geografis dan identitas saat ini, nyata terlihat bahwa gerak perubahan masyarakat beserta siklus relasi produksi antara “pengetahuan-kekuasaan dan seterusnya” berada dalam pengaruh dominasi global.

Dominasi pengaruh itu bahkan sanggup menentukan arah, capaian, muatan dan nilai, bahkan sampai sistem dan mekanisme perubahan masyarakat. Ini adalaha kondisi yang menurut Ken Loach dikatakan sebagai inexorable. Lalu adakah kemungkinan untuk melepaskan diri dari cengkeraman ini? Kebudayaan dan produknya memang dapat menghantarkan masyarakat pada sautu proses pembelajaran mengenai tata nilai dan dapat mengisi dimensi yang lebih mendalam pada kehidupan. Lalu dapatkah produk budaya lokal yang secara tertatih-tatih diusung oleh sekelompok kecil masyarakat mampu menjadi counter-culture budaya dominan? Dalam edisi WACANA kali ini, gerakan kebudayaan baik kolektif maupun individual, yang terorganisir maupun yang “berantakan”, yang ideologis maupun yang spontan dielaborasi untuk melihat berbagai kemungkinannya sebagai sebuah rute alternatif transformasi sosial masyarakat.

(SALEH ABDULLAH, Pengantar: Melawan Arus, Menguasai Ruang, h.3-11)

DAFTAR ISI:

  • Pengantar | Melawan Arus, Menguasai Ruang | Saleh Abdullah | h. 3-11
  • Kajian | Terbangunnya Sebuah Scene: Kemunculan Punk Bali | Emma Baulch | h.13-37
  • Kajian | Antara Benteng Revolusi dan Laboratorium Bara: Posisi-posisi Politis dalam Senirupa Indonesia 1950an | Antariksa | h.39-53
  • Kajian | Merantau sebagai Bentuk “Perlawanan” Suku Bugis: Prespektif Historis atas Tindak Kekerasan dan Perbudakan di Sulawesi Selatan | Aslan Abidin | h.55-76
  • Kasus | Kedaulatan dan Kosmologi Hutan Lokal | Anu Lounela | h.77-93
  • Kasus | Tentang Media, Kebudayaan dan Prospek Upaya Pembebasan: Wawancara dengan Ken Loach, | Saleh Abdullah | h.95-104
  • Kasus | Saya Melawan Arus yang Datang ke Arah Saya: Wawancara dengan Emha Ainun Najib | Saleh Abdullah |  h.105-115
  • Kasus | You’ll Never Walk Alone | Agung Kurniawan | h.117-125
  • Rehal | Dunia Tidak Satu Selera [Tinjauan buku Arts Under Pressure: Promoting Cultural Diversity in the Age of Globalization karya Joost Smiers] | Fitri Indra H. | h.127-135

>> edisi lainnya, lihat daftar jurnal WACANA