Kretek sebagai Warisan Budaya

Rp 50.000,00

Categories: , Tags: , , Product ID: 2796

Description

Jurnal WACANA No.34/2014 | Kretek sebagai Warisan Budaya

Kretek sebagai sebuah racikan tembakau, cengkeh, dan tambahan perisa (saus perasa) merupakan temuan dan ide atau gagasan masyarakat lokal Kudus, cermin sistem pengetahuan yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi dan menjadi mata pencaharian yang penting bagi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Ditemukannya racikan kretek untuk pertama kali berdasarkan sumber lisan masyarakat Kudus pada akhir abad ke-19 menunjukkan bahwa usia kretek kini lebih dari 125 tahun. Artinya, usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi, batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda/tak benda menjadi warisan budaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Racikan tembakau, cengkeh, dan perisa merupakan sistem pengetahuan lokal yang sangat berharga. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya yang manual.

Kemampuan industri kretek dalam menyerap banyak tenaga kerja dan menghasilkan cukai dan nilai ekspor hingga puluhan triliun rupiah sebagai pendapatan negara tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Kekuatan ekonomi kretek pada industri hulu dan hilir di sekitarnya tak pelak merupakan aspek monumental industri kretek.

Kini, kretek bisa ditemukan di mana saja. Dari Sabang hingga Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. Lebih dari 17 ribu pulau, dan lebih dari 300 bahasa, kretek selalu ada di antaranya.

Kretek punya tempat istimewa dalam khazanah kebudayaan di Nusantara.

Daftar Isi:

  • Pengantar | Kretek sebagai Warisan Budaya | Hairus Salim HS
  • Kajian | Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda: Sebuah Tinjauan Sosiohistoris | Ghifari Yuristiadhi
  • Kajian | Kapur Sirih, Tembakau, dan Kretek: Tinjauan Sistem Pemaknaan | Melissa C. Mitchell
  • Kajian | Kiprah Komunitas Kretek Melawan Hegemoni Gerakan Antirokok | Ishak Salim
  • Kasus | Kudus Kota Kretek: Gambaran Aspek Sejarah dan Ekonomi | Hasyim Asy’ari
  • Kasus | Memajang Kisah Silam Pascakolonial: Museum Kretek Kudus | G.G. Weix, Dewi Kharisma Michellia (penerjemah)
  • Rehal | Kretek dan Budaya Nusantara [Tinjauan buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes karya Mark Hanusz] | Nuran Wibisono

>> edisi lainnya, lihat daftar jurnal WACANA

>> opini, komentar, ulas buku, bacaan terkait: