Mansour Fakih: Kitab Yang Selalu Terbuka

Rp 50.000,00

Penulis: Puthut EA
Penerjemah: Jessica Champagne
Penerbit: REMDEC & INSISTPress
Edisi: I, Mei 2004
Kolasi: 21x29cm; 28 halaman
Bahasa: Indonesia & Inggris

Description

Mansour Fakih: Kitab Yang Selalu Terbuka (obituari untuk seorang kawan)*

“Aku sulit menerima ajaran bahwa hidup selalu memberi bentangan nasib terbaik bagi setiap manusia. Yang aku tahu, hidup selalu mengambil kawan-kawan terbaik, satu demi satu! Tapi hidup pula yang selalu mengajariku untuk menaruh percaya bahwa ia akan menggantikan kawan terbaik yang telah pergi, dengan tunas muda yang punya sikap dan dedikasi tinggi pada kemanusiaan”. (Bethesda, 8 Februari 2004, dini hari)

Pieter Elmas, salah satu aktivis gerakan sosial di Maluku Tenggara, baru saja sampai di rumah dari mengantar anaknya pergi ke sekolah. Entah kenapa, tiba-tiba ia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu, ia bertemu dengan Mansour Fakih yang sibuk meyakinkan dirinya bahwa ia telah sembuh dari sakitnya. Piet tidak begitu percaya. Tapi Mansour memperlihatkan punggungnya dan mengatakan, “Lihat, ada banyak benjolan di punggungku, itu tandanya penyakitku akan segera keluar dari tubuhku.” Piet memang kemudian melihat banyak benjolan di punggung Mansour. Belum cermat ia meneliti, tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang menutup pintu jalan keluar dari kamar tidur mereka. Dengan segera Pieter mengusir perempuan itu dengan sapu lidi. Tapi perempuan itu bersikukuh tidak mau pergi. Piet terbangun dari mimpi yang meresahkan itu, dan dengan segera ia mengontak seorang temannya di Ambon:”Aku tak mau tahu, aku harus terbang hari ini juga ke Yogya untuk menengok Mansour!”

Sehari sebelumnya, Pieter menerima sms dari salah satu sahabatnya yang tinggal di Yogya, mengabarkan bahwa Mansour Fakih masuk rumah sakit dalam keadaan koma. Tapi Maluku Tenggara ke Yogyakarta bukanlah jarak yang dekat, selain tentu saja pekerjaan yang harus diselesaikannya juga menumpuk. Ia berencana ke Yogyakarta dalam dua-tiga hari lagi. Tapi, begitu ia bermimpi seperti pagi itu, ia tak mungkin lagi menunda kepergiannya untuk menengok Mansour. Bagi masyarakat Kei Maluku Tenggara, bermimpi seperti yang dialami oleh Piet itu adalah sebuah isyarat yang tidak mengenakkan.

Sesampai di Yogyakarta, tak sabar lagi Piet ingin segera melihat Mansour. Di Rumah Sakit Bethesda, banyak orang yang dikenalnya sudah berkumpul, tapi Piet tidak begitu mempedulikan. Ia ingin segera melihat Mansour, sebelum isyarat mimpinya itu menjadi kenyataan. Di hadapan tubuh Mansour yang sudah koma selama tiga hari sebelumnya, Piet tertegun. Mansour Fakih, seorang aktivis gerakan social yang telah lama dikenalnya sebagai sosok yang konsisten, sederhana, penuh semangat dan murah hati, kini terbaring dengan tubuh penuh selang. Dokter memberi keterangan bahwa pembuluh darah di kepalanya pecah. Piet tak lagi bisa membendung airmata yang sudah lama ditahannya. Pikirannya dipenuhi oleh kenangan tentang sahabatnya yang bercita-cita besar untuk menegakkan kemanusiaan itu. Di hadapan tubuh sahabatnya yang terbaring itu, Piet menundukkan kepala: berdoa.

Nama Mansour Fakih tentu tidak asing lagi bagi para aktivis gerakan social di Indonesia, bahkan di tingkat internasional. Terakhir, ia dipercaya menjadi anggota Komite Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Mansour kemudian dipilih sebagai anggota Helsinki Process , suatu forum tingkat internasional yang diprakarsai oleh Kementrian Luar Negeri Finlandia, beberapa negara Selatan dan organisasi non pemerintah (ORNOP) Internasional, untuk mengupayakan jalan keluar masalah globalisasi. Di Helsinki Process, wakil dari Asia hanya ada dua orang, dan salah satunya Mansour Fakih dari Indonesia.

Berbeda dengan kebanyakan kaum intelektual di Indonesia, Mansour tidak tumbuh dari laboratorium sepi dan menara gading intelektual yang angkuh. Ia tumbuh dari dialektika teori dan praktek. Dua gelar (master dan doktor) yang diraihnya di University of Massachusetts, Amerika Serikat, tidak membuatnya besar kepala dan sibuk dengan kemewahan intelektual. Ia menyikapi gelar dan jabatan sebagai alat untuk memperjuangkan apa yang diyakininya.

Perjalanan intelektual Mansour Fakih dimulai ketika ia kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta, Fakultas Ushuluddin di awal tahun 70-an. Di masa itu, IAIN Jakarta adalah sebuah lahan yang subur bagi berbagai pemikiran pembaharuan keagamaan dalam Islam, khususnya rasionalisme teologi yang diprakarsai oleh rektornya masa itu, Harun Nasution. Sebagai murid Profesor Nasution, Mansour aktif dalam pergulatan pemikiran ini dengan kawan-kawan seangkatannya, antara lain, Helmi Ali Yafie, Hadimulyo, Azyumardi Azra, dan Komaruddin Hidayat. Atmosfir intelektual di IAIN Jakarta itu semakin semarak oleh tradisi pergulatan intelektual muda Islam beberapa angkatan sebelumnya yang dipelopori oleh Nurcholis Madjid dan Achmad Wahib. Ketika sebagian besar kawan-kawan Mansour masa itu kemudian lebih membawa pergulatan pemikiran mereka ke aktivitas politik, seiring dengan semakin maraknya gerakan-gerakan mahasiswa menjelang akhir 1970an, Mansour justru lebih memusatkan aktivitasnya pada proses-proses pendidikan bagi para mahasiswa angkatan sesudahnya. Dan, disinilah ia kemudian berjumpa dengan beberapa mahasiswa yang lebih yunior, antara lain, Saleh Abdullah, yang kelak tak dapat dipisahkan dalam hampir semua kegiatan dan kehidupan Mansour.

Mansour mulai menggumuli wacana rasionalisme Islam dengan serius. Mansour waktu itu berkesimpulan bahwa banyak orang di Indonesia yang beragama dengan pemahaman teologis yang keliru. Agama yang berkembang menjadi sesuatu yang dogmatis. Pemahaman Islam yang sekadar menerima agama dan wahyu sebagaimana adanya, akhirnya mengarah pada kejumudan berpikir, terutama di dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Mansour merasa tidak ada korelasi antara ajaran agama dengan persoalan yang tengah dihadapi manusia. Agama benar-benar menjadi setumpuk wahyu dan tata tertib yang ketat dan jauh berada di ketinggian langit. Bahkan, agama dapat menjadi alat bagi kekuasaan untuk melakukan penindasan dengan diam-diam. Pada fase itulah, Mansour menjadi seorang pemuda yang terpesona dan teguh meyakini pemikiran-pemikiran Mu’tazillah, aliran teologi rasional yang sangat terkenal dalam sejarah Islam.

Lulus dari IAIN, Mansour bekerja di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), sebagai seorang petugas lapangan dan peneliti. Pada waktu itulah fikirannya terganggu oleh realitas yang ditemuinya di lapangan. Waktu itu, ia melakukan tugas pendampingan bagi kelompok masyarakat pengrajin di kawasan Sukabumi Udik, Jakarta Selatan. Di sana, ia menyaksikan bagaimana kelompok pengrajin itu telah bekerja keras dan rajin, barang-barang hasil kerajinan mereka pun cukup laku di pasaran, tetapi mereka tetap saja miskin. Inilah yang sangat mengganggu pikirannya, terus mengusik dan akhirnya membuat Mansour sibuk bertanya dan berdiskusi dengan orang-orang yang lebih dulu berada di LP3ES, antara lain, Tawang Alun, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, dan Ismid Hadad. Terutama dari Dawam Rahardjo, Mansour mulai mengenal pemikiran-pemikiran strukturalisme dalam kajian politik ekonomi, sebagai suatu alat analisis terhadap berbagai permasalahan masyarakat. Pendekatan structural ini semakin diyakini oleh Mansour ketika ia mulai terlibat dalam kerja-kerja pendidikan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan pelatihan di Lembaga Studi Pembangunan (LSP) yang didirikan oleh beberapa aktivis senior saat itu, antara lain, Adi Sasono, Soetjipto Wirosardjono, Sritua Arief, dan juga Dawam Raharjo. Di LSP inilah Mansour kemudian semakin banyak bekerja dengan senior lainnya, yang sebelumnya juga sudah bekerja bersamanya di LP3ES, yakni Hutomo Dananjaya (yang lebih dikenal dengan panggilan Mas Tom).

Suatu saat, LP3ES dan LSP ingin memperbarui dan mengembangkan metodologi pendidikan dan pelatihannya. Yang dipercaya untuk ikut membantu itu adalah ‘Kelompok Jayagiri’, suatu kelompok pendidikan non-formal yang bermarkas di Pusat Pelatihan Pendidikan Masyarakat di Jayagiri, Lembang, Bandung. Di kelompok ini ada dua orang aktivis dari Volunteer in Asia (VIA), yakni Russ Dilts dan Craig Thorburn, dua orang yang juga sulit dipisahkan dari banyak kegiatan Mansour di kemudian hari. Kelompok Jayagiri waktu itu bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, mengembangkan metodologi partisipatif (participatory training methodology) yang menggabungkan pendekatan teori kritisnya Jurgen Habermas dari sekolah Frankfurt, dengan teori-teori analisis sosial structural, dan dengan teori-teori psikologi dan aksi sosial dari Kurt Lewin.

Berbekal dengan alat analisis sosial struktural dan metodologi pelatihan partisipatif itulah, Mansour kemudian malang-melintang dalam dunia pendidikan masyarakat. Dan, dalam perjalanan intelektual sekaligus praktik politik semacam itulah ia kemudian bertemu dengan berbagai kelompok maupun perseorangan yang aktif melakukan proses-proses pendidikan kerakyatan (popular education) dan kerja-kerja advokasi. Mansour bertemu dengan orang-orang seperti Toto Rahardjo, Erwin Pandjaitan, Simon Hate, Ahmad Mahmudi, dan Roem Topatimasang. Sederet nama ini adalah orang-orang  yang telah cukup lama bergerak di lapis-bawah melakukan kerja-kerja pengorganisasian rakyat (people organizing). Toto dan Simon khususnya telah lama melakukan kerja-kerja pengorganisasian rakyat melalui media kesenian, terutama teater rakyat (popular theatre). Toto dan Simonlah yang nantinya memperkenalkan Mansour dengan seniman dan budayawan lulusan pondok Gontor, yakni Emha Ainun Nadjib, orang yang kenudian juga banyak menjadi kawan diskusi Mansour mengenai teologi Islam. Dan, melalui orang-orang ini jugalah Mansour kemudian lebih banyak mengenal langsung pemikiran-pemikiran dan metodologi pendidikan kritis (critical methodology of education)dari Paulo Freire. Mansour kemudian mulai berhubungan pula dengan kelompok intelektual dari kalangan katolik yang banyak menerapkan metodologi pendidikan Freirean, seperti Romo Ruedi Hoffmann dari PUSKAT (Pusat Kateketik) dan Romo Mangunwijaya dari Pastoran Salam, Yogyakarta.

Boleh dikatakan bahwa pertemuan antara pendekatan analisis sosial struktural dengan metodologi pendidikan kritis itulah yang merekatkan kembali pemikiran-pemikiran kritis teologi Islamnya Mansour selama ini. Dan, kesempatan untuk mewujudkannya secara lebih terpadu dan sistematis dalam aksi nyata diperoleh Mansour ketika LP3ES dan LSP kemudian mendirikan Perhimpunan Pengembangan & Masyarakat (P3M). Di sinilah kemudian Mansour bertemu dengan beberapa intelektual muda Islam yang progresif justru dari kalangan tradisional, antara lain, Abdurrahman Wahid, Masdar Farid Mas’udi, MM.Billah, Mufid Busyari, dan Muslim Abdurrahman. Juga dengan beberapa kawan lamanya semasa di IAIN, LP3ES, dan LSP, yakni Helmi Ali, Mochtar Abbas, Sugeng Setiadi, dan Driyantono. Beberapa pondok pesantren terkemuka di Jawa menjadi ajang pergumulan praxis mereka. Yang paling menonjol adalah ‘sekolah aktivis akar-rumput’ dengan nama Institut Pengembangan Masyarakat (IPM) di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Setidaknya, ada dua alasan mengapa Pesantren Pabelan menjadi fenomenal waktu itu. Pertama, karena pesantren ini_(yang pernah menerima penghargaan internasional Aga Khan Architectural Memorial Award dan Hadiah Lingkungan Hidup Nasional Kalpataru)_ memang mengembangkan atmosfir intelektual yang terbuka, pegas, dan inklusif. Tak kurang dari orang-orang seperti Romo Mangunwijaya dan Arief Budiman pernah menjadi narasumber tetap di sana. Kedua, karena pemimpin pesantren ini waktu itu, Kyai Hamam Dja’far -yang kemudian terkenal sebagai mitra Romo Mangunwijaya membela penduduk Kedung Ombo- memang sudah dikenal sebagai ulama yang berpikiran terbuka, yang mempersilahkan dan memberi kebebasan kepada mereka untuk mempraktekkan model pendidikan kritis di pesantrennya. Dan, semuanya itu semakin dimungkinkan oleh tiga serangkai yang mengelola IPM (Mochtar Abbas, Sugeng Setiadi, Roem Topatimasang), kawan-kawan lama Mansour sendiri.

Di ‘Kelompok Pabelan’ inilah Mansour semakin mengenal sosok Mochtar Abbas, seorang mahasiswa matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang meninggalkan bangku kuliahnya untuk kemudian memutuskan hidup di desa di lingkungan Pesantren Pabelan. Beberapa tahun kemudian ia bahkan terpilih sebagai Kepala Desa Pabelan. Dan, Mochtar pun menjadi suatu fenomena penting dan menarik di kalangan pergerakan ORNOP di Indonesia saat itu. Tetapi, memang tidak banyak yang tahu bahwa Mochtar sebenarnya adalah pembaca dan pengkaji serius filsafat teologi agama, bahkan sangat terpesona dengan pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran filsafat Krishnamurti. Maka, Mansour pun mendapatkan kawan diskusi serius mengenai filsafat dan teologi yang memang tetap menjadi minat dasar utamanya.

Hubungan Mansour dnegan kawan-kawan aktivisnya terus berlanjut dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan dan politik, hingga kemudian Mansour berangkat ke Amerika Serikat, akhir tahun 1980an, untuk melanjutkan sekolahnya. Sebelum berangkat, terjadi semacam ‘kesepatakan tak tertulis’ dengankawn-kawannya tersebut, bahwa Mansour mendapat semacam tugas untuk ‘menteorikan’ semua kerja-kerja praxis yang dilakukan kawan-kawannya selama ini. Ini adalah sutau kesepakatan sinergis antara ‘orang-orang yang tidak sekolah’ yang berguru langsung pada pengalaman dan kehidupan, dengan seseorang yang kelak akan masuk ke gelanggang intelektual karena legitimasi gelar akademisnya hasil sekolah formal.

Mansour tidak nenyia-nyiakan kepercayaan kawan-kawannya itu. Pada tahun 1990, ia meraih gelar Master of Education dari University of Massachusetts dengan tesis: Participatory Research on Economic Development: A Source Book for Practitioners. Karena kemampuan intelektualnya, almamaternya di Amhest itu memberinya kesempatan melanjutkan terus sekolahnya untuk meraih gelar doktor.

Di kalangan aktivis gerakan social di Indonesia, ada satu mana yang tak dapat dipisahkan dari nama Mansour Fakih, yakni Roem Topatimasang. Mereka berdua dianggap sebagi ‘tandem abadi’. Pertemuan mereka berdua bermula saat Adi Sasono, Dawam Rahardjo, dan Utomo Dananjaya berencana mengembangkan suatu tim ‘fasilitator pelatihan dan pendidikan kerakyatan’ yang handal di LSP. Mansour mengusulkan agar menarik beberapa orang mantan aktivis dan pemimpin gerakan mahasiswa 1978 yang baru saja keluar dari penjara tahanan politik saat itu. Dua orang diantaranya adalah ‘pasangan’ dari Bandung, yakni S.Indro Tjahjono (mantan Presidium Dewan Mahasiswa ITB) dan Roem Topatimasang (mantan Ketua Presidium Dewan Mahasiswa IKIP Bandung). Sementara Indro semakin banyak terlibat dalam lingkaran diskusi politik di Masyarakat Studi Pembangunan (MSP) saat itu, Roem justru semakin memusatkan kegiatannya pada program-program pelatihan danpendidikan di tingkat akar-rumput.

Semenjak itu, Roem mulai menjadi ‘pasangan baru’ Utomo dan Mansour melakukan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan di seluruh Indonesia. Utomo dan Mansour menjadi fasilitator utama, sementara Roem mulanya bertugas merancang modul-modul, panduan-panduan, dan media pendidikan dan pelatihan yang akan digunakan oleh Utomo dan Mansour. Ada satu kejadian menarik, pada salah satu pelatihan untuk para pengurus Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) di Cirebon, pada tahun 1983. Sebagaimana biasanya, Roem mendampingi Utomo dan Mansour sebagi perancang kurikulum, proses dan media pelatihan. Di hari kedua, mungkin Karena terlalu lelah, Utomo dan Masour bangun kesiangan. Begitu bangun, mereka panik dan langsung menuju ke ruang pelatihan. Namun mereka terkejut ketika disana melihat Roem sudah menfasilitasi prose pelatihan. Dan, yang membuat mereka semakin terhenyak adalah karena Roem memfasilitasinya dengan cara yang sangat unik, hidup, dan menarik. Sejak itu, Utomo dan Mansour ‘membaptis’ Roem sebagai tandem mereka.

Pasangan Mansour dan Roem merupakan pasangan ideal dalam memfasilitasi proses-proses pelatihan dan pendidikan. Mansour dengan bekal teori dan latar belakang akademisnya, sedangkan Roem dengan latar belakang pengalaman empiriknya sebagai aktivis gerakan politik mahasiswa dan pengorganisir rakyat lapis-bawah. Dalam membahas suatu topik, misalnya, biasanya Mansour selalu memulainya dengan suatu teori tertentu, baru kemudian dikaitkan dengan realitas permasalahan yang ada. Sebaliknya, Roem selalu memulai dari realitas permasalahan nyata dan pengalaman empirik, baru kemudian menariknya menuju ke aras teori.

Roem dikenal sebagai aktivis yang lebih memilih melakukan kerja-kerja pengorganisasian di berbagai daerah di Indonesia, dan sejak tahun 1990an juga di beberapa negara Asia Tenggara (Malaysia, Cambodia, Vietnam, Thailand, Burma, dan Timor Lorosa’e). Ia terlibat aktif melakukan pengorganisasian rakyat di jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara, dengan berbagai issu dan permasalahan masyarakatnya masing-masing. Roem pula yang akhirnya ‘memaksa’ Mansour menerima beasiswa melanjutkan sekolahnya. Waktu itu, Mansour sebenarnya masih sungkan dan setengah hati menerima beasiswa tersebut, karena merasa dunia akademik bukanlah dunianya. Dia hampir saja menolak tawaran tersebut. Demikian juga halnya ketika ada tawaran menjadi Country Representative (CR) OXFAM-UK/I di Indonesia. Mansour awalnya bimbang, tapi akhirnya ia menerima juga jabatan itu setelah beradu argumentasi cukup lama dan alot dengan Roem. Kawan-kawan lamanya, terutama Toto Raharjo dan Erwin Panjaitan, juga mendukung Roem.

Pieter mengenal Mansour Fakih ketika ia pulang ke Indonesia dalam rangka penelitian disertasi doktornya. Pertama kali bertemu Mansour di suatu lokakarya di Baturaden, Purwokerta, Jawa Tengah, tahun 1989. Lokakarya baturaden itu adalah suatu forum refleksi bagi para aktivis ORNOP yang diprakarsai oleh Roem Topatimasang, Toto Rahardjo, Erwin Panjaitan didukung oleh Simon Hate, Mochtar Abbas, Saleh Abdullah, dan S. Indro Tjahjono. Forum itu diadakan karena mereka melihat ada yang ‘tidak beres’ dalam kerja-kerja ORNOP Indonesia yang mulai tumbuh bagai jamur saat itu. Mereka mulai gelisah melihat bahwa sebenarnya nyaris tak ada perubahan sosial berarti yang dihasilkan oleh semakin banyak ORNOP tesebut. Mereka pun mengundang Mansour (yang sedang berlibur saat itu) untuk membantu memfasilitasi ajang refleksi bersama ini, khususnya dari tinjauan teori-teori dan kritik pembangunan. Bersama Mansour, forum ini berhasil membongkar kinerja ORNOP. Indonesia yang ternyata juga menganut paradigma yang sama dengan paradigma “pembangunanisme’ (developmentalism)nya pemerintah selama ini.

Kali kedua pertemuan Pieter dengan Mansour adalah tahun 1992, ketika Roem Tomatipasang merekomendasikan Mansour melakukan penelitian lanjutan di Maluku Tenggara. Dan, saat itulah Mansour bertemu dan mengenal seorang anak muda yang juga sedang aktif memfasilitasi kerja-kerja pengorganisasian rakyat yang sedang berlangsung di sana. Dia adalah Don Marut yang saat itu bekerja sebagai Program Officer OXFAM-UK/I untuk Maluku, yang juga memilih Maluku sebagai wilayah kerjanya atas rekomendasi Roem. Rupa-rupanya, di Maluku Tenggara itulah Mansour dan Don menemukan labolatorium hidup yang kelak memperkaya pengalaman mereka menapaki jalan dan panggilan untuk berjaga bagi kemanusiaan.

Waktu itu, suatu peristiwa luar biasa sedang terjadi di sana, tepatnya di pulau Yamdena, Kaepulauan Tanimbar. Masyarakat adat tempatan di sana sedang berhadapan dengan kekejaman aparat keamanan dan negara. Mereka menentang izin konsensi pembalakan hutan (HPH) dalam kawasan ulayat adat mereka. Mereka marah. Hajat hidup mereka sedang diporak-porandakan oleh suatu system yang mengatasnamakan ‘kebijakan negara’ dan ‘kepentingan umum’. Bekerja sama dan dibantu oleh Roem dan Don, Pieter memfasilitasi mereka menentang kebijakan brutal tersebut. Mereka mempersenjatai diri dengan semua bentuk advokasi yang memungkinkan saat itu: aksi massa, blokade lokasi, kampanye pendapat umum, sampai lobi-lobi di tingkat nasional dan internasional. Pada aras kampanye dan lobi inilah Mansour menjalankan perannya sendiri dan kembali bertemu dengan dua kawan lamanya, Saleh Abdullah dan S. Indra Tjahjono, kedianya waktu itu memimpin Sekretariat Kerja Sama Pelestarian Hutan Indonesia (SKPEPI) dan Indonesian Front For Defense Of Human Right (INFIGHT) di Jakarta. Dan, di sini pulalah Mansour bertemu untuk pertama kali dengan Hira Jhamtani, seorang aktivis lingkungan yang dengan segera menemukan kesamaan pandangan dengan Mansour mengenai aspek-aspek global dari masalah lingkungan hidup dalam kaitannya dengan proses tranformasi dan perubahan social. Mereka berlima (Mansour, Indro, Hira, Saleh dan Don) mulai serius mengembangkan suatu ‘analisis global’ terhadap issu-issu lingkungan hidup, hak-hak masyarakat adat, dab hak-hak asasi manusia umumnya. Saat itu, mereka sempat merumuskan bersama suatu kerangka analisis yang mereka sebut sebagai ‘the poliyics of bio-tranformation’, suatu kerangka analisis yang kala itu dianggap ‘nyeleneh’ atau ‘terlalu radikal’ bahkan oleh kalangan aktivis ORNOP sekali pun.

Berbekal semua pengalaman dari semua kawan-kawan itulah, Mansour mulai menyusun suatu kerangka analisis sendiri untuk keperluan menyusun disertasi doktornya. Dibantu oleh satu tim khusus yang terdiri dari kawan-kawan lamanya (Sugeng Setiadi, MM. Bilah, Helmi Ali, Mufid Busyairi, Mochtar Abbas, Ahmad Mahmudi, Saleh Abdullah, S. Indro Tjahjono, dan Roem Tomatipasang), dia mulai mengorganisir beberapa pertemuan reflektif dan rekolektif dengan berbagai kalangan. Rangkaian pertemuan ini sekaligus merupakan proses penelitiannya yang kemudian dirampungkan dalam disertasi doktoralnya: The Role of Non Govermental Organizations in SocialTranformation: A Participatory Inquiry in Indonesia. Disertasi inilah yang membuatnya berhak menyandang gelar Doctor of Education (D.ed) dari University of Massachusetts pada tahun 1994.

Selama di Amerika Serikat (1988-1994), pemikiran Mansour diperkaya oleh pemikiran Antonio Gramsci dan juga pandangan-pandangan serta teori-teori gerakan feminisme. Salah seorang professor penyelianya adalah Arturo Escobar, seorang pakar antropologi dari Amerika latin yang ‘memperkaya’ Teori Ketergantungan -yang paling sering digunakan untuk menjelaskan masalah kemiskinan dan keterbelakangan di Amerika Latin- dengan unsur-unsur dan analisis kebudayaan dan teori gerakan social. Teori Ketergantungan saat itu memang masih kental diwarnai oleh analisis klasik Marxian yang terlalu structural dan deterministic. Sementara itu, seorang mahasiswa senior di Amherst ketika itu adalah William Smith, orang yang kemudian menyelesaikan disertasi doktoralnya tentang teori pemikiran dan praktekpendidikan dan pembebasannya Paulo Freire. Boleh dikata, Smith adalah ‘murid langsung’ Freire, pernah terlibat beberapa tahun dalam kerja-kerja lapangan bersama Freire di Amerika Latin. Maka, disertasi doktoralnya itu sampai sekarang dianggap sebagai salah satu sumber yang mampu memberikan penafsiran lengkap dan terbaik atas pemikiran dan karya-karya Freire. Mansour beruntung beberapa kali mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan Smith, dan juga Freire sendiri. Mansour pun mulai mendalami sejarah perubahan social di negara-negara Amerika latin.

Di sela kesibukannya menyusun disertasi itu, orang yang tergila-gila dengan film The Burning Season dan Apocalypse Now ini, pendengar setia Pink Floyd dan Goerge Santana, serta pelahap roman-roman Pramoedya Ananta Toer ini, dipercaya menduduki jabatan sebagai Country Representative OXFAM-UK/I di Indonesia. Mansour benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk mendukung munculnya ‘gerakan-gerakan baru perubahan sosial’ di berbagai wilayah dan dalam berbagai issu strategis di Indonesia. Mansour melanjutkan diskusi intensifnya dengan S. Indro Tjahjono dan Hira Jhamtani yang memiliki keresahan yang sama dengan gejala kemunculan ‘neoliberalisme’. Dan, dengan penmguasaan yang sangat baik mengenai teori pemikiran dan gerakan feminisme. Mansour juga memanfaatkan sumber daya OXFAM-UK/I saat itu untuk memperkenalkan pendekatan dan analisis gender secara holistik dan mendalam, khususnya di kalangan aktifis ORNOP di Indonesia. Boleh dikata, inilah karyannya yang paling fenomenal, memperkenalkan dan mengembangkan analisis gender sebagai suatu alat analisis sosial secara holistik dan sistematik, bahkan sampai ke tingkat implementasi progamatik dan metodologi praxisnya. Para aktivis gerakan perempuan di Indonesia berhutang padanya dalam hal ini. Sebelumnya, banyak aktivis memahami teori dan anailisis gender tersebut secara parsial, fragmentatif, atau paling banter hanya sampai aras ‘wacana teoritik’ saja.

Gelar doktor yang dibawanya pulang dari Amerika Serikat tidak membuat Mansour melirik ranah lain untuk meneruskan perjalanan hidupnya. Ia tetap bersetia pada ranah pendidikan kerkayatan bersama kawan-kawan lamanya. Pada tahun 1994, dia bergabung dengan sembilan kawan lamanya (Roem Topamtimasang, Zumrotin K. Susilo, Wardah Hafidz, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Fauzi Abdullah, Mahendro, August Rumansara, Roy Tjiong, Sugeng Setiadi, dan Wilarsa Budiharga) mendirikan Resources Management & Development Consultants (REMDEC) di Jakarta, suatu lembaga pelayanan fasilitasi dan konsultasi pengembangan kemampuan (capacity building) organisasi-organisasi non pemerintah dan masyarakat. Melalui berbagai kegiatan pelatihan dan konsultasi oleh REMDEC inilah, dia tetap memelihara kontak langsungnya dengan berbagai oraganisasi gerakan sosial dan para aktivis pengorganisasian rakyat di seluruh Indonesia. Dan, di REMDEC ini jugalah Mansour bersama Wilarsa Budiharga, Sylvia Tiwon, dan Ayi Bunyamin, merintis suatu divis khusus pengkajian dan pengembangan dengan nama ‘Praxis’.

Hingga tahun 1997, saat rezim Soeharto sedang ganas karena suhu politik semakin meninggi, Mansour kembali mengajak beberapa kawan lamanya memikirkan suatu wadah baru yang bersifat ‘lebih longgar’ dibanding REMDEC yang berbadan hukum resmi sebagai perseroan terbatas (PT). Seperti biasa, awal dari suatu gagasan baru semacam ini terlahir dan digodok bersama dengan ‘tandem abadi’nya, Roem Topatimasang , yang waktu itu juga sedang bersiap-siap mencari tempat baru setelah sekitar 5 tahun menetap dan bekerja di Maluku. Mereka berdua lalu mengajak beberapa kawan lama (Rizal Malik, Sri Kusyuniati, Sita Aripurnami, Fauzi Abdullah, dan Wilarsa Budiharga) mendirikan Institute for Social Transformation (INSIST) di Yogyakarta. Segera setelah INSIST resmi terbentuk, beberapa kawan lama lainnya segara ikut bergabung, antara lain, Toto Raharjo, Saleh Abdullah, Amir Sutoko, Simon Hate, Noer Fauzi, dan Yando Zakaria.

Beberapa orang intelektual juga kemudian ikut aktif dan bergabung dalam berbagai kegiatan INSIST, antara lain, P.M. Laksono, Francis Wahono, dan Ivan A.Hadar. Seorang pemuda yang dulu dikenal oleh Mansour di Maluku Tenggara dan kemudian ikut bergabung pula pada tahun 2003. Setelah menyelesaikan gelar masternya di Cambridge University, Inggris, Don menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif South East Asia Committee for Advocacy (SEACA) yang berkedudukan di Bangkok, Thailand, sambil menyelesaikan gelar masternya yang lain di Universitas Chulalongkorn. Ketika kontrak kerjanya selesai di Bangkok, Mansour segera menarik Don pulang ke Yogyakarta dan dipercayakan menjabat sebagai Direktur INSIST. Prakttis, INSIST kini berkembang menjadi suatu organisasi terbuka bagi banyak aktivis gerakan sosial dan intelektual dari berbagai tempat di seluruh Undonesia. Mansour sendiri suka sekali menyebut INSIST sebagai ‘sekolahnya para aktivis gerakan sosial di Indonesia’.

Banyak aktivis terkemuka dari berbagai tempat di Indonesia juga selalu menjadikan INSIST sebagai ‘tempat singgah dan refleksi’ mereka, antara lain, Budi Setianto dan Yusuf Sawai (Papua), Nus Ukru atau George Corputty (Maluku), Hedar Laudjeng dan Ahris Palinduri (Sulawesi), Ahmad Harbandi (Kalimantan Selatan), John Bala (Flores), Made Suarnatha dan Yoga Atmajaya (Bali), Nani Zulminarni (Jakarta), Henri Saragih dan Ahmad Sfoyan (Sumatera Utara). Bahkan juga Nuno Rodriguez, Abel Santos, dan Ego Lemos dari Timor Lorosa’e. Puluhan aktivis muda juga telah dilahirkan oleh INSIST melalui program Indonesia Volunteers for Social Movement (INVOLEVMENT) yang terbesar di berbagai daerah di Indonesia dan Timor Lorosa’e. Bahkan, beberapa penulis, sastrawan, dan budayawan muda berwawasan transformasi sosial, juga mulai dilahirkan oleh INSIST melalui Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY). Bersama Roem Topatimasang,  Anu Lounela, dan Eko Prasetyo, Mansour memimpin Dewan Redaksi Tetap Jurnal INSIST, WACANA, yang kini menjadi salah satu jurnal pemikiran yang diperhitungkan di Indonesia, suatu jurnal yanglebih bermaksud mewadahi pergulatan wacana tranfromasi sosial, bukan sekedar menyalurkan kegenitan intelektual.

Maka, dari komposisi orang-orang tersebut kita segara dapat melihat bagaimana sebenarnya ‘isi kepala’ INSIST: berbagai orang dari beragam keahlian danlatar belakang, berkumpul tanpa mempedulikan asal-usul, ras, agama, senioritas, dan lulusan dari sekolah mana atau bergelar sarajana atau tidak. Kebanyakan dari mereka adalah justru orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki ‘nama besar’ apapun. Mereka umunya adalah ‘orang-orang biasa’ saja dari ‘kalangan orang biasa’ juga. Emha Ainun Najib dan kawan-kawannya dari komunitas Kyai Kanjeng dan Teater Dinasti, pada bulan Oktober 2003, sempat memberikan semacam ‘kado ulang tahun’ INSIST dengan pementasan musikalisasi puisi bertajuk ‘Kesaksisan Orang Biasa’. Dan, serba ‘orang biasa’ itu pulalah latar belakang pribadi Mansour Sendiri. ***

Terlahir di Bojonergoro, Jawa Timur, pada tanggal Oktober 1953, dari keluarga orang biasa atau kalangan awam, Mansour menikah dengan Nena Lam’anah, teman satu angkatannya sewaktu kuliah di IAIN Jakarta. Mereka dikarunia dua orang putra, Farabi Fakih (22) dan Fariz Fakih (19).

Ketika Mansour masih duduk di bangku Sekolah Dasar di kampungnya, ia pernah mengalami sesuatu peristiwa yang cukup membekas dalam ingatannya dan membawa dampak panjang dalam pandangan politiknya. Sebagaimana lazimnya anak-anak waktu itu, Mansour hendak ikut meramaikan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Di Bojonegoro saat itu, bila ada peringatan kemerdekaan, diadakan lomba baris-berbaris tingkat kecamatan dan kabupaten. Mansour sudah jauh hari berpesan kepada ibunya agar dipersiapkan pakaian terbaiknya untuk ikut ambil bagian dalam lomba baris-berbaris itu. Ternyata, ia tidak terpilih, semata-mata karena alasan tubuhnya terlalu pendek. Mansour kecil sangat kecewa, dan sejak saat itu ia selalu merasa punya ikatan emosional dengan orang-orang yang bertubuh “kurang atau tidak sempurna” menurut anggapan umum. Perasaan itu semakin menguat ketika ia terserang stroke pertama kali pada tahun 1988, dengan akibat melemahnya beberapa fungsi organik tubuhnya.

Itulah yang membuatnya sangat bersemangat ketika organisasi “penyandang cacat” di Yogyakarta (Dria Manunggal) meminta bantuannya memfasilitasi proses perjuangan menuntut hak-hak mereka. Bersama pimpinan organisasi tersebut, Pak Setyo, Mansour bahkan menolak menggunakan istilah “penyandang cacat” atau “tidak mampu” (disable), dan mengajukan sesuatu istilah tandingan, yakni diffable (singkatan dari different  ability) atau ‘memiliki kemampuan yang berbeda’. Mansour selalu bersemangat membahas masalah ini sebagai bagian integral dari keseluruhan perjuangan hak-hak asasi manusia. Dilatari oleh perjalanan intelektual-nya yang sarat dengan pergolakan pemikiran tentang penentangan ketidakadilan dan gerakan sosial untuk mengubahnya, dapat dimakslumi jika Mansour kemudian sangat menonjolkan masalah hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, ketika ia mulai terlibat dalam gerakan hak asasi manusia, antara lain melalui KOMNAS HAM.

Di kalangan teman-temannya, Mansour juga dikenal sebagai orang yang memiliki selera humor yang tinggi. Tiga hari sebelum serangan stroke yang kedua yang membawanya masuk ke rumah sakit Bethesda pada tanggal 6 Februari 2004, Saleh Abdullah menerima email beserta lampiran foto saat Mansour memegang seekor kerapu besar (sekitar 15 kg) hasil pancingannya di perairan kepulauan Kei. Dalam email itu Mansour menulis, “Di dunia ini, ada tiga kategori yang membedakan manusia. Satu, orang yang memeluk neo-liberalisme dan mereka yang melawannya. Kedua, orang yang masih menggunakan Microsoft dengan orang yang menggunakan Linux. Ketiga, orang yang tidak bias memancing dengan mereka yang bisa memancing.” Tentu saja, Saleh tertawa terbahak-bahak membaca email tersebut. Mansour memang sangat anti neoliberalisme dan sejak 2003 mulai menggunakan program Linux di computer notebook-nya (setelah dijelaskan oleh beberapa kawan dekatnya bahwa itupun merupakan bagian dari aksi menentang rezim hak kepemilikan intelektual yang didukung oleh neo-liberalisme itu). Tetapi, Saleh tidak yakin kalau Mansour memang berminat dan bisa memancing ikan di laut.

Di Indonesia, menjadi seseorang yang berdiri kokoh dan sanggup merumuskan dirinya bukanlah perkara yang sederhana. Seseorang bisa menjadi dan dianggap ‘orang’ jika punya ‘trah’, kasta, dan asal-usul yang jelas. Asal-usul keluarga, latar-belakang komunitas, kelompok maupun institusi berpengaruh besar dan menjadi semacam passport untuk melakukan mobilisasi vertikal dan horisontal. Tidak heran jika sampai sekarang, apabila ada seseorang yang melejit namanya selalu dihubungkan dengan pertanyaan; Dari mana dia berasal? Siapa saja tokoh besar yang di belakangnya? Institusi apa yang memback up-nya?

Dalam hal seperti itu, Mansour adalah potret yang mewakili orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya, tidak jernih kastanya, dan kabur ‘trah’ sosial politik dan sosial ekonominya. Ia berada dalam peta orang-orang yang dianggap tidak jelas. Dan untuk orang seperti dia, sepertinya sejarah tidak perlu mencatatnya.

Ya, Mansour adalah sosok orang biasa, lahir dari keluarga biasa yang kebetulan mempunyai kesempatan untuk mengenyam ilmu di kota. Ia sama dengan orang biasa yang lain, dimana ketidakadilan bisa terlihat dengan kasat mata dan tidak perlu jauh-jauh mata memandang, serta sangat bisa marah menyaksikan itu semua. Dan Mansour juga menyadari bahwa ia adalah orang yang lemah. Oleh karena itu ia butuh kawan dan organisasi untuk bersama-sama mewujudkan apa yang diinginkannya. Mungkin itu pula sebab mengapa Mansour terlihat begitu getol merintis organisasi dan komunitas. Mansour selalu berfikir bahwa organisasi merupakan tempat pembelajaran berkelanjutan atas dasar pengalaman bersama bagi orang-orang yang selalu gelisah seperti dirinya. Bagi Mansour dan orang-orang sejenisnya hanya ada dua hal yang menjadi batu pijakan agar tetap kokoh: belajar dari pengalaman kebersamaan, dan konsisten dalam menetapkan pilihan. Dua-duanya rumit, dan selalu ada harga yang harus dibayar pada setiap pilihan.

Di mata kawan-kawannya, Mansour adalah sosok yang juga memiliki kekurangan. Ia dipandang sebagai orang yang paling tidak bisa untuk mengucapkan kata “tidak!”. Sehingga, banyak hal yang sebetulnya sederhana akan menjadi rumit di kepala Mansour, hanya karena ia tak tega untuk menolak, mengecewakan dan menyakiti orang lain. Tapi kekurangan itu tetap bisa digeser menjadi kelebihan. Sebab dengan sikap seperti itu, menjadikan Mansour lebih gampang diterima oleh banyak pihak dan, karena itu pula, pemikiran-pemikirannya dapat bergerak bergerilya di forum-forum maupun kelompok-kelompok yang lebih majemuk. Begitulah manusia biasa, setiap kekurangan selalu punya potensi menjadi kelebihan, dan demikian juga sebaliknya.

Pieter melangkah gontai keluar dari ruangan dimana Mansour terbaring. Ia melewati kerumunan orang-orang yang murung, penuh doa, dengan baying kesedihan yang sulit ditembus oleh basa-basi apapun. Di ruang tunggu, ia duduk dan mengenang suatu malam terakhir, beberapa minggu saja yang lewat, di kampung asalnya di desa Uvu di Pulau Kei Kecil di Maluku tenggara,dimana ia melihat Mansour dengan wajah ceria memamerkan ikan hasil pancingannya. Sementara di sampingnya, seorang anak muda mendendangkan lagu lirih yang syairnya diambil dari epitaf Ali Archam:

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas Hari ini lahir dari masamu Tangan kami yang meneruskan Kerja agung juang dalam hidupmu Kami tancapkan kata mulia Hidup penuh harapan Suluh dinyalakan dalam malammu Kami yang meneruskan Kepada pelanjut angkatan

Pieter tergeriap, ia seperti disadarkan bahwa Mansour ibarat suatu kitab yang senantiasa terbuka, yang dipersilakan bagi siapapun untuk membacanya dan menjadikannya pengalaman berharga untuk cita-cita bersama. []

*Naskah oleh Puthut EA, Februari 2004, ditulis dalam rangka mengenang  seratus (100) hari meninggalnya Mansour Fakih, aktivis gerakan sosial di Indonesia, yang tutup usia pada 16 Februari 2004. Naskah ini dibukukan dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

 

Lihat selengkapnya eBook, klik gratis