Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis

Rp 50.000,00

TIDAK ADA OTORITAS PENGETAHUAN SESEORANG LEBIH TINGGI DARI YANG LAINNYA. KEABSAHAN PENGETAHUAN SESEORANG DITENTUKAN OLEH PEMBUKTIANNYA DALAM REALITAS TINDAKAN ATAU PENGALAMAN LANGSUNG, BUKAN PADA RETORIKA TEORITIK ATAU “KEPINTARAN ORANG” BELAKA. 

Description

Belajar dari realitas atau pengalaman yang dipelajari atau bukan “ajaran” (teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, nasehat, khotbah, pidato dan sebagainya) dari seseorang, tetapi keadaan nyata masyarakat atau pengalaman seseorang atau sekelompok orang tertentu yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut.
Akibatnya tidak ada otoritas pengetahuan seseorang lebih tinggi dari yang lainnya. Keabsahan pengetahuan seseorang ditentukan oleh pembuktiannya dalam realitas tindakan atau pengalaman langsung, bukan pada retorika teoritik atau “kepintaran orang” belaka. ***

Pengantar Penyunting*

“Buku ini dirancang berdasarkan pengalaman para Pemandu/Fasilitator maupun pelaku dalam menyelenggarakan proses belajar bersama masyarakat. Seyogyanya buku ini tidak harus dibaca dari awal sampai akhir. Anda bisa memulai dari lembar mana saja sebab rancangan buku ini memang dimaksudkan hanya sebagai alat bantu proses, dan mendorong sesuatu yang nyata. Buku ini bukanlah ‘kitab suci’ yang tidak diperkenankan untuk diubah. Di sisi lain, buku ini juga dapat digunakan sebagai pendukung dalam rangka penyelenggaraan proses belajar, terutama model-model partisipatif. Model tersebut didukung oleh pemikiran dan konsep yang detail. Walaupun buku ini mengandung banyak catatan untuk para fasilitator pendidikan rakyat, tetapi buku ini juga bisa dinikmati sebagaimana buku bacaan lainnya oleh siapa saja.

Jika Anda Pemandu/Fasilitator yang berpengalaman, Anda akan tahu bahwa tidak ada proses belajar yang tidak menyenangkan. Setiap terlibat dalam proses belajar bersama merupakan waktu yang baik untuk mencoba sesuatu yang baru tentang manajemen dinamika kelompok, dan tentang kepentingan anda juga.

Jika Anda baru berlatih, jangan hiraukan dan tidak perlu khawatir didorong agar mampu dengan kesadarannya sendiri memilih peran dalam masyarakat. Bahkan secara lebih jauh, dalam kerangka apakah dan di mana posisi pendidikan itu? Sering kali proses belajar hanya untuk belajar, bukan untuk apa-apa. Apakah proses belajar dimaksudkan sebagai upaya proses perubahan?

Terlepas dari perdebatan pemaknaan terhadap praktik pendidikan, peranan pendidikan atau proses belajar mengajar itu sendiri sering menjadikan pesertanya justru tidak mampu mencapai tujuannya manakala teknik, metode, dan pendekatan filosofi yang digunakan tidak tepat. Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, salah satunya adalah tidak dilibatkannya peran, pengalaman, dan pengetahuan peserta (warga belajar) tersebut. Pada konteks ini muncul satu metode pendidikan yang mengedepankan pendekatan participatory pesertanya sebagai subjek, bukan sebagai objek yang harus diceramahi. Peserta menjadi seorang partisipan yang diharapkan terlibat secara utuh dan penuh dalam proses pendidikan. Konsep yang dianut dalam metode seperti ini menggunakan pendekatan pendidikan untuk orang dewasa (adult education) yang semua materi pendidikannya berbasiskan pengalaman dan pengetahuan partisipan itu sendiri.

Buku Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis ini dimaksudkan untuk mengurai pengalaman para pengguna metode pendidikan partisipatif kepada para fasilitator lain atau yang sedang belajar menjadi fasilitator masyarakat. Dalam proses penyusunan naskah buku ini memang sempat muncul pergumulan ketika ditemukan kontradiksi antara semangat ingin membukukan pengalaman agar bisa diambil pelajarannya oleh pengguna buku ini dengan idealisme untuk senantiasa menggunakan prinsip-prinsip partsipatif dalam semua media pendidikan.

Untuk itu buku ini seyogyanya ditempatkan sebagai media pendidikan, karena bagaimana mungkin menerapkan prinsip partisipatif jika saat penyusunannya sudah meletakkan segala-galanya secara ketat; rumusan, model, pola, atau teknik bahkan tujuan menyelenggarakan pendidikan.tentang elemen-elemen buku ini, seperti halnya saat memfasilitasi proses belajar bersama yang efektif pada waktu pertama, atau kedua, atau ketiga. Proses improvisasi dan pengembangan kemampuan Anda sebagai fasilitator tidak akan pernah selesai. Jalan terbaik adalah segera memulai dan belajar mengerjakan secara langsung, berangkat dari persoalan yang ada. Pengalaman yang diperoleh dari kritik diri sendiri, selalu akan berguna bagi proses ditemukannya pengalaman dan ide-ide baru.

Semua pengetahuan akhirnya merupakan proses belajar. Setiap individu akan mengalami perbedaan dalam hal proses dan standar. Satu individu mungkin belajar lebih baik lewat membaca dan ikut dalam aktivitas, bahkan akan lebih kuat lagi kalau menjadi bagian dari warga belajar itu sendiri. Jika kita memperhatikan pelajaran kita, peran Anda sebagai fasilitator adalah membantu orang lain mengidentifikasi diri mereka sendiri dan mengumpulkan hal yang diperlukan, prioritas dan potensi yang dimiliki. Dengan media yang ada, Anda berperan membantu dan sekaligus dibantu warga belajar untuk mengembangkan kemampuan secara partisipatif.

Selain persoalan-persoalan teknis menyangkut proses belajar bersama secara partisipatif, buku ini di dalamnya berisikan ajakan untuk mempergumulkan soal pemikiran, praktik-praktik dan sistem belajar yang ada. Karena tak dapat dipungkiri bahwa ada perbedaan dalam penyelenggaraan proses belajar—bagaimana memaknai pendidikan; ada yang lebih menekankan pencapaian hasil, ada juga yang tekanannya justru lebih pada proses. Pada sisi hasil, karena pengaruh paradigma yang dianut, tanpa disadari prosesnya justru menjinakkan warga belajar, padahal tujuannya adalah memberdayakan. Dalam pemaknaan yang lain, praktik pendidikan lebih banyak memberikan pengetahuan dan tidak semata meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan sebagai penunjang peran dalam masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan lebih diarahkan agar orang yang mengikuti pendidikan tidak sekadar mengembangkan keterampilan penunjang peran, peserta belajar justru di situlah kontradiksinya apabila Anda tidak memprosesnya, tidak mengolahnya, bahkan hanya menelan mentah-mentah bahan buku ini ketika mau dipraktikkan.

Dengan menyadari keadaan seperti itu, akhirnya penyusunan bagian-bagian dari buku ini dengan sadar selalu kami bandingkan dan kaitkan dengan pengalaman. Buku ini memang bukan seperti supermi yang tinggal diseduh dan langsung bisa dinikmati. Walaupun banyak tulisan tentang prinsip atau kaidah, media, hingga manajemen penyelenggaraan pendidikan dengan gaya bertutur dan terkesan seperti berteori, namun sebenarnya sedang tidak semata-mata berteori, karena justru pada saat itulah sesungguhnya sedang terjadi proses menemukan teori dari pengalaman yang dialami selama ini. Oleh karena itu beberapa tulisan sengaja diolah di sana-sini untuk dipadukan dengan pengalaman nyata sehingga membentuk struktur susunan pengalaman.

Mudah-mudahan antara tujuan pendekatan pendidikan partisipatif untuk memanfaatkan basis pengalaman partisipan yang menjadi ide dasar penyusunan buku ini dapat bertemu pada jalur yang sama; yakni pengalaman yang terstruktur (structured experience).”

*Mansour Fakih, dalam pengantar, hlm. vii-x.


•Judul: Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis (Edisi Tahun 2010) •Penyunting: Roem Topatimasang, Mansour Fakih, &  Toto Rahardjo •Ilustrasi: Faisal Ismail •Desain isi: Faiq Aminuddin •Desain sampul: Martopo Waluyono •Penerbit: INSISTPress •ISBN: 979-3457-25-2 •Edisi: Cetakan ke#4, April 2010 •Kolasi: 17 x 24cm; xxii + 274 halaman.

>> Jejak cetakan terbit:

>> Opini, komentar, ulasan, dan tulisan terkait:

 

 

Additional information

Penyunting

Roem Topatimasang, Mansour Fakih, & Toto Rahardjo

Desain sampul

Martopo Waluyono

Desain isi

Faiq Aminuddin

ISBN

979-3457-25-2

Penerbit

INSISTPress

Tahun Terbit

Cetakan ke-4, April 2010.

Kolasi

17 x 24cm; xxii + 274 halaman.