Sekolah Apa Ini?

Rp 70.000,00

Penyusun: Gernatatiti, Karunianingtyas Rejeki, Sri Wahyaningsih
Kontributor: Margareth Widhy Pratiwi, Margaretha Widiastutik, Windarki Rahayu, Anita Kusumawati, Dian Martiningrum, Kurnia (Imung) Pamungkas K, Butet RSM, Ivy Sudjana, Samuel Trionggo, Natalia Ika, Reren Indranila, Ubaidillah Fatawi, Nandhanimulaning Luga, Hendra Andrea
Editor: Bambang Wisudo
Penyelaras Akhir: Achmad Choirudin
Perwajahan Isi: Damar N. Sosodoro
Ilustrasi Sampul: Bentarto Yuntarto
Penerbit: INSISTPress
ISBN: 978-602-0857-84-8
Cetakan: Pertama, Juni 2019
Kolasi: xviii + 240 halaman/14 x 20 cm

Description

Bila Anda setuju dengan apa yang telah diungkapkan dalam buku ini, kami lebih bahagia justru ketika kami mendengar Anda melakukan, mempraktikan di lingkungan terkecil Anda.

Lebih lanjut kami mengajak Anda untuk membuat, membangun SALAM-SALAM lain menurut versi Anda yang sesuai dengan konteks di lingkungan Anda.

“Jika Anda bukan bagian dari penyelesaian, Anda merupakan bagian dari persoalan.”

Toto Rahardjo, pendiri Salam

 

Memupuk dan menumbuhkan kebiasaan (sikap & perilaku) “bertanya yang mempertanyakan” itulah yang membedakan mendasar atara SALAM dengan lembaga-lembaga pendidikan atau persekolahan formal pada umumnya. Di SALAM, sejak usia dini anak-anak sudah dibiasakan bebas mengajukannya. Tak ada pembatasan sama sekali. Bahkan, para murid dan siswa di sana sudah tidak lagi mengenal mata pelajaran, pengkotak-kotakan ilmu yang membutakan seseorang untuk melihat unsusr dasar lain dari sari pati pengetahuan: hubungan keterkaitan (relasi) antar-berbagai hal yang membentuk pemahaman menyeluruh tentang sesuatu. Itulah yang memungkinkan para murid dan siswa SALAM lebih akrab dan paham makna istilah riset (re-search). Mereka melakukan dan mengalaminya sendiri, langsung dalam praktik sehari-hari. Anak-anak sebaya mereka di sekolah-sekolah konvensional mungkin baru akan mendengar istilah itu nanti setelah mereka menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.

Roem Topatimasang, pendiri INSIST

 

___________________________________________________________________________________________

Opini, komentar, ulasan, dan tulisan terkait:

Additional information

PENGANTAR

MENGUPAYAKAN EKOSISTEM BELAJAR
Toto Rahardjo
Pendiri SALAM

KETIKA komunitas belajar SALAM mulai meyakini bahwa ekosistem belajar jauh lebih penting ketimbang pernak-pernik yang tidak esensial dalam menyelenggarakan proses belajar, berbagai pihak di luar sana masih disibukkan dengan berbagai macam metode belajar dan teknik pengasuhan (parenting) yang sering kali tidak berakar pada kenyataan. Bahkan akhir-akhir ini, ketika fenomena “kekerasan” di lingkungan institusi pendidikan bernama sekolah kerap terjadi, mereka lupa bahwa kekerasan itu diakibatkan dari ekosistem pendidikan yang terbangun. Lalu mereka mulai sibuk dengan “tata tertib”, lupa bahwa sekolah adalah institusi pendidikan, bukan lembaga hukum yang kerjanya mengurus korban dan pelaku.

Komunitas belajar SALAM menyadari pentingnya hal itu. Oleh karenanya, ketika membangun SALAM, sejak awal diletakkan dasar visi serta cita-cita di dalamnya—selain sebagai media tukar pikiran, tempat untuk menggodok gagasan, sarana untuk menggembleng cara berpikir, dan wahana untuk mengolah rasa, SALAM diharapkan perkembangannya untuk merancang strategi, untuk melahirkan manusia-manusia yang memiliki greget atau girah (compassion) yang berjiwa kepengasuhan baik bagi dirinya, keluarga, maupun komunitas di sekelilingnya.

Kami sangat sadar bahwa untuk menuju cita-cita itu bukanlah kerja semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan prasyarat-prasyarat berupa sistem pendukung yang memadai. Fungsi mengelola dan mengolah pengalaman secara terus-menerus harus berjalan dengan baik sehingga tidak sekadar mereproduksi pengetahuan yang sudah usang, tetapi juga memproduksi pengetahuan baru yang lebih bermakna dan berdaya guna.

Seorang pengasuh tidak hanya seperti seekor laba-laba yang membuat jaring mirip seorang penenun, atau seekor lebah yang mirip arsitek yang sedang merancang satu kontruksi bangunan. Seorang arsitek berbeda dengan seekor lebah karena sang arsitek memiliki rancangan sebelum merealisasikan gagasannya. Meskipun lebah sangat ahli mengidentifikasi bunga-bunga yang dibutuhkan untuk memproduksi madu, tetapi tetap saja makhluk itu sebatas melakukan “adaptasi” terhadap lingkungan alamnya. Manusia justru “memaknai” lingkungannya untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Walaupun laba-laba sangat terampil membuat jaring dan lebah ahli memproduksi madu, laba-laba tetaplah laba-laba dan lebah tetaplah lebah. Keduanya tidak akan menjadi lebih dari sekadar laba-laba dan lebah.

Saya tidak ingin mempertandingkan laba-laba dan lebah dengan manusia. Karena, dalam masa kapan pun dan keadaan apa pun, laba-laba tidak terpengaruh dan berubah, tetap saja harus membuat jaring seperti sediakala. Demikian juga lebah, tetap mengikuti irama alam untuk memproduksi madu. Berbeda dengan seorang pengasuh yang tidak serta-merta dan dengan sendirinya menghasilkan suatu karya bersama umat manusia lainnya. Ada banyak faktor yang mendasari dan memengaruhi karya kepengasuhan, yakni mengikhtiarkan tatanan kehidupan yang adil, lebih baik.

Kerja-kerja kepengasuhan di SALAM semakin menghadapi berbagai perubahan, kesulitan, dan tantangan yang kian majemuk. Melihat realitas orang-orang yang kini pada umumnya memilih berada di wilayah “pinggiran”, secara kultural biasanya juga secara geografis—jauh dari pusat-pusat arus utama sosial politik dan ekonomi berkuasa, menghadapi berbagai karut-marut dan ingar bingar kehidupan kontemporer modern. Semua itu dengan sangat mudah menjebak seorang “pengasuh” merasa terperangkap dalam “kesunyian”. Apalagi jika dia memang dilahirkan oleh zaman dari masa dan lingkungan kehidupan yang “bernapas pendek” serta cenderung menyukai “jalan pintas”. Hanyalah greget atau ghirah (compassion) seorang pengasuh yang mampu bertahan menghadapi seluruh tatanan kehidupan kita saat ini, suatu tatanan kehidupan yang cenderung semakin pragmatis. Pengalaman menunjukkan bahwa compassion semacam itu semakin berat, rumit, bahkan terkadang terasa muskil ditumbuhkan pada zaman yang kian memuja berhala kebendaan.

Semakin ke depan, permasalahan yang dihadapi para pengasuh jelas semakin berat. Tatanan sosial, ekonomi, politik, dan budaya modern saat ini dan pada masa depan jelas semakin menjauh dari ukuran-ukuran kebersamaan kolektif (urip bebrayan). Pada kenyataannya, warga masyarakat kita semakin asyik menyaksikan televisi di ruang tengah rumah masing-masing. Mengajak mereka berkumpul dan bertukar pikiran menjadi suatu pekerjaan yang kian repot dan susah. Perbincangan langsung tatap muka nyaris sudah tergantikan oleh pembicaraan melalui telepon genggam. Bahkan sampai ke pelosok desa terpencil pun, semakin banyak warga yang mengonsumsi barang-barang yang tidak mereka hasilkan sendiri. Boleh dikata, seluruh tatanan nilai dan keyakinan tradisi, bahkan seluruh gambaran tentang martabat, harga diri, dan cita-cita telah melesat justru ke arah yang berlawanan dari nilai-nilai kepengasuhan.

Bahkan institusi negara yang semula dibentuk untuk melindungi proses-proses daya kreatif dan produktif warganya, malah semakin cenderung membiarkan bahkan mendorong warganya untuk memamah apa saja yang sudah dihasilkan oleh “mesin-mesin kekuasaan raksasa” bernama sistem pasar, partai politik, dan media massa. Sampai tingkat tertentu, dalam banyak hal, mesin-mesin produksi massal (mass production) itu bahkan te lah mencundangi negara, sehingga tak heran jika ada yang mulai mempertanyakan:“Apakah negara memang masih ada dan perlu?”

Maka, membayangkan perwujudan kehidupan komunitas SALAM merupakan tantangan pada masa kini dan mendatang. Ada yang telah mencibir dan mencabar cita-cita itu sebagai tak lebih dari suatu utopia, mimpi yang tak akan pernah tergapai.

Namun, orang-orang SALAM sudah terbiasa dengan segala macam keterbatasan, seluruh kelemahan, kekurangan bahkan juga kesalahan mereka selama ini, dan itu bukanlah dosa apalagi kejahatan. Maka refleksi, pengakuan jujur atas seluruh kekurangan, kelemahan yang diutarakan dalam buku Sekolah Apa Ini? justru merupakan penolakan terhadap pembohongan atau penelikungan terhadap kenyataan bagi diri sendiri.
Bila Anda setuju dengan apa yang telah diungkapkan dalam buku ini, kami lebih bahagia justru ketika kami mendengar Anda melakukan, mempraktikkan di lingkungan terkecil Anda.

Lebih lanjut kami mengajak Anda untuk membuat, membangun SALAM-SALAM lain menurut versi Anda yang sesuai dengan konteks di lingkungan Anda.

“Jika Anda bukan bagian dari penyelesaian, Anda merupakan bagian dari persoalan.” •

DAFTAR ISI

Pengantar Penyusun — ix

Prolog, Mengupayakan Ekosistem Belajar — xiii

Bab 1, Dari Lawen Ke Nitiprayan — 1
• Cikal Bakal
• Lawen, 1988
• Sanggar Anak Alam, Bukan Sanggar Alam
• Romo Mangun dan Lawen
• Kesalahpahaman
• Dari Lawen ke Yogyakarta
• Pendampingan Remaja
• Kelompok Bermain
• Fokus ke Nitiprayan

Bab 2, Tumbuh Tanpa Pestisida — 21
• Para Inisiator
• Kerjasama
• Sekolah Menengah Coba-Coba
• Problematika
• Kelas Remaja
• SMA
• Sekolah Vokasi
• Memperluas Spektrum

Bab 3, Sekolah Tanpa Aturan — 43
• Kesepakatan Kelas PAUD
• “Kapan Boleh Ditinggal?”
• Suatu Hari di Kelompok Bermain SALAM
• Membangun Kesepakatan di SD dan SMP
• Tantangan
• Ketaksepakatan
• Sepeda Baru untuk Yoyo
• Mengapa Kesepakatan Bersama?

Bab 4, Semua Boleh Sekolah — 69
• Apa itu Inklusi?
• Merajut Asa di Kampung Salam
• Religiusitas
• Ritual Doa Sanggar Anak Alam
• Tanpa Sekat
• Kekuatan Komunitas
• Beda Cara Belajar
• Permasalahan
• Merangkul Orang Tua

Bab 5, Sekolah Tanpa Mata Pelajaran — 99
• Petualangan
• Riset dan Keterampilan Calistung (Kelas 1–3 SD)
• Belajar dari Memelihara Ikan
• Riset Kelas 4–6
• Riset “Membuat dan Menjual Roti Sobek”
• Riset Remaja
• Riset Soal Ujian Nasional Tingkat SMP

Bab 6, Belajar Lewat Apa Lagi? — 137
• Kunjungan Keluarga (Home Visit)
• Perjalanan Pendek (Minitrip)
• Kudapan dan Makan Siang
• Memasak
• Pasar Senin Legi
• Organisasi Anak SALAM
• Bermain
• Kelas Minat
• Tinggal Bersama Keluarga Lain (Live In)
• Kegiatan Live In di Kelas 9

Bab 7, Bukan Orang Tua Biasa — 169
• Keterlibatan
• Siapa yang Malas?
• Terbangunnya Komunitas
• Pasar Ekspresi
• Forum Kelas
• Penggalangan Dana
• Ruang Minat
• Disharmoni

Bab 8, Bukan Guru — 187
• Kerelawanan
• Lokakarya Fasilitator
• Pembelajaran dalam Fasilitasi
• Hambatan dan Tantangan
• Para Lulusan
• Modal Fasilitator SALAM

Bab 9, Pengelolaan & Independens — 205
• Sekolah Kehidupan
• Independensi
• Seleksi Anggota Komunitas
• Persemaian
• Wahana Belajar Mandiri
• Akademi Kehidupan

Epilog, Sanggar, Bukan Sekolah! — 231