Tiada Jalan Bertabur Bunga: Memoar Pulau Buru dalam Sketsa

Rp 65.000,00

“Kamp kerja paksa Pulau Buru dibikin untuk menyapu sisa-sisa Genosida ‘65 bagi orang komunis atau terkoneksi dengan kultur progresif komunis atau pendukung garis keras Sukarno. Kamp Buru sukses melemahkan sisa kiri, tapi tak bisa merampas kehidupan dari pemanggulnya. Mereka melawan pembinasaan dengan cara-cara paling dasar: menulis, bercerita, bikin drama, dan menggambar.” ~Muhidin M. Dahlan.

 

Category: Tags: , , , , , , Product ID: 132

Description

Gregorius Soeharsojo Goenito adalah seorang seniman yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Setelah belajar kesenian di Perguruan Taman Siswa, Madiun, ia melukis, bermusik, bermain drama dan teater bareng Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada paruh pertama 1960-an. Imbas dari peristiwa 1965 membawanya “tugas belajar” dari penjara ke penjara hingga akhirnya ia diasingkan di Pulau Buru oleh rezim Orde Baru.

Sepuluh tahun ia menjalani pengasingan sebagai tahpol di Buru (1969–1979). Di bawah komando Badan Pelaksana Resettlement dan Rehabilitasi Pulau Buru (Bapreru), Gregorius bersama para tahpol lain harus menghadapi siksaan, mengalami kerja paksa, juga memendam rasa rindu kepada keluarga. Sulit. Tetapi, Gregorius mencoba sabar dan percaya bahwa manusia punya ketegaran masing-masing untuk tetap bertahan.

Di tengah situasi sulit itulah bahan memoar tulisan dan sketsa ini lahir. Gregorius mengekspresikan memori, histori, dan perenungannya sebagai tahpol dalam tulisan dan sketsa ini tidak hanya dengan marah dan meratap, tetapi juga dengan menertawainya. “Aku tak ingin mengenang Pulau Buru sebagai kenangan pahit, nyatanya setiap jalan menuju cita-cita tak selalu indah,” tuturnya. ***

Buku ini diterbitkan INSISTPress atas kerjasama dengan Asia Justice and Rights (AJAR) dan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Jawa Timur. ***

“Dalam sejarah Indonesia, Pulau Buru tahun 1969–1979 bukan hanya sebuah lokasi terjadinya kerja paksa, hinaan, siksaan, dan kematian yang dipaksakan oleh anak-anak bangsa terhadap sesama anak bangsa. Ia juga tempat jiwa-jiwa sekuat baja digembleng untuk mampu bertahan hidup di tengah kerja paksa, hinaan, siksaan dan kematian yang dipaksakan itu. Goresan-goresan sketsa Pak Greg dalam buku ini, berikut catatan-catatan yang mengiringinya, ialah saksinya. Mencermati serpihan kisah-kisah menarik dan personal yang terungkap dalam buku ini, kita tidak hanya diajak untuk “berziarah” ke pulau penuh kenangan duka itu. Kita juga dipanggil untuk bersama-sama bertanya: sejauh kita belum berani meratapi dan merefleksikan masa lalu kelam kita, layakkah kita melangkah dan menatap masa depan dengan mata berbinar penuh harapan?” Baskara T. Wardaya S.J., sejarawan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

“Pelukis Goenito melengkapi catatan yang telah ditorehkan Pram, Hersri, dan Gumelar Demokrasno tentang apa yang terjadi di Pulau Buru. Jika Anda membaca catatan dan menyimak sketsa di dalam lembaran-lembaran buku ini, lalu Anda merasa dunia seperti bergetar dan gelap, kuatkan hati dan pikiran. Buru dan semua cerita di dalamnya itu nyata. Pertanyaannya kini, bukan lagi soal apakah semua itu nyata dan fakta, tapi apakah dengan semua kita mau menundukkan kepala, mengakui ada yang salah dari masa lalu kita, dan menghaturkan maaf…”  Hairus Salim, budayawan, pegiat YLKiS, Yogyakarta.

“Jenderal Besar Soeharto meniru setepat-tepatnya metode penjinakkan Orde Kolonial terhadap “pembangkang” atau kaum yang dijadikan tumbal dari sebuah persekongkolan mahajahat. Seperti Digul yang diciptakan untuk “pembangkang ‘26”, Buru dibikin untuk menyapu sisa-sisa Genosida ‘65 bagi orang Komunis atau terkoneksi dengan kultur progresif komunis atau pendukung garis keras Sukarno. Sebagaimana pemusnahan perlahan-lahan ala kolonial Digul itu, Buru sukses melemahkan sisa kiri, tapi tak bisa merampas kehidupan dari pemanggulnya. Mereka melawan pembinasaan dengan cara-cara paling dasar: menulis, bercerita, bikin drama, dan menggambar. Pram memilih menulis untuk mempertahankan kewarasan, sementara yang lain dengan cara menyanyi, bikin tonil, dan menggambar. Kombinasi tiga hal itulah yang dipilih Gregorius Soeharsojo Goenito menjadi papilon dalam kamp kerja paksa “binaan” Jenderal Besar. Dengan nyanyian ia tawar kesepian yang merampas kewarasan; dengan tonil ia tapis keterpisahan yang panjang dari kolektivisme; dan dengan gambar/sketsa ia gubah kesakitan menjadi kesaksian atas sebuah orde yang berdiri di atas pemusnahan massal. Ini buku penting yang memberitahu binatangisme manusia atas manusia yang berlangsung dalam kereta sejarah Indonesia modern.” Muhidin M. Dahlan, penulis dan peneliti Warung Arsip dan Radio Buku.

“Sebagai sebuah sumber sejarah, memoar semacam ini sama kedudukannya dengan arsip-arsip ‘resmi’ yang selama ini menjadi sumber utama penulisan sejarah.” Grace Leksana, sejarawan, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)


•Judul: Tiada Jalan Bertabur Bunga: Memoar Pulau Buru dalam Sketsa •Penulis: Gregorius Soeharsojo Goenito •Penyunting: Achmad Choirudin •Kurator Sketsa: OPée Wardany •Perancang Sampul: Flying Pants •Perwajahan Isi: Flying Pants dan Dwi Fajar •Penerbit: INSISTPress •ISBN: 978-602-0857-11-4 •Edisi: Pertama, Juli 2016 •Kolasi: 14 x 21 cm; xviii+248 halaman.

>> lihat edisi tahun 2017 #cetakan kedua

>> opini, komentar, ulas buku, bacaan terkait:

Additional information

Penulis

Gregorius Soeharsojo Goenito

Penyunting

Achmad Choirudin

Desain isi

Dwi Fajar

Desain sampul

Flying Pants

Penerbit

INSISTPress

ISBN

978-602-0857-11-4

Tahun Terbit

Juli 2016 (Cetakan Ke-1)

Kolasi

14 x 21 cm; xviii+248 halaman.

Jenis Sampul

Soft Cover

Berat

0.5 kg