Revolusi ala Qadhafi*

TERORIS, eksentrik, dan psikopat. Demikianlah pers Barat menggambarkan pemimpin Libya, Muammar Qadhafi. Terlepas dari klaim Barat yang sinis itu, Qadhafi ternyata seorang ideolog brilyan. Itulah yang ditampilkan dalam buku yang berjudul asli The Green Book ini. Secara konseptual, Qadhafi menuliskan pandangan-pandangan filosofisnya, mulai soal ekonomi, politik, sampai masalah keluarga.

Qadhafi memandang, dunia saat ini sedang alergi pada ideologi-ideologi yang ada. Sosialisme dipandang gagal akibat runtuhnya Uni Soviet. Dunia Ketiga juga meragukan kapitalisme, karena model pembangunan yang menganut ideologi itu gagal diterapkan di Asia Tenggara. Ia lalu menyuguhkan gagasan “sosialisme baru”, yang disebutnya sebagai Teori Universal Ketiga.

Sosialisme baru ala Qadhafi ini bukan proyek sosialisme ala Uni Soviet di era Perang Dingin. Dalam ideologinya itu, Qadhafi merancang konsepsinya sendiri tentang negara yang berkeadilan. Ada tiga hal mendasar dalam konsepnya. Pertama, demokrasi. Dalam pemikirannya, ia menolak sistem perwakilan yang selama ini diklaim sebagai bentuk demokratisasi.

Sebab, kedaulatan rakyat tidak bisa dijalankan dengan sistem wakil. Kedaulatan rakyat hanya bisa dilakukan rakyat sendiri. Implikasinya, Qadhafi menolak adanya parlemen, partai, dan pemilihan umum alias referendum. Ketiganya bahkan dianggap antidemokrasi sejati. Qadhafi mengakui, semula parlemen memang didirikan untuk mewakili rakyat. Tetapi, ujung-ujungnya, parlemen menjadi lembaga kesewenang-wenangan atas nama rakyat.

Maka, pemerintahan berparlemen adalah salah arah atas problem demokrasi (halaman 6). Begitu juga dengan partai. Di mata Qadhafi, partai tak lebih dari usaha untuk mencapai kekuasaan. Secara demokratis, menurut dia, tak satu pun partai yang dapat memerintah seluruh rakyat. Sedangkan referendum diklaimnya sebagai bentuk kecurangan dalam demokrasi. Sebab, dalam kenyataannya, referendum tidaklah mengungkapkan kehendak sejati rakyat.

Jalan keluarnya, menurut Qadhafi, harus dibentuk Kongres Rakyat dan Komite Rakyat. Awalnya, suatu komunitas rakyat masing-masing membentuk Kongres Rakyat Utama, lengkap dengan sekretariatnya. Sekretariat ini kemudian bersama-sama membentuk Kongres Rakyat tadi. Maka roda administrasi dijalankan lembaga terakhir ini, yang bertanggung jawab pada Kongres Rakyat Utama.

Kedua, Qadhafi juga tidak sepakat dengan inti kapitalisme: kepemilikan pribadi. Sebab, kepemilikan pribadi membuka peluang tak terbatas bagi individu untuk memuaskan kebutuhannya. Inilah yang menyebabkan terjadinya eksploitasi manusia oleh manusia dalam masyarakat kapitalis. Untuk keluar dari masalah itu, Qadhafi memilih memberikan tanggung jawab pemerataan kekayaan kepada rakyat.

Ketiga, untuk menghadapi penyakit-penyakit sosial, jawabannya terletak pada keluarga. Menurut Qadhafi, keluarga merupakan basis sosial utama bagi masyarakat. Negara, di mata Qadhafi, sangat ditentukan oleh dinamika suatu keluarga, yang kemudian meluas dalam suku dan bangsa. Dari berbagai gagasan itu, Qadhafi memang terkesan arogan. Soalnya, sampai kini, dibandingkan dengan negara Arab lainnya, Libya boleh dikatakan belum sepenuhnya dapat membuat rakyatnya tersenyum dengan perut kenyang.

Walaupun demikian, Qadhafi memang berhasil tampil sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat atas peradaban, kebudayaan, politik, ataupun ekonomi. Secara kultural, ia tampil sebagai tipikal orang Arab yang berpendirian keras, tegas, dan percaya diri. Sebagai tokoh “revolusioner”, pertimbangan memang bisa diberikan dari berbagai jurus dan sudut pandang. Dalam pandangan Barat, paling tidak, Qadhafi tetaplah semacam duri di dalam daging.

*Oleh: Islah Gusmian. Sumber: Majalah Gatra  – No. 17 Tahun VI,  Maret 2000.

*Rehal buku: Menapak Jalan Revolusi/ Muammar Qathafi/ Zakiyuddin Baidhawy (penerjemah)/ INSISTPress dan Pustaka Pelajar, 2000.