Kita dari Perilaku Fasis?

Kita dari Perilaku Fasis?*

FASISME sebagai praktik politik boleh saja mati. Namun, fasisme sebagai ideologi ternyata masih hidup di sekitar kita atau dalam benak kita sendiri. Bahkan sadar atau tidak sadar, kita sering mempraktikkan fasisme.

Perilaku kekerasan atau hanya sekadar mentolerir tindak kekerasan, menjadi bukti bahwa fasisme masih dianut. Lebih parah lagi, adanya kombinasi antara teror, menciptakan budaya takut, militerisme, hegemoni, penjinakan ideologi tertentu, sebenarnya juga “murni” ajaran fasisme.

Bukankah fasisme sedang menjadi sikap dan perilaku banyak orang? Bahkan indikasi itu kuat sudah memasuki para “moralis” ketika menertibkan tempat maksiat dalam membasmi kemungkaran dengan tindakan anarkis-merusak.

Anda akan lebih jelas lagi memetakan perilaku fasisme di sekitar kita yang masih hidup saat ini dalam buku yang berjudul asli People and Politics Facism tulisan Hugh Purcell. Buku ini sarat dengan sejarah kemunculan fasisme dan perilaku tokoh fasisme serta kemungkinan bangkitnya ideologi tersebut di masa datang. ***

BAGI Purcell, ideologi dan praktik fasisme yang dipelopori oleh Benito Mussolini di Italia dan Adolf Hitler di Jerman muncul disebabkan oleh dua hal yakni nasionalisme dan kemiskinan. Italia dan Jerman adalah dua negara yang pernah dipermalukan dan dihina oleh negara lain. Di samping korban perang yang menewaskan jutaan orang, harta benda tak terbilang dan menyisakan penduduk luka-luka, dua negara itu merasa ditipu akibat perjanjian Versailles. Dalam perjanjian tersebut, mereka dipaksa menyerahkan sebagian wilayahnya untuk mengganti kerugian perang. Bahkan tambang batu bara di Jerman dipaksa oleh Perancis untuk diserahkan setelah Jerman tidak mampu lagi membayar kerugian perang.
Kenyataan ini menimbulkan semangat Hitler dan Mussolini untuk bangkit melawan dengan semangat nasionalisme tinggi. Hitler berkata, “Rasa malu memerahkan pipi kami dan kemarahan mencekik kerongkongan kami” (hal. 86).

Menurut penulis, semangat itu juga terlihat dalam semboyan bahwa bangsa Jerman adalah yang paling mulia, agung, di atas segalanya (Deutsch uber alles) dan tidak pernah salah. Tampilnya Hitler dan Mussolini telah mengobarkan nasionalisme tinggi rakyat di dua negara itu.

Di samping itu, rakyat Jerman dan Italia merasakan penghinaan nasional akibat perang. Pengangguran merajalela dan uang hampir habis dengan utang yang semakin menumpuk. Di Jerman 1 dollar berharga 400.000 marks, sebuah perbandingan yang sangat menghina rakyat Jerman waktu itu (hal. 27).

Dengan demikian, menurut penulis, dengan ambisi pribadi pula usaha mengobarkan perlawanan rakyat melawan hal-hal yang berbau asing menjadi kenyataan. Dengan militerisme, fasisme menemukan bentuknya. Suasana kerja keras dan penindasan (dengan alasan kesatuan nasional) dilakukan. Kamp Konsentrasi untuk menghukum pembangkang pun dibuat.

Militer pun dijadikan satu-satunya penyangga negara. Tak terkecuali, pengabsahan perilaku kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Maka tak salah pula jika fasisme disebut penulis sebagai semangat yang merangsang untuk perang.

Apakah setelah Hitler dan Mussolini mati fasisme hilang begitu saja? Tidak. Bagi penulis, setidak-tidaknya dalam praktik politik pernah muncul pada tahun 1961 dengan nama neofasis pimpinan Eichman di Italia.
Fasisme adalah antikemanusiaan. Setidak-tidaknya ia dilakukan dengan membangkitkan emosi rakyat dengan propaganda simbol dan mitos. Fasisme percaya bahwa manusia bukanlah makhluk rasional dan tidak mampu menjalankan kode-kode moralitas untuk kebaikan dirinya sendiri.

Fasisme juga mempercayai bahwa kepemimpinan suatu negara harus ditempatkan pada sedikit orang. Yang lebih ekstrem, fasisme bukan hanya partai, ia adalah rejim; ia bukan hanya suatu rejim tetapi kepercayaan; ia bukan hanya sebuah kepercayaan tetapi “agama” (hal.15). Pun begitu, fasisme mendasarkan kekuatan pada cara-cara militer yang mengabsahkan penggunaan kekerasan bagi mereka yang berani berbeda pendapat. ***

MERENUNGKAN pendapat Purcell tersebut di atas, nyata bahwa perilaku dan pemikiran fasisme tengah hidup di sekitar kita. Kerusuhan (pembakaran, konflik sosial, perilaku kekerasan, peledakan bom) menjadi indikasi perilaku fasisme tersebut. Kepemimpinan politik yang diletakkan pada segelintir orang dengan menafikan aspirasi rakyatnya juga indikasi gejala fasisme.

Keadaan Indonesia, jika dianalisis dari buku Fasisme ini, bisa menjadi ladang subur fasisme. Kenapa? Sebab, seperti latar belakang kemunculan fasisme, di Indonesia krisis ekonomi yang berujung pada kemiskinan sedang melanda dengan hebat dan belum ketahuan kapan bisa diatasi.

Di samping itu, nasionalisme sedang ditumbuhkan akibat porak-poranda perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang kian meruncing – meskipun diakui pula yang terakhir tidak menjadi variabel dependen. Perilaku kekerasan juga sedang menjadi wabah dengan didukung oleh militerisme (sipil). Perilaku terorisme pun sedang menyeruak di mana-mana. Maka, para pemimpin politik pantas membaca buku ini, agar perilaku fasisme yang nyata menyengsarakan masyarakat tidak diaplikasikan.

Harapan besar akan pentingnya buku ini dikemukakan oleh Mansour Fakih dalam pengantarnya, “Mudah-mudahan kehadiran buku ini ikut menyetop, paling tidak menahan laju perkembangan, fasisme di masyarakat, di rumah tangga dan kehidupan berbangsa serta bernegara, karena semakin banyak anggota masyarakat yang memiliki kesadaran kritis yang dengan sendirinya membunuh paham fasisme di tengah masyarakat”.

Buku ini menjadi lebih menarik karena disertai gambar tokoh dan perilaku fasisme sebagai sebuah praktik politik sangat mengerikan dan menjadi simbol kebiadan manusia.

*Nurudin, staf pengajar Fisip Universitas Muhammadiyah Malang, dan Direktur Center for Public Policy and Human Rights Studies. Salin dari Harian KOMPAS – Minggu, 5 November 2000.

*Rehal buku: Fasisme •Penulis: Hugh Purcell •Penerjemah: Faisol Reza, dkk. •Penerbit: INSISTPress •Edisi: I, Juli 2000 •Kolasi: 15x21cm; xix + 142 halaman.