Titik Temu Ajaran Sosialisme dan Religius

Titik Temu Ajaran Sosialisme dan Religius*

AGAMA, hanyalah pelarian bagi manusia-manusia yang tak mampu memecahkan masalah sosial disekelilingnya. Celotehan Albert Camus itu demikian tajam dan sarkastis. Camus demikian prihatin karena melihat agama tak lagi membebaskan, malahan membelenggu dan memenjarakan manusia.

Pada satu sekuen waktu, harus kita akui bahwa memang pernah agama hanya sebagai alat penguasa untuk memeras rakyat. Agama hanya kepanjangan tangan sistem kapitalisme untuk menghisap kaum yang miskin. Jika melihat dari sudut pandang tersebut, maka wajar jika Marx berkata: “Agama adalah candu bagi rakyat”. Dan Nietszhe bersabda: “Tuhan telah mati”.

Walhasil gerakan-gerakan pembebasan pun banyak didominasi pemikiran sosialis ateis dan materialis. Dan ini terjadi di Amerika Latin-sebagian Asia dan sebagian Afrika.Tapi untuk konteks gerakkan Asia kebanyakan gerakannya dituduh hanya melakukan peniruan atas gerakan-gerakan dan pemikiran di Amerika Latin.

Tapi lain halnya dengan buku yang ditulis Michael Amaladoss ini. Penulis menganalisis, mengidentifikasi, dan mendiskripsikan gerakan Asia dengan sangat lain dengan Amerika Latin. Dia memaparkan gerakan Asia berdasar dan digerakkan nilai-nilai teologis. Kelemahannya, sebuah gerakan sering bersandar pada kharismat individu penggerak, ketimbang bangunan kekuatan sistem.

Dalam buku ini diulas agama-agama besar sebagai penggerak dan pembebas bangsa-bangsa Asia. Dan itu disesuaikan dengan tradisi yang bekerja dalam bangsa itu. Maka mengapa kemudian masing-masing bangsa mempunyai karakter gerakan yang sangat khas. Iran, India, Filipina, dan Korea, misalnya, adalah bangsa yang mendasarkan gerakannya pada teologi.

Saya kira buku ini cukup baik sebagai teman berfikir dan berdialog. Sebuah refleksi pemikiran dan otokritik pada gerakan berhaluan sosialis marxis dan materialistik. Pun bisa menjadi wahana dialog antar agama.

Tentu saja gerakan ini berbeda dengan gerakan ateis, meski tujuannya sama yakni “pembebasan”. Tapi sayang penulis tidak memberi ruang bagi gerakan komunis Asia. Sebab bagaimana pun komunis telah memberi sumbangan pemikiran sangat besar. Bahkan, berkat jasa komunis juga agama-agama besar mengalami evolusi dan revolusi. ***

Pembahasan berawal dari Gandhi di India dengan agama Hindu-nya. Bisa dikatakan bahwa gerakannya sebagai pembebasan berdasarkan pandangan humanisme spiritual. Mencita-citakan sebuah negara yang berdiri di atas persamaan hak, damai, kemerdekaan pribadi penuh, menyedikitkan militer karena militer lebih mencerminkan pada kekerasan dan peperangan. Gandhi berusaha sekuat tenaga untuk merubah pemahaman terhadap sistem kasta, karena hierarkis kasta hanya membuat rakyat buta dan tidak lagi revolusioner.

Dalam Hindu sesungguhnya bersemayam ajaran sosialis yang dibingkai semangat religius. Seperti Agnivesh yang beranggapan, semua agama mempunyai pesan-pesan pembebasan yang bersifat sosial dan religius dalam tahap formatifnya. Tetapi kehilangan daya pembebasan, ketika menjadi hirarkis dan institusional. Lalu, agama menjadi penindas yang mengerikan. Dan itu terjadi pada agama Kristen abad pertengahan.

Fungsi dari sebuah teologi pembebasan adalah bersikap kritis terhadap unsur-unsur keagamaan yang mengasingkan orang-orang dari kehidupan dunia dan mengesahkan ketidakadilan. Dikarenakan agama bersifat fleksibal dan universal, maka sebuah ajaran agama tergantung dari para penafsirnya, para imamnya, atau pendetanya.

Dalam Budha, ajaran sosialisme juga bisa kita temukan. Lihatlah misalnya, dalam ajaran Budha dikenal laku-laku: kebaikan keseluruhan, pengekangan diri, kemurahan hati, penghormatan dan keramahan penuh kasih. Sosialisme dharma berpandangan semua mahluk dihadapan Budha sama. Budha sangat gigih mengritik kapitalisme serta komunisme, karena keduanya mengancam kehancuran dunia.

Berbeda dengan pandangan konfusianisme yang sangat paradoks dan kaku. Pernah kaum komunis menuduh bahwa konfusianisme adalah penghalang pandangan-pandangan revolusioner. Amaladoss mengaku sangat sulit mengidentifikasi gerakan pembebasan yang di ilhami konfusianisme. Bahkan mereka disebut-sebut Amaladoss harus bertanggungjawab atas “keajaiban-keajaiban” ekonomi di Asia yang bersetubuh dengan kapitalisme, baik global ataupun lokal. Jelas-jelas konsepsi itu bertentangan dengan sikap revolusioner kaum proletar.

Teologi pembebasan Kristen lebih menekankan pada kembalinya ajaran Yesus. Yang lebih disimbolkan dengan hari kebangkitannya dan diilhami kemiskinan dan religiositas. Meski sangat paradoks, dikarenakan Kristen identik dengan Barat, kapitalisme, dan status quo. Tapi kalau kita selidiki dari ajaran kitab sucinya, seperti yang dilakukan Amaladoss, maka kita mendapatkan bahwa agama Kristen pun mengapresiasi kemiskinan yang bisa menggerai aksi-aksi revolusioner dan religios. Kemiskinan, dalam injil, sebagai suatu kategori sosiologis dan bukan dalam pengertian ekonomis an-sich, apalagi sebagai sarana produksi belaka. Amanat revolusioner Yesus adalah menghapus penderitaan di balik kemiskinan manusia dan mengutamakan keselamatan manusia dan kemanusiaan.

Pembebasan dalam Islam, setidaknya telah terbentuk ketika Muhammad pertama kali mendeklarasikan tauhid. Alquran memberikan tuntunan yang bersatu-padu dengan kebebasan, persamaan hak, dan penghapusan perbudakan. Islam bukanlah ajaran monolitis, seperti keinginan golongan muslim fundamentalis. Islam adalah agama yang lebih bersifat sosial, budaya, dan politis.  ***

Pada hakikatnya, semua agama adalah pembebas sesuai dengan tuntunan para Nabinya. Namun dalam perjalananya, `Agama’ mengalami demikian banyak anomali, dekadensi dan sering menjadi penindas sangat kejam, penguasa neraka dunia baru.

Buku ini merangkum semua gerakan pembebasan yang berdasar pada agama-agama besar Asia. Dan semua agama berinteraksi dalam pergerakannya, sehingga membangkitkan semangat revolusioner pemeluknya, di waktu hampir bersamaan. Buku ini mencoba menepis perbedaan antaragama yang terinstitusi dan pertengkarannya yang saat ini masih berjibaku.

*Oleh: Saryoto, Mahasiswa asal Cilacap. Saat ini kuliah di sebuah perguruan tinggi Yogyakarta. Lansiran dari link: www.library.ohiou.edu – 29 Agustus 2001.

*Rehal buku: Teologi Pembebasan Asia/ Michael Amaladoss/ Penerjemah: A. Widyamartaya dan Tim Cindelaras/ INSISTPress, Cindelaras, & Pustaka Pelajar, 2001.