Gus Dur: Kecintaan Pramudya Terhadap Rakyat Kecil Tak Pernah Luntur

Gus Dur: Kecintaan Pramudya Terhadap Rakyat Kecil Tak Pernah Luntur*

Budayawan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai karya-karya sastra yang dihasilkan Pramudya Ananta Toer memiliki orientasi perikemanusiaan yang sangat tinggi. “Orientasi itu ditujukan untuk menentang kekerasan dan membela rakyat kecil. Kepentingan rakyat kecil tampak dalam novel-novelnya,” katanya dalam diskusi “Pram dan Kita” di Yogyakarta, Jumat (14/2).

Gus Dur menyebutkan, kecintaan Pramudya kepada rakyat kecil tidak pernah luntur atau hilang, seperti yang digambarkan dalam karya-karyanya dimana tokoh-tokohnya, yang notabene rakyat kecil, berusaha melawan tekanan yang menghimpit dirinya.

Hal itu sangat menarik, dan tentunya juga membanggakan karena Indonesia bisa melahirkan novelis yang sanggup mengangkat tokoh yang dihimpit sistem dan lingkungan dalam karya-karyanya. “Aspek seperti itulah yang seharusnya diketengahkan dalam dunia sastra kita, bukan novel-novel picisan yang tidak menggambarkan kenyataan yang ada. Tulisan Pramudya tidak pernah menyimpang dari kenyataan hidup yang ada, yang direkam dengan hati-hati dan kesungguhan,” paparnya.

Sementara itu, Pramoedya Ananta Toer mengatakan, menulis bukan hanya berarti perlawanan terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, tetapi juga sebagai wahana memberi contoh perihal kemanusiaan dan peradaban. “Misalnya, hal yang baik dan jelek itu ada fungsinya dalam kehidupan sosial, dimana sesuatu yang baik perlu dikembangkan, dan yang jelek harus disingkirkan dan dilawan,” ungkapnya.

Menurut Pramudya, meskipun kekayaan alam yang dimiliki sangat melimpah, namun Indonesia tidak bisa menjadi negara yang kuat dan tetap diinjak-injak pihak asing. Hal ini disebabkan budaya bangsa ini terbelakang.

“Budaya kita itu bangga memakai produk pihak asing hasil utang. Contohnya, kita senang memakai mobil mewah buatan luar negeri dan bangga dikatakan makmur. Padahal, kenyataannya kita itu miskin, karena yang kita pakai itu produk utang, bukan buatan sendiri,” katanya.

*Sumber: ANTARA, 14 Februari 2003.