Pramoedya kepada Angkatan Muda: Hentikan Kebusukan Politik

Pramoedya kepada Angkatan Muda: Hentikan Kebusukan Politik*

(Yogyakarta, Kompas) Sastrawan Pramoedya Ananta Toer menyatakan, pembusukan politik sekarang ini hanya bisa distop oleh angkatan muda. Ia mengusulkan, angkatan muda harus selalu melatih diri untuk berani melatih inisiatif dan tanggung jawab atas risiko perbuatan sendiri, termasuk memperbaiki kesalahan sendiri.

“Kalau angkatan muda tak punya keberanian, maka mereka sama dengan ternak. Karena fungsinya hanya memperternakkan diri. Inilah jalan pendidikan individu dan pembangunan karakter. Kalau kalian tak mau melakukan itu, ya silakan jalan terus,” kata Pramoedya Ananta Toer, ketika tampil sebagai pembicara dalam diskusi dan peluncuran tujuh buku Pram-panggilan akrab Pramoedya-yang tampil bersama pembicara lain mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, sosiolog Dr Mansour Fakih, dan aktivis perempuan Gadis Arivia.

Dalam acara yang bertajuk “Pram dan Kita” dengan moderator aktivis Taufik Rahzen, serta diprakarsai oleh Akademi Kebudayaan, bersama penerbit Lentera Dipantara itu, Pram mengemukakan, itulah sebabnya mengapa ia terus menulis selama ini.

Ia ingin memberi contoh gambaran manusia dan keberadaannya. “Jangan lupa, bahwa yang baik dan buruk, berkembang bersama-sama. Dan, ketidakadilan itu berfungsi, fungsinya ialah untuk dilawan. Yang jelek itu untuk dilawan, dan yang baik untuk dikembangkan,” ujar Pram, sambil menambahkan bahwa inilah dunia, bukan surga yang semuanya serba bagus.

Secara terbuka, Pram di hadapan publik angkatan muda Yogyakarta menyatakan terima kasihnya, karena mau menjadi pemrakarsa atas acara diskusi dan peluncuran tujuh buah bukunya yang dicetak ulang oleh penerbit Lentera Dipantara. Sebab sebelumnya, ada orang dan pihak yang mau menguasai hak cipta buku-buku karyanya, tanpa minta izin pada dirinya.

Kepada kalangan muda, Pramoedya mengemukakan, karya sastra yang dibuatnya sebenarnya merupakan pesan agar angkatan muda mau terus belajar, sebab pengalaman manusia itu terbatas. Kita harus memetik pengalaman orang itu, dan itulah gunanya waktu anak-anak kita belajar membaca dan menulis. Ini sama dengan gunanya membaca, yaitu belajar dari orang lain, dan bagaimana menilai pengalaman sendiri. “Jangan seperti para pelaut yang keliling dunia, dan kembali ke desanya tetap begitu-begitu saja,” kata Pram.

Berkaitan dengan upaya pemahaman identitas itulah, Pram kemudian mengambil contoh tokoh Multatulis (Douwes Dekker), yang dianggapnya sebagai Bapak Teks Nasional, dan sekaligus dianggapnya sebagai Indonesianis pertama, karena dialah yang menerjemahkan teks-teks bahasa asing-khususnya bahada Belanda-ke dalam bahasa Indonesia.

“Indonesianis dan Jawanis itu lain. Itu yang menyadarkan Multatuli. Kalau begitu tanah air saya apa? Lantas dipilihlah nama Indonesia untuk menghindari penamaan Jawa. Karena Jawa sebelumnya, sebenarnya punya nama Nusantara, atau Dipantara, yaitu benteng di antara dua daratan. Mengapa disebut demikian, yaitu saat menghadapi pasukan Khu Bilai Khan.

Namun, keindonesiaan kita, ternyata tidak juga memberikan harga diri yang jelas, karena Indonesia yang lebih luas wilayah lautnya itu, ternyata dikuasai oleh Angkatan Darat,” kata Pram disambut aplaus hadirin. Dan, ribuan pulau yang ada pun, ternyata hanya beberapa yang punya nama, sedangkan ribuan yang lain tak bernama. “Lha, kalau demikian, bagaimana kita mau mempertahankan pulau-pulau yang tak bernama itu?” katanya.

Menjawab pertanyaan hadirin, Pram menjelaskan, agama bagi dirinya merupakan persoalan pribadi, dan berkaitan dengan percaya dan kepercayaan. Apa arti percaya dan kepercayaan, ialah sebuah stasiun di mana pikiran berhenti bekerja. Sebab, pikiran itu punya banyak stasiun.

“Kepercayaan yang paling tinggi, setelah orang melewati banyak stasiun. Seorang yang dianggap anti-Tuhan, biasanya orang yang justru banyak memikirkan tentang Tuhan, dan melewati banyak stasiun-stasiun tadi,” ujar Pram dengan cara pelukisannya yang indah. “Saya sendiri, dalam agama, hanya menerima yang rasional. Yang tak rasional tak saya terima. Saya sendiri menamakan diri saya kafir. Dan, kalau orang lain mau menamai saya kafir silakan saja,” kata Pramoedya.

Kekuatan “Gadis Pantai”

Sosiolog Dr Mansour Fakih yang mengupas ideologi, dan pendirian, serta keyakinan Pram mengemukakan, Pram bisa dipahami dengan baiknya dalam karya novelnya berjudul Gadis Pantai, novel lama yang dibacanya berulang-ulang, dan dianggapnya karya Pram yang paling dahsyat, dan layak dinobatkan sebagai karya sastra terbesar sepanjang zaman. Sebab, setiap kali membaca kembali buku itu, demikian Mansour, selalu ada inspirasi baru.

Mansour Fakih menilai, ucapan Pram pada angkatan muda tadi, sangat penting, karena saat ini sesungguhnya terulang kembali kolonialisme dan imperialisme di abad ke-21. Jika dulu kita dijajah oleh VOC, Belanda, dan Jepang, sekarang ini kita dijajah oleh sistem yang berbasis neoimperialisme. “Karena itu, saya merindukan Gadis Pantai kembali lagi,” ujar Mansour Fakih, Pemimpin Lembaga Insist, dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta.

Lewat Gadis Pantai, demikian Mansour Fakih, Pramoedya telah membongkar kapitalisme abad itu yang berkaitan dengan dominasi peran agama. Karena itu, menurut Mansour, sekaranglah saat penting bangkitnya sastra pembebasan, dan sastra untuk kemanusiaan untuk menggeser sastra yang sekadar indah-indahan, atau sastra klangenan.

Sedangkan Gus Dur yang memanggil Pramoedya dengan sebutan Pak Pram-karena ia tak bisa secara sembarangan memanggilnya Pram-menilai dari seluruh bacaan tentang Pak Pram, hal yang tidak pernah berubah dari dia ialah pandangannya tentang kemanusiaan dan perikemanusiaan, yang sangat tinggi.

“Seumur hidup Pak Pram, dia selalu menentang kekerasan, walaupun yang digambarkan Pram, tokoh-tokoh bersenjata pula,” katanya.

Pembelaan terhadap orang-orang kecil inilah yang selalu tampak dalam novel-novelnya sejak yang pertama. Itulah gambaran orang-orang kecil yang kesepian, dan sendiri, yang harus menghadapi kenyataan hidup yang sangat keras melindas si tokoh.

Demikian pula kecintaannya kepada rakyat kecil, menurut Gus Dur tidak pernah luntur. “Karya-karya Pak Pram, menerobos pintu-pintu yang dibuat manusia. Menerobos kungkungan yang dibuat aristokrat dan penguasa yang dalam bahasa sekarang penguasa gombal,” ujar Gus Dur disambut tawa hadirin.

Sedang Pram dalam penjelasannya mengemukakan, realisme sosialis yang digambarkan dalam karyanya, merupakan realisme yang membawa misi, yaitu bahwa orang yang tidak berdaya, tidak berharga, selanjutnya berani melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. “Nah, aliran realisme sosialis itu pernah saya terjemahkan dalam buku Maxim Gorkhy berjudul, Ibunda.”

Gadis Arivia, yang muncul sebagai pembicara ketiga tidak banyak berkomentar, kecuali membacakan salah satu fragmen novel Pram yang berkaitan dengan isu jender. (HRD)

*Sumber: Harian KOMPAS – 16 Februari 2003. Link: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0302/16/utama/133073.htm 

*Rehal acara: PRAM dan KITA: Diskusi dan Launching Buku Pramoedya Ananta Toer Tanggal | 14 Februari 2003 | 13.00-17.00 WIB | Univercity Club (UC) UGM Yogyakarta.