Kunci Damai di Kepulauan Kei

Kunci Damai di Kepulauan Kei*

Pada akhir tahun 1999 dan awal tahun 2000, ketika beberapa daerah konflik tengah berada pada titik puncak konflik horizontal, tidak banyak perhatian tertuju pada Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Di daerah ini, seperti juga di daerah lain di Maluku Tenggara, terjadi kerusuhan horizontal yang memakan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, serta membawa derita bagi ribuan warga yang terpaksa mengungsi.

Namun, kerusuhan yang terjadi di Kepulauan Kei tidak berlangsung lama seperti di daerah konflik lain. Kerusuhan yang bermula dari perkelahian antarwarga dan kemudian berkembang menjadi isu SARA ini dapat segera diatasi melalui pelbagai acara rekonsiliasi. Rekonsiliasi antarmasyarakat Kei dinilai oleh berbagai kalangan sebagai proses resolusi konflik sosial yang pertama dan paling berhasil di Indonesia sejak tahun 1999.

Yang menarik dalam proses rekonsiliasi di Kei adalah tidak adanya campur tangan dan bantuan pihak luar. Semuanya diupayakan dan dikendalikan oleh masyarakat adat Kei sendiri. Masyarakat Kei dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh ajaran adat. Ken Sa Faak adalah salah satu ajaran adat yang menjadi kunci terciptanya perdamaian di Kepulauan Kei. Ken Sa Faak memiliki makna pengakuan atas kesalahan sendiri serta pengakuan terhadap kebenaran pada pihak lainnya.

Buku ini berisi delapan tulisan yang mencatat pengalaman, analisis, dan refleksi beberapa pengamat, relawan kemanusiaan, aktivis perdamaian, serta orang awam korban konflik di Kepulauan Kei, yang terlibat langsung dalam proses rekonsiliasi di daerah tersebut. (SDM)

*Sumber: Pustakaloka – Harian KOMPAS – Sabtu, 21 Februari 2004.

*Rehal buku: Ken Sa Faak: Benih-benih Perdamaian dari Kepulauan Kei/ PM Laksono dan Roem Topatimasang (penyunting)/ INSISTPress dan Nen Mas Il, 2004.