(Resensi Buku) Tolak Bungkam: Suara Teolog Pembebasan

(Resensi Buku) Tolak Bungkam: Suara Teolog Pembebasan

Inilah buku mengenai perjuangan Rm Frans Amanue SVD yang berani membuka mulutnya bagi mereka yang tak bersuara. Dia berani mengkritik penguasa di daerahnya yaitu di Flores Timur yang  “secara sadar telah menjual penderitaan dan kematian korban bencana banjir sebagai komoditi untuk memperoleh dana dari Pusat,” (65). Romo yang berani ini divonis dua bulan penjara dengan lima bulan hukuman percobaan. Rakyat yang merasa hal ini tidak adil mengadakan amuk massa dengan membakar habis gedung pengadilan negeri di Larantuka. Selama ini kita hanya mendengar tentang pastor-pastor pemberang yang memihak rakyat dari manca negara. Bahkan ada yang sampai melucut jubahnya supaya lebih piawai memihak rakyat yang tertindas: Camillo Torres, Ernesto Cardenal. Orang bicara mengenai Dom Helder Camara dan Carlos Mesters O.Carm yang karangannya pedas dan keras. Bahkan di Kafe Socrates, anak muda memutar film Oscar Romero, pastor martir yang dibantai di kapel Karmel di San Salvador, karena khotbahnya mengusik “kursi para penguasa”. Dalam suatu retret Rm Sandyawan SJ mengeluh ketika para pembesarnya lebih percaya kepada omongan jendral dari pastornya sendiri, ketika ia memberikan suaka kemanusiaan kepada anak muda yang dikejar dan dicari aparat.

Dalam buku ini Paul Budi Kleden SVD menyoroti tantangan yang dihadapi ulama: yaitu yang muncul dari kalangannya sendiri yang tidak menghendaki keterlibatan sosial-politis; sikap dogmatis yang banyak berurusan dengan kebenaran iman yang harus dipertahankan di tengah segala perubahan, lambannya masyarakat untuk transformasi sosial dan semakin berpengaruh kekuasaan yang disentuh maka semakin besar tekanan yang dialami oleh ulama.

Mengutip Daniel Berrigan SJ yang berseru: “Jangan hanya berbuat sesuatu. Ambillah sikap.”

Nabi Amos dalam Perjanjian Lama telah memberi isyarat yang jelas: “Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Jauhkanlah daripadaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan ber-gulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Amos 5:21-24).

Sesungguhnya ada pesan dari Sinode Para Uskup tahun 1971: “Bertindak atas nama keadilan dan partisipasi dalam pengubahan dunia tampak sepenuhnya bagi kami sebagai suatu dimensi pokok untuk mewartakan Injil, atau dengan kata lain, dimensi yang pokok tugas gereja bagi penebusan bangsa manusia dan pembebasan dari setiap keadaan yang menekan.” Buku ini diterbitkan juga dalam rangka HUT 55 tahun Deklarasi HAM, menambah sarana dan wahana untuk lebih berani mengambil sikap dan peduli kepada mereka yang kecil dan teraniaya. (TS)

*Sumber: WARTA MINGGU  – 23 Mei 2004.

*Rehal buku: Tolak Bungkam: Suara Teolog Pembebasan/ Eman J. Embu & Amatus Woi (ed.)/ Ledalero & INSISTPress, 2003.