Teori Pergerakan Sosial

Teori Pergerakan Sosial*

DINAMIKA perubahan yang terjadi dalam masyarakat menjadi objek telaah menarik banyak kalangan. Lusinan sosiolog membangun abstraksi atas fenomena yang muncul. Beberapa di antaranya melahirkan teori-teori besar, misalnya Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber.

Analisis mereka telah dipakai banyak rezim di dunia dalam menggalang, merekonstruksi, dan memobilisasi masyarakat. Tak hanya itu, paham yang lahir dari teori-teori besar juga telah menginspirasi berbagai pergerakan sosial. Satu paham yang sangat fenomenal dalam sejarah politik adalah komunisme.

Pasca-Perang Dunia II, perhatian sosiolog tertumpah pada fenomena-fenomena skala kecil di masyarakat. Interaksi dari struktur sosial, lembaga, dan individu melahirkan varian gerakan masyarakat yang lebih kompleks. Pergeseran paradigma dalam bidang sosiologi gerakan masyarakat inilah yang diangkat Robert Mirsel.

Sosiolog kelahiran Rejo, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur, yang tengah menempuh program S-3 di Universitas Muenchen, Jerman, ini mengemukakan tiga tahapan khas. Semua tahapan, menurut Mirsel, sedikit tumpang tindih. Ketika suatu tahapan ada di titik puncak perkembangannya, paradigma yang dominan mulai ditantang oleh prototipe paradigma itu sendiri. Ini akan menandai periode berikutnya.

Pada tahap pertama, dari tahun 1940-an sampai1950-an, teori gerakan kemasyarakatan meneliti asal-usul irasional dari setiap gerakan yang muncul, seperti nazisme, fasisme, stalinisme, dan kerusuhan rasial di masa itu. Telaah yang muncul juga menggunakan teori psikoanalisis, psikologi sosial, dan teori kumpulan massa.

Berikutnya, di periode kedua, teori gerakan kemasyarakatan berpijak pada pandangan yang lebih positif. Tindakan rasional yang dipakai dalam merombak masyarakat jadi pertimbangan utama. Para sosiolog menaruh perhatian kepada gerakan kiri baru, perjuangan hak sipil, antikolonialisme, dan antikomunisme. Semua gerakan dinilai sebagai kekuatan yang mengarahkan masyarakat menjadi inklusif, egaliter, dan demokratis.

Pada tahapan ketiga yang dimulai akhir 1970-an, gaya pemikiran bergeser ke teori post-struktural dan dekonstruksionisme. Menurut pemikiran aliran baru itu, semua fenomena yang terkait dengan manusia merupakan tafsir sosial (socially constructed). Gerakan baru yang muncul putus dari nilai-nilai liberal, demokratis, pluralis, dan kekirian.

Karya Mirsel menjadi istimewa karena diisi dengan catatan bibliografis yang lengkap mengenai gerakan sosial abad ini. Isi buku ini sanggup memprovokasi pembaca.

*G.A. Guritno. Sumber: Majalah GATRA – 16 Juni 2004.

*Rehal buku: Teori Pergerakan Sosial/ Robert Mirsel/ INSISTPress, 2004.