Dalang Slamet Gundono: “Sumpah, Baru Kali Ini Baca Cerpen”

Dalang Slamet Gundono: “Sumpah, Baru Kali Ini Baca Cerpen”*

Slamet Gundono mendalang bersama Sanggar Wayang Suket itu sudah biasa. Sudah sering dilakukan. Tapi, Slamet baca cerpen itu baru peristiwa penting dalam perjalanan hidupnya selama berkesenian. “Sumpah, saya berkesenian bertahun-tahun, baru pertama kali ini baca cerpen,” ucapnya pada KR, usai membaca ‘Bon Suwung’ karya Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto di Toko Buku Toga Mas, belum lama ini.

Dari dunia dalang dan baca cerpen, kata Slamet, sebenarnya membutuhkan keberanian tersendiri. “Untuk itu, saya minta izin terlebih dahulu pada pengarangnya agar tidak tersinggung, karena saya baca cerpen dengan cara saya sendiri,” ucapnya.

Caranya, Slamet menggunakan pendekatan yang sangat berbeda, yakni cerpen dengan menggunakan bahasa Banyumasan. Padahal aslinya, naskah tersebut dengan bahasa Indonesia. Eloknya, naskah tersebut tidak ditranskrip terlebih dahulu ke bahasa Banyumasan, tetapi dilakukan langsung di atas pentas. “Namanya saja spontan, tiba-tiba ingin baca cerpen,” ujarnya. Diakui, ia sebenarnya menggunakan pendekatan yang sering dilakukan seniman, yakni improvisasi. Agar tidak menyimpang dengan pola pertunjukan dan gayanya di panggung, sesekali selain membaca secara biasa, dipadukan sebagaimana ia mendalang, pakai suluk, juga sambil nembang. Dialog atau narasinya sengaja di-tembangkan. Penikmat seni yang datang dibuat terpesona oleh kepiawaian dalang dari Jaten Karanganyar ini. Slamet sendiri belum lama meluncurkan CD tembang musikal bertajuk ‘Mystikal’.

Ketika ditanya, kenapa tidak membaca cerpen dengan bahasa Indonesia, sesuai teks aslinya ? Slamet Gundono hanya tertawa panjang, akhirnya mengaku. “Saya malu. Bahasa Indonesia saya jelek sekali. Kayak anak TK baru belajar membaca,” ucapnya. (Jay)-o

*Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat – 17 April 2005.

*Kabar acara diskusi buku: Bon Suwung: kumpulan cerpenGunawan Maryanto/  INSISTPress, 2005.