Negeri Asing dalam Potret Perjalanan

Negeri Asing dalam Potret Perjalanan*

Buku ini berisi kisah perjalanan sastrawan Sigit Susanto di berbagai negara. Serangkaian perjalanan panjangnya dikemas dalam tulisan berbentuk esai populer, kemudian disatukan menjadi buku yang memuat 16 kisah perjalanannya.

Sigit Susanto adalah seorang pemuda asal Kendal Jawa Tengah yang kini menetap di Swiss. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai pemandu wisata (guide) di Bali, selama tujuh tahun. Perkenalannya dengan perempuan Swiss, Claudia Beck mengantarkan dirinya tinggal di Swiss.

Sepasang suami istri ini gemar melancong tiap musim liburan. Oleh karena Sigit seorang penulis sastra yang cukup mahir, berbagai perjalanan itu dimanfaatkan untuk menulis kebudayaan masyarakat di tempat yang disinggahinya. Esai-esai di bawah ini membuktikan kuatnya bobot penulisan Sigit membaca kebudayaan negeri-negeri di Eropa melalui cara pandang ke-“Indonesiaan”-nya yang khas.

Simak ceritanya tentang “Pertama Kali ke Eropa”, “Danau Zug”, “Bersepeda Keliling Amsterdam”, “Pulau Ischia”, “Ziarah ke Makam Kafka”, “Hotel Trotoar”, “Membelah Bulgaria”, “Goethe dan Strasbourg”, “Vanesia Surga Sastrawan Dunia”, “Jalan-Jalan ke Roma,” “Dari Leningrad ke Moskow”, “Makam Mbah Marx,” dan “Shakespeare & Co di Paris”.
Karya-karyanya tidak hanya memuat pengalaman personal Sigit, melainkan memberikan satu pemahaman yang baik tentang Eropa. Melalui kerja penulisan jurnalisme investigatif, tulisan Sigit menyajikan ulasan data, fakta, dan sumber informasi yang akurat dan berimbang.

Lain dari itu, pandangan kritis Sigit tentang modernitas di Eropa membuat kita mengenal lebih arif kebudayaan orang lain. Kalau biasanya kita mendapat info Eropa adalah puncak kemajuan dan surga modernitas, Sigit mencoba melihatnya dari sisi yang wajar dan berimbang.

Alhasil tulisan ini tidak sekadar pamer perjalanan indah tentang gegap-gempitanya negeri orang, melainkan lebih banyak memberikan “mata pelajaran” yang baik tentang kebudayaan, sastra, politik, dan gaya hidup masyarakat Eropa.

Tulisan “Makam Mbah Marx,” cukup banyak memberikan hal-hal baru yang belum banyak diketahui orang Indonesia. Tulisan ini membuka pemahaman yang lebih mendalam dan kritis tentang sisi gelap kehidupan Karl Marx, Federick Engels, termasuk tentang ajaran komunime dan marxisme. Bahkan sisi kepribadian humanis Karl Marx akan kita dapatkan dari tulisan ini.

Di Benua Amerika Latin Sigit pernah mengunjungi Kuba, mulai tanggal 6 sampai 21 Maret 2000, dan kunjungan dua minggu ke Meksiko mulai 15 sampai 30 November 2003. Tulisan naratif tentang kehidupan masyarakat Kuba dalam “Che Masih Hidup di Kuba”(hlm 38-36) banyak membuka pemahaman kita antara lain akan budaya negeri komunis tersebut.

Reportase Sigit tidak sekadar ingin mengungkapkan sisi kebudayaan Kuba, melainkan juga memberikan kesaksian riil tentang kondisi ekonomi, pendidikan, relasi social, dan politik masyarakat Kuba. Tulisan ini seolah-olah menjadi wacana tanding tentang anggapan orang-orang kiri Indonesia yang sampai sekarang masih percaya Kuba adalah negeri ideal komunisme.

Di Kuba, sebagaimana hasil reportase Sigit, bukanlah masyarakat tanpa kelas yang terwujud, melainkan kemelaratan. Kecuali pejabat negara, rakyat Kuba dalam kondisi kemiskinan ekonomi dan kemiskinan perspektif. Tak ada kebebasan di bawah kekuasaan Fidel Castro. Upaya menciptakan kehidupan tanpa globalisasi membuat Kuba terperosok dalam krisis kehidupan yang akut. Singkatnya, komunisme di Kuba lebih memberikan pelajaran tentang kegagalan komunisme ketimbang kesuksesannya.

Di Meksiko Sigit melihat fenomena negara dunia ketiga yang banyak berbeda dengan negara-negara Asia. Dalam hal Agama, orang Meksiko mungkin tergolong religius seperti Indonesia. Bedanya, pemerintah Meksiko tidak campur-tangan dalam urusan agama.

Kesan Sigit terhadap orang Meksiko adalah, “mereka bukan tipe orang kagetan dan kagum pada pendatang atau pelancong asing. Tidak seperti orang Asia yang sering kagum dengan pelancong Eropa. Mungkin karena pelancong Eropa rata-rata punya postur jangkung, berhidung mancung, berkulit putih, serta berambut pirang” (hlm 256). Karena perbedaan inilah Sigit menduga orang Asia dibuat kagum, setidaknya merasa aneh dengan fisik orang Eropa.

Di Afrika, Sigit merekam kebudayaaan, perilaku, dan kondisi negara Tunisia secara mendalam. Di negeri padang pasir ini Sigit menjelaskan banyak hal tentang ke-Islaman orang Tunisia.  Sekalipun Tunisia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun banyak hal yang berbeda dengan Indonesia. Tulisan ini sangat berharga kita pelajari untuk mengenal pluralisme dan sikap keberagamaan orang Tunisia yang tidak dogmatis dalam menyerap ajaran Islam.

Kehadiran buku unik ini nampaknya perlu diapresiasi lebih mendalam, terutama oleh para penulis buku. Di Indonesia buku-buku mengenai sejarah, kebudayaan, dan tradisi kehidupan negeri asing sangat jarang kita temukan. Kalaupun ada, isinya biasanya kurang memuaskan. Nah, buku ini bisa memuaskan pembaca yang benar-benar ingin mendapatkan pelajaran berharga dari negeri orang.

Dari sisi penulis, buku ini mempunyai banyak kelebihan. Hanya saja jumlah foto di dalamnya sangat minim. Padahal, jika berhasil menyajikan foto-foto secara lengkap, buku ini akan lebih berkualitas. [n]

*Husen Hadiyanto, pencinta wisata, mantan aktivis Mapala Unjani Cimahi | Sumber: Harian Sinar Harapan Sabtu, 06 Mei 2006.

*Rehal buku: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan/ Sigit Susanto/ Puthut EA (penyunting)/ INSISTPress, 2005.