Sebuah Buku yang Meledek Kita

Sebuah Buku yang Meledek Kita*

Gambaran setiap orang Indonesia terhadap luar negeri, sebut saja Eropa, pastilah sama. Di negeri asing itu, segala sesuatu menjadi lebih indah, hidup menjadi lebih enak. Gambaran seperti itu pula yang membuat setiap orang ingin pergi ke sana, menikmati kehidupan yang indah itu. Tetapi bagi mereka yang sudah membaca buku ini, yang isinya mendeskripsikan secara detail segala aspek kehidupan manusia di negeri asing, pasti setuju dengan kesimpulan saya. Dunia di belahan mana pun adalah sama, bagian bumi yang berotasi pada porosnya. Dalam rotasi itulah kehidupan kadang menyala, tidak jarang redup, dan sering berkedip.

Yang membuat negeri asing itu berbeda, cuma keterbatasan kita dalam menyikapi realitas kehidupan ini, yang berpikir picik seolah-olah Tuhan hanya memberikan keindahan hidup bagi orang-orang di luar Indonesia. Sebetulnya, kita lebih baik mengubah cara dalam memandang negeri-negeri di luarIndonesia, segala sesuatu di dalam negeri bisa kita buat menjadi sangat diminati semua makhluk yang hidup di dunia ini.

Ini moral setiap kisah perjalanan yang disuguhkan Sigit Susanto dalam buku ini. Moral yang sama juga disuguhkan Gola Gong dalam buku yang mengisahkan perjalanan ke desa-desa miskin di India. Dan pembaca menjadi paham, sebetulnya gambaran yang megah dan gemilang tentang negeri-negeri di luarIndonesia, muncul karena pengetahuan kita yang sangat terbatas tentang negeri-negeri itu.

Dalam buku ini Sigit Susanto memperluas pengetahuan kita tentang negeri-negeri asing itu. Pengetahuan-pengetahuan yang tidak akan kita peroleh dari orang asing pemilik negeri-negeri itu karena mereka selalu berupaya membangun citra luar biasa tentang diri mereka.

Tetapi Sigit, seorang yang sangat terbiasa menangkap makna yang tersirat dari segala simbol yang berkelebatan di alam semesta dalam kapasitasnya sebagai penulis karya sastra, menggodoknya dengan pengetahuan yang tidak terbatas tentang politik, kebudayaan, kesusastraan, sosiologi, dan ekonomi, kemudian menghadirkannya kembali ke dalam tulisan-tulisan perjalanan yang berkelindan dan menggetarkan.

Ketika pertama kali membaca tulisan perjalanan Sigit Susanto, yang dikirim ke sebuah milis (mailing list), ia memesona saya. Pesona yang sama saya alami ketika membaca buku ini. Saya menjadi tahu bahwa jauh di Swiss, negeri penghasil jam tangan yang sangat memengaruhi dinamika politik internasional, ternyata masih menyimpan persoalan-persoalan yang acap muncul di negeri-negeri jajahan kolonialisme.

Dalam tulisan “Danau Zug”, Sigit Susanto menulis: “Negara maju yang seharusnya makin praktis, kok birokratis. Akan memancing saja sulitnya seperti orang akan mendaftar di perguruan tinggi. Ada formulir segala….”

Seorang yang datang dan besar di Indonesia seperti Sigit Susanto, tentu saja tidak akan menemukan birokrasi kalau untuk memancing. Setiap orang bisa saja membeli mata kail, tali pancing, dan joran, sekehendak hati mereka.
Siapa pun bisa saja melempar mata pancing ke danau, ke kolam, ke tambak, ke laut, di tempat yang tak ada tulisan “Dilarang Memancing”. Mereka pun boleh pulang membawa ikan, menggoreng atau membakarnya, dan menikmatinya bersama keluarga.

Logika khas orang Indonesia dipakai Sigit saat mau memancing di Danau Zug di Desa Walchil, tempat Sigit tinggal bersama istrinya, Claudia–orang yang banyak menemaninya dalam perjalanannya. Bagi negara modern seperti Swiss, logika itu tidak pas. Karena ikan, habitat Danau Zug, sangat penting bagi mereka. Penghargaan terhadap lingkungan, itulah kunci kenapa untuk memancing saja harus ada formulir.

Cerita tentang memancing di Danau Zug ini memberi nilai positif yang sulit dilupakan. Bahwa segala kekayaan alam, baik berupa ikan-ikan yang hidup di dalam danau, perlu dicatat setiap detailnya. Tidak seperti kita di Indonesia, yang tidak merasa penting untuk mengetahui berapa jumlah spesies ikan yang ada di tanah air. Kita pun tak peduli hal-hal berkaitan spesies flora maupun fauna, sehingga ada ahli dari luar negeri yang memberi nama Latin flora dan fauna endemik dengan nama belakangnya. Sebut saja Rafflesia Arnoldi, kita menyebutnya Bunga Bangkai, yang namanya diambil dari nama Raffles.

Sigit mencoba mengkritik bahwa kita adalah bangsa yang tidak paham dengan kekuatannya. Dalam tulisan lain, Sigit seperti mengingatkan betapa kita sebagai warga bangsa tidak pernah mencintai diri sendiri, terutama karena kita tidak bisa memelihara sejarah.

Pesan itu tertangkap dalam tulisannya tentang peninggalan-peninggalan pribadi Kafka, Che Guevera, Ernest Hemingway, Lenin, Pablo Neruda, Valvac Havel, Frida Kahlo, Octavio Paz, dan lain-lain. Juga, dalam tulisannya yang mendeskripsikan kota-kota tua di Eropa, yang dibeberkan dengan sentuhan bahasa sastrawi penuh personifikasi.

Dengan buku ini, terlepas dari segala upaya menceritakan tentang keindahan negeri-negeri yang menjelma objek wisata bagi seluruh umat manusia, sebetulnya Sigit Susanto berusaha “meledek” kita. Betapa banyak hal yang sebetulnya bisa kita perbuat untuk membangkitkan citra bangsa ini di mata orang lain, tapi kita tidak pernah punya kesadaran akan kekuatan yang ada. Tetapi, Sigit meledek dengan cara yang tidak kita sadari, dan kita lebih terpikat kemampuannya bercerita dan memindahkan segala yang indah ke dalam teks sastra.

Inilah hakikat penulisan sejarah yang sebenarnya. Sejarah, seperti perjalanan hidup Kafka sebagai bagian Kota Praha, adalah kelindan dari kerja keras menjaga dan melestarikan kekuatan yang dimiliki.

*Hesma Eryani. Sumber: Lampung PostSabtu, 10 Juni 2006.

*Rehal buku: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan/ Sigit Susanto/ Puthut EA (penyunting)/ INSISTPress, 2005.