Bertualang Meretas Budaya Asing

Bertualang Meretas Budaya Asing*

MELANCONG ke negeri seberang menjadi impian banyak orang. Apalagi jika perjalanan itu melulu untuk kepentingan wisata. Lain, jika seseorang ke negeri seberang demi untuk mencari sesuap nasi, dengan pengalaman pahit getir kehidupan. Kalaupun ada pengalaman manis tentu itu hanya sebagai ‘pemanis’ pengalaman. Salah satu orang yang berbahagia adalah Sigit Susanto, 43, yang menulis buku Menyusuri Lorong Lorong Dunia.

Ia seorang Jawa, berasal dari Kendal, Jawa Tengah. Bersama istrinya, ia senang bertualang mengunjungi puluhan negara di belahan dunia. Setiap negeri yang disinggahinya, ditulis dalam bentuk esai lepas, dan sebagian hasil catatannya dimuat dalam buku setebal 373 halaman ini.

Buku itu ditulis dengan gaya bahasa populer. Siapa pun bisa menikmati goresan penanya yang sarat nilai jurnalistis. Lebih dari itu, Sigit adalah seorang yang mengenal banyak teori sastra, budaya, politik. Sigit memang bukan wartawan, namun naluri jurnalisme-investigatifnya tidak perlu diragukan lagi. Sigit sebelumnya adalah seorang yang pernah bermukim di Bali selama tujuh tahun. Perkenalannya dengan perempuan Swiss, Claudia Beck,–yang kini jadi istrinya–membuatnya menerima ajakan tinggal di Swiss.

Kalau selama ini orang apatis terhadap kisah perjalanan mungkin disebabkan bukan karena perjalanannya, melainkan karena penulisannya yang jauh dari mutu jurnalistis. Kebanyakannya buku cerita pengalaman perjalanan–terlebih kalau kita baca di blog internet–sifatnya adalah pengalaman personal. Gaya penulisannya bermutu rendah, data tidak akurat, subjektif sifatnya.

Nah, karya Sigit adalah antitesis dari tulisan-tulisan bualan yang selama ini kita temui. Dalam buku itu terdapat 16 kisah perjalanan Sigit bersama istrinya ke beberapa negara dan kota, seperti Swiss, Kuba, Italia, Cekoslovakia, Tunisia, Bulgaria, Jerman, Vanesia, Belanda, Meksiko, Rusia, London, Paris, dan sebagainya.

Apakah dengan kisah beberapa negara itu kita akan mendapat sesuatu yang baru? Bukankah tiap hari televisi, media cetak dan kabar dari rekan-rekan kita tentang negeri orang sudah sering kita dengar?

Di sinilah Sigit mampu membuat kita serasa lain menyimak kisah-kisah perjalanannya. Ia goreskan pengalamannya sarat tendensi pengenalan tradisi suatu masyarakat dengan perspektif sejarah secara baik. Contoh menarik misalnya, tulisan Che Masih Hidup di Kuba (hlm 38). Bagi seorang yang tidak mengenal teori-teori tentang sosialisme, kapitalisme atau teori sejarah politik, mustahil menjadi tulisan yang baik.

Mungkin kita mengenal Kuba selama ini hanya pada sisi kehebatan sang revolusioner Fidel Castro, atau sedikit berita tentang negeri miskin di kawasan Amerika Latin itu. Tapi melalui tulisan Sigit, kita akan diperkenalkan berbagai fenomena kehidupan yang selama jauh dari bayangan kita tentang sosialisme Kuba yang ternyata membawa kesengsaraan rakyatnya.

Sigit tidak memihak ideologi, sekalipun ia mengakui anti terhadap kapitalisme. Semua tulisan di dalam buku itu mempunyai perspektif sejarah suatu masyarakat sehingga kita tidak hanya mengenal satu keunikan tanpa alasan historis.

Pada tulisan Ziarah ke Makam Kafka di Praha 95, Makam Mbah Marx (Karl Marx), Gothe dan Strasbourg dan Jejak Suku Maya di Meksiko misalnya, akan mengenalkan kepada kita tentang bagaimana suatu masyarakat dan tradisi kesusastraannya.

Karena Sigit juga punya kepedulian sastra Indonesia, ia pun mencoba seobjektif mungkin membanding-bandingkan dengan kebudayaan diIndonesia, bahkan sering ia banding-bandingkan dengan situasi kampung halamannya di Kendal, Jawa Tengah.

Sajian menarik lainnya adalah tentang tradisi kehidupan Eropa. Dalam beberapa tulisan seperti Pertama Kali ke Eropa, Danau Zug, dan Bersepeda Keliling Amsterdam, Sigit memotret kebiasaan hidup orang Eropa melalui cara yang khas. Ia tidak terjebak oleh idiom-idiom keunggulan Eropa yang konon lebih beradab dari bangsa Asia.

Bagi Sigit, tradisi suatu masyarakat, suatu bangsa adalah cermin dari perjalanan sejarah panjang kehidupan umat manusia. Perbedaan tradisi dan kemajuan teknologi sekalipun tidak bisa melegitimasi tentang budaya unggul suatu masyarakat.

Kisah 16 negara dalam buku tentu menarik diapresiasi, terutama kalangan pecinta sastra yang berminat menghasilkan karya sastra melalui cara kerja jurnalisme investigatif.

*Najid Taslim, pengkaji ilmu sosial tinggal di Depok. Sumber: Media Indonesia.com.

*Rehal buku: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan/ Sigit Susanto/ Puthut EA (penyunting)/ INSISTPress, 2005.