Bisnis Perang Kaum Kapitalis

Bisnis Perang Kaum Kapitalis*

BUKU ini menelisik dan menjelaskan modus perang di zaman sekarang. Ditulis Dario Azzelini dengan editor Boris Kanzleitter, yang edisi Indonesianya diterbitkan INSISTPress.

Buku ini memberikan informasi nyaris detil tentang apa saja yang dilakukan pebisnis senjata, pemerintah versus seperatis, kudeta versus kontra kudeta, gerilya versus antigerilya, militer dan paramiliter, termasuk bungkus ideologi besar maupun petit-ideology (seperti konflik bersenjata berdasarkan isu SARA) dalam perang-perang di berbagai penjuru dunia dewasa ini.

Diawali dari barometer konflik yang diumumkan setiap tahun oleh Institut Investigasi Konflik Internasional di Heidelberg, Jerman, yang menunjukkan mayoritas konflik sosio-politik digerakkan militer; La Empresa Guerra, makin menegaskan teori kepentingan senjata di balik berbagai perang uni dan multilateral maupun domestik. Perang baru juga masih mengandung sifat lama, namun yang paling membedakan antara keduanya tidak selalu terlibatnya tentara reguler suatu negara saat terjadinya perang, sebagaimana perang dalam pengertian klasik.

Lihat perang di Afganistan dan Irak. Tidak ada batas waktu dan wilayah perang, meski dilakukan untuk menaklukkan musuh-musuh lama AS. Semua perang yang melibatkan AS dan sekutunya adalah pelanggaran terhadap banyak klausul dasar hukum internasional. Ciri ini yang membedakan perang baru dengan paradigma perang klasik atau lama yang memakai terminologi “perang benar” dan “perang salah”.

La Empresa Guerra mengambil berbagai kasus konflik dengan mengikuti garis horizontal dan vertikal penampang muka bumi. Objek selidik buku antara lain Perang Dingin hingga mencairnya; menguatnya dominasi AS-Eropa sebagai model-model kapitalisme global hingga resistensi terhadap keduanya dewasa ini; konflik-konflik di Amerika Latin; Timur Tengah dan Asia Minor; Balkan dan Kaukasus; kasus-kasus Afrika; juga ditambah dengan konflik agama, suku dan daerah versus pemerintah di Indonesia.

Dari konflik-konflik yang terjadi, dari utara hingga ke selatan dari timur hingga ke barat, para produsen senjata, laskar swasta dan para militer, mentor-mentor perang, intrik versus trik dan berbagai metode sabotase, hingga pemusnahan massal atas dasar isu ras bahkan gender. Semua muncul bersamaan dengan berbagai isu, motif yang variatif, sekali waktu berhubungan konteksnya antarsatu wilayah konflik dengan konflik lain, tapi bisa saling kontradiktif di lain waktu. Senantiasa menyebarkan bau mesiu dan aroma khas lembaran-lembaran uang.

Perang baru adalah bentuk ekstrem atas kebutuhan untuk menang, dominan atau superior, dan keserakahan atas harta. Dalam konteks ekstremitas ini, membunuh, memerkosa perempuan, dan mengeksploitasi anak-anak untuk menjadi serdadu, bukan lagi hal tabu. Karena itu, yang berlaku adalah logika para pemenang, bukan korban perang. AS dan sekutunya menyebut perang di Afganistan dan Irak sebagai rangkaian menertibkan dunia. Pada tahap ini, peraturan internasional yang dibuat adalah aturan untuk menghancurkan dan membunuh tanpa harus menjadi tertuduh.

La Empresa Guerra akan membuat kita menjadi paham apa makna pentingnya membenci, menolak, dan melawan kapitalisme global. Dengan menyitir Marx, La Empresa Guerra menyebutkan kapitalisme tidak hanya menjadikan perang sebagai fungsi penaklukan wilayah, perebutan pasar serta sumber-sumber alam dan tenaga-tenaga kerjanya saja. Lebih jauh perang merupakan mekanisme kapitalisme untuk mengatasi krisis kapitalisme yang diakibatkan kelebihan produksi. Kerawanan-kerawanan massal yang terjadi sejak 4 dekade yang lalu hingga dewasa ini, makin menguatkan argumen ini.

Informasi tentang perang baru, terutama jejaring bisnis yang melibatkan paramiliter dan satuan-satuan tentara swasta, juga bagaimana organ-organ kapitalisme global menari-nari di atas maupun di balik tirai panggung konflik bersenjata di berbagai benua, disajikan dengan khas dalam buku ini. Sebagai rujukan yang menyoroti sepak terjang para produsen senjata, mentor perang, dan pejuang-pejuang domestik yang keranjingan kuasa, buku ini memang kaya fakta. Bagi mereka yang tertarik mempelajari modus operandi serta perspektif lain untuk melihat perang modern, baiklah menelanjangi lembar-lembar dalam buku ini.

Urgensi lain yang dapat kita pelajari dari orde baru perang modern adalah pentingnya melakukan antisipasi dampak buruk yang meluas dari konflik yang diciptakan oleh perang model ini. Salah satu langkahnya dengan reengineering sistem sosio-kultural dengan memasukkan harmonize-ratio, semacam software proaktif yang dapat meng-counter amunisi serta cara kerja perang kontemporer, dan bisa diinstal ketika kecenderung pada kerja sama, kearifan, dan harmoni mulai hilang dari masyarakat.

Termasuk dalam langkah preemptif ini adalah mutlaknya melakukan reformasi paradigmatik dalam tubuh militer seraya menyadarkan mereka bahwa lingkup operasinya bukanlah harumnya kayu gaharu atau merakit bom waktu dengan prostitusi, melainkan bagaimana tampil lebih bersahabat secara kemanusiaan.

Kita pasti mengenal betul makna kalimat revolutionary of today becoming from reactionary of tomorrow, termasuk segudang pengalaman perang domestik yang pernah terjadi, yang terbukti melelahkan, merusak dan hanya menyisakan defisit sosial.

*Oleh: Agustiansa Yani, Fungsionaris ICMI Orwil Lampung, Senior Expert pada Heksamuda inCo & Group | Lansir: Lampung Post – Sabtu, 25 November 2006.

*Rehal buku: La Empresa Guerra: Bisnis Perang dan Kapitalisme Global/ Dario Azzelini & Boris Kanzleiter/ Dina Oktaviani (penerjemah)/ Onny Wiranda (penyunting)/ INSISTPress, 2005.