Seksualitas Standar Ganda ala Indonesia

Seksualitas Standar Ganda ala Indonesia*

KAJIAN tentang seks, seksualitas, atau perkelaminan yang kerap menggiurkan pembaca dari berbagai kalangan memunculkan sikap yang menarik –juga sering munafik. Seksualitas yang menjadi salah satu faktor kehidupan manusia menjadi daya tarik untuk dikaji sepanjang peradaban manusia, kalangan muda hingga tua. Sejarah dan seksualitas merupakan dua entitas yang beriringan dalam sebuah perjalanan evolusi manusia. Pada beberapa nenek moyang manusia, seks merupakan semacam bagian dari kepedulian (bahkan pemanjaan) terhadap genital.

Pada waktu itu genital bahkan bukan merupakan sesuatu yang dianggap cabul meskipun ia nyaris tak tertutupi oleh pakaian atau pelindung layak kita sekarang. Bahkan pada beberapa kebudayaan kuno upacara yang dilakukan dengan menggunakan simbolisasi /phallus/ (kemaluan laki-laki) merupakan kultur tertua di muka bumi, demikian juga jika kita mengamati beberapa keramik kuno dengan ukiran yang menggambarkan tentang kejadian hidup sehari-hari. Beberapa gambar menceritakan laki-laki tengah bersenggama secara ramai-ramai (/orgy/). Terdapat pada gambar seorang Mesir Kuno mengenakan pakaian sedikit terbuka untuk menghindari cuaca panas. Pada kelanjutannya berbagai gaya pakaian tersebut ditirukan masyarakat kelas atas pada zaman Romawi.

Seksualitas Profan

Secara sederhana masyarakat memandang bahwa seksualitas yang bersifat sakral adalah sesuatu yang masuk dalam tangkup melahirkan (prokreasi) untuk membentuk dan menciptakan berbagai relasi sosial. Antara kedua belah pihak yang melakukan hubungan seksual harus melalui lembaga resmi yang membentuk perkawinan seperti agama dan negara. Dalam seksualitas profan, tubuh benar-benar diliberasikan serta tidak didisiplinkan. Unsur nilai yang terkandung dominan dalam tipe atau jenis seks ini adalah hedonisme. Karena tidak dominan unsur agama yang memberi batasan jelas antara sakral-profan, disiplin tubuh, sehingga batasan bagi pelaku seksualitas profan menjadi lenyap dan abstrak. Hingga saat ini pelaku seksual sakral lebih dipandang mulia oleh masyarakat Indonesia. Ranah wacana yang terjadi adalah menguatnya wacana pendosa bagi pelanggar rezim moral dan agama, serta kontrak sosial yang telah menjadi sebuah kesepakatan warga. Sebagai contoh di Indonesia, ketika konsepsi seksualitas yang mendua tersebut dimenangkan oleh agama (dalam hal ini negara berperan sebagai aktor dengan berbagai undang-undang sebagai kaki tangan) maka agama dan negara berhak memaknai bahwa pelacuran yang bersifat promiskuitas, homoseksualitas serta perilaku seks bebas yang bersifat nonprokreasi akan dianggap sebagai perbuatan tak bermoral, berdosa, aib, patut dikucilkan, serta kelak pelakunya akan masuk neraka (halaman 23).

Luar Biasa tapi Biasa

Dualisme seksualitas akan berkelanjutan ketika seks itu sendiri dikuasai oleh sebuah lembaga (baca: agama). Di satu sisi persetubuhan manusia mempunyai kekuatan moral yang sah, dianggap bagian dari ibadah, pendekatan diri kepada Tuhan manakala ia telah disakralkan oleh upacara pernikahan, namun pada saat yang sama persetubuhan akan dianggap sebagai kegiatan yang bejat, amoral, jika ia dilakukan di luar kerangka “upacara pernikahan”. Dalam dua kasus tersebut terdapat sebuah kesamaan esensi yakni hubungan badan (persetubuhan), namun yang menjadi faktor determinan adalah sebuah lembaga yang bernama upacara perkawinan (halaman 24). Buku ini secara panjang lebar mengupas tiga fenomena luar biasa (tapi biasa) di Indonesia: homoseks, pekerja seks, dan seks bebas. Warga negara yang homoseks meskipun persentasenya kecil, namun ia mempunyai sejarah panjang dalam peradaban Nusantara hingga Indonesia.

Demikian halnya dengan pekerja seka dan seks bebas yang catatannya dapat ditelusuri dalam deskripsi sejarah peradaban bangsa kita. Buku ini tidak menyimpulkan /ndakik-ndakik/ atas fenomena seksualitas di Indonesia yang disikapi masyarakat dengan standar ganda. Kelebihan buku ini terletak pada kejelian dan ketelitian penulis dalam menyajikan data secara rinci sehingga analisis-analisisnya dapat dipakai untuk memotret fenomena pergundikan atau perselingkuhan di kalangan pejabat, artis, wakil rakyat, pebisnis, maupun gelandangan. Meskipun tiga entitas seks itu belum mewakili dunia perkelaminan –lesbi dan waria tidak masuk dalam kajian– namun buku ini telah memberi sumbangsih berharga bagi dunia perkelaminan di Indonesia. Sebab dunia perkelaminan tidak mengenal batas waktu, tempat, dan strata sosial. Hampir setiap manusia mempunyai sikap sama terhadap seksualitas: berstandar ganda. Tidak percaya, coba tanya orang di samping Anda.

*Kholilul Rohman Ahmad | Sumber: Suara Merdeka –2 Juli 2007.

*Rehal buku: Tangan Kuasa dalam Kelamin: Telaah Homoseks, Pekerja Seks, dan Seks Bebas di Indonesia/ Hatib Abdul Kadir/ Benedict Anderson (editor)/ INSISTPress, 2007.