Belajar dari Rimba

Belajar dari Rimba*

Bagi orang rimba, kenikmatan tertinggi hanyalah saat hutan memberi mereka hidup. Ketaatan memegang adat inilah yang membuat rombong wakil Tuha tetap bertahan dengan pola hidupnya. Padahal rombong mereka terhitung dekat dengan dunia luar, hanya dua jam berjalan kaki dari pemukiman transmigran SP A Tanagaro.

Kehidupan di rimba ternyata lebih panjang dari yang aku bayangkan. Tanpa diduga sudah hampir empat tahun aku di rimba ini. Gagasanku soal mengembangkan kader guru dari orang rimba sendiri pun ternyata bisa jalan. Anak-anak rimba yang menjadi kader guru ada 14 orang, tujuh orang sudah menikah, jadi tinggal tujuh orang yang masih bergerak bersama dan masih mempercayai mimpiku.

Lalu apa manfaat yang sudah bisa dirasakan anak-anak setelah mereka sekolah di rimba? Anak-anak bisa menghitung juga mengalikan jumlah uang yang seharusnya didapat dari menjual hasil hutan (hal 180).

Berangkat dari catatan harian, buku ini berisi mengenai pemikiran konseptual tentang Sokolo rimba sebagai hasil perenungan panjang sejak dulu hingga sekarang dari penulis. Tentang lahirnya Sokolo “gangster” pendidikan alternatif bagi masyarakat adat yang mengalami perubahan lingkungan.

Disajikan secara apa adanya, nyata, hidup, penuh pengalaman langsung tangan pertama. Lewat proses pengalaman langsung ini penulis berhasil mendidik Orang Rimba, tapi juga belajar dari dan diajari oleh orang rimba tentang cara pandang, budaya, perilaku dan kehidupan orang rimba dengan segala kekayaannya.

*Sumber: Banjarmasin Post – 12 Agustus 2007.

*Rehal buku: Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba/ Butet Manurung/ INSISTPress, 2007.