Petani dan Hegemoni Pangan

Petani dan Hegemoni Pangan*

Idealnya menjadi petani berarti menjadi golongan masyarakat yang bergelimang pangan. Karenanya hal yang mustahil golongan petani dilanda kelaparan. Sebab di tangan petanilah produksi pangan dilakukan. Melalui tangan petani pula distribusi pangan disalurkan. Tapi realitasnya justru bertolak belakang dengan tatanan ideal tersebut. Pasalnya, justru petani, penghasil pangan manusia yang menjadi kelompok pertama yang menderita kelaparan. Kondisi itulah yang menimpa hampir sebagian besar—jika tidak ingin menyebut keseluruhan—petani di belahan dunia ketiga.

Setidaknya hingga saat ini ada 800 juta penduduk (sebagian besar petani) yang mengalami kelaparan di dunia ini tanpa pernah tahu sampai kapan penderitaan itu berakhir. Penyebabnya? Banyak kalangan yang menyalahkan ‘iklim’ atau pemanasan global (global warming) sebagai biang kerok masalah pangan dunia ketiga. Sebab pemanasan global akan mendatangkan cuaca yang ekstrim dan kerap menimbulkan bencana. Mulai dari banjir, musim kering, dan lainnya.

Pandangan lain mengatakan bahwa muasal dari kelaparan adalah pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Dengan menggunakan teori Malthus disebutkan bahwa pertumbuhan penduduk, bila tidak dikendalikan, akan naik menurut deret ukur (1,2,4,8 dan seterusnya) padahal produksi pangan meningkat hanya menurut deret hitung (1,2,3,4 dan seterusnya).(hal. 64). Sehingga kelebihan penduduk akan menyebabkan kekurangan bahan makanan.

Tapi Susan George menepis semua pandangan diatas. Pertambahan penduduk sebenarnya bukan alas an utama penyebab kelaparan. Tetapi karena masyarakat kelas atas di negara kaya memang memiliki kuasa, dan mereka takut kekuasaan mereka direbut oleh golongan miskin yang terus mengalami pembengkakan. Karena itu tak salah jika Susan pada paragraf awal buku ini menegaskan bahwa sebenarnya kelaparan terjadi karena ulah manusia sendiri. Tepatnya, keserakahan segelintir manusia yang merampas sumber daya alam dan makanan yang menjadi hak orang banyak dan mengeruk keuntungan diatas penderitaan orang-orang tertindas lewat akal bulus (hal. 2). Siapakah mereka? siapa lagi kalau golongan berpunya yang ingin memperoleh bahan makanan tanpa bekerja. Caranya dengan membangun birokrasi dan menciptakan para pengawal untuk kemudian menguasai tanah yang menjadi sumber makanan dan orang-orang yang mengolahnya. Itulah cikal bakal kapitalisme.

Keterbatasan kepemilikan lahan semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah dalam sektor pertanian yang mengandalkan perhitungan untung rugi bagi negara maupun pasar internasional. Yakni mengarahkan pertanian pada sector industri melalui revolusi hijau. Petani dipaksa tergantung pada paket-paket revolusi hijau berupa penggunaan pupuk kimiawi, tanamasn monokultur, penggunaan standar bibit, penggunaan pestisida tertentu dan sebagainya sehingga memingggirkan petani dari kebiasaan maupun pengetahuan lokalnya.

Benar memang dengan revolusi hijau terjadi peningkatan hasil produksi pertanian. Persediaan bahan makanan jadi berlimpah. Tapi di balik itu semua, persediaan yang menumpuk itu justru menunjukkan bahwa harga bahan makanan semakin tidak terjangkau oleh orang-orang miskin, sama sekali bukan karena adanya peningkatan gizi masyarakat (hal. 151).

Akibatnya kaum petani tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka terus berjalan dalam kubangan kemiskinan dan didera bencana kelaparan. Makanya jangan heran jika kemudian banyak petani yang menggadaikan harga benda merekay ang sedikit itu lalu berbondong-bondong meninggalkan desa menuju kota untuk sekedar mencari pekerjaan. Penduduk yang beruntung bisa mendapatkan pekerjaan menjadi kuli kasar, sementara yang gagal akhirnya menjadi gelandangan di pinggiran ibu kota.

Apa reaksi pemerintah atas kondisi ini? Tentu saja jawaban atas itu semua adalah penggusuran. Padahal terciptanya gelandangan, kawasan kumuh di ibukota, PKL, anak jalanan dan sebagainya justru karena kebijakan di sektor pertanian yang tidak berpihak pada rakyat. Sampai disini semakin jelaslah bahwa negara yang menghamba pada kapitalisme sebenarnya tidak memiliki jawaban atas masalah kelaparan. Yang mereka ketahui hanyalah cara melenyapkan orang lapar dari muka bumi.

Meski buku ini dengan sangat provokatif, tapi dilengkapi data-data yang disuguhkan cukup menarik. Selain itu buku ini juga diselingi dengan gambar-gambar karikatur yang lucu. Mungkin agar ditengah penderitaan yang krisis multidimensi yang melanda dunia ketiga—termasuk Indonesia—masyarakatnya mau bangkit dan memulai langkah kongret untuk mengatasi itu semua. Meskipun dengan diawali dengan kelucuan yang membangkitkan perlawanan.

*Nurfa Rosanti (Pengajar SMP Darus Syahid) | Sumber: Harian Surya – 6 Januari 2008.

*Rehal buku: PANGAN: Dari Penindasan Sampai Ketahanan Pangan/ Susan George, Nigel Paige/ Magdalena Sitorus (penerjemah)/ INSISTPress dan KSPPM, 2007.