Sisi Gelap Kolonialisme Pengetahuan

Sisi Gelap Kolonialisme Pengetahuan*

WAJAH sebuah bangsa bisa dilihat dari sejarahnya, demikian kata sebuah pepatah. Sejarah juga merupakan cermin sekaligus ‘mesin’ pembentuk karakter sebuah bangsa. Ketika sejarah hanya dicatat berdasarkan sepenggal peristiwa dan menganalisisnya dengan asumsi, penyok sudah wajah sebuah bangsa.

Dengan semangat seperti itulah, peneliti Maori terkemuka dari Selandia Baru Linda Tuhiwai Smith dalam buku Decolonizing Methodologies, Research and Indigenous Peoples ini berusaha membongkar kembali pandangan Barat terhadap Timur. Dengan pengalaman sebagai peneliti yang banyak melakukan penelitian pada bangsa Maori, Smith sampai pada keyakinan bahwa bila sejarah sebuah bangsa dirangkai oleh bangsa lain, terutama melalui penelitian dengan mengendarai roda kolonialisme sebagai instrumennya, sebuah bangsa akan sekadar menjadi pecundang. Pada ranah inilah, menurut Smith, mata pisau imperialisme akan dijalankan melalui infiltrasi pengetahuan, mengklasifikasikan dan merepresentasikan bangsa terjajah dengan cara Barat, untuk kemudian lewat kacamata Barat pula pengetahuan itu dikembalikan kepada bangsa terjajah (hlm 3-4).

Dekolonisasi metodologi yang digagas Smith dalam buku ini merupakan sebuah upaya untuk memerdekakan cara berpikir dan bekerja. Merdeka dari segala bentuk penjajahan pengetahuan. Karena tanpa kesadaran kritis, yang terjadi adalah ‘penundukan’ intelektual dan ilmu pengetahuan–meminjam istilah Vandana Shiva (2001)–bangsa Barat atas bangsa Timur. Bagi Smith, persoalannya bukan soal ingin mendikotomikan Barat dan Timur dan menghadapkannya secara vis a vis. Tapi sekadar mengingatkan bahwa sering suara nyaring yang kerap didengungkan Barat atas perlindungan pengetahuan ternyata menyimpan ideologi besar berupa penundukan, kolonisasi, yang kemudian berujung pada ‘penjarahan’ atas pengetahuan.

Ada ilustrasi sederhana yang bisa menggambarkan dalam hal ini. Dalam sejarah masyarakat India terdapat berbagai pengetahuan lokal tentang pengobatan dan pertanian yang berkembang secara alamiah serta melalui kebijaksanaan lokal yang dimiliki bersama. Namun, kapitalisme melalui aparaturnya, yakni saintisasi, telah merampoknya dari masyarakat India dengan dalih perlindungan. Dewasa ini, menurut Smith, kolonisasi metodologi telah berjalan melalui kelembagaan pendidikan. Ia berjalan dalam sistem pendidikan yang bertujuan memelihara sistem sosial ekonomi maupun kekuasaan. Sistem pendidikan yang tak pernah bebas dari kepentingan politik dan hanya mereproduksi struktur sosial yang tidak adil.

Yang menarik dari buku setebal 346 halaman ini, Smith menyajikan dengan semangat membongkar positional superiority–sebagaimana dikemukakan Edward Said (1978) dalam buku klasiknya Orientalism. Dengan semangat itu, Smith memulai sebuah penulisan dengan menempatkan cara pandang rakyat terjajah sebagai sesuatu yang dominan dan istimewa. Pengetahuan dipilih dalam hal ini karena merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari dinamika kolonialisme.

Dalam pandangan Smith, yang sangat menyakitkan bangsa Timur adalah sering intelektual Barat mengklaim mengetahui sesuatu tentang Timur hanya dengan perjumpaan sesaat dengan satu-dua orang dari bangsa Timur. Lalu, mereka mengklaim mengetahui segala tentang Timur. Tak jarang mereka juga mengklaim sesuatu yang mereka ketahui untuk kemudian dipatenkan.

Dengan kondisi itu, buku ini menegaskan muncul sebuah bentuk instrumen baru kolonialisme dan kapitalisme. Kalau dahulu kolonialisme berwujud dalam bentuk penundukan fisik dan geografis, saat ini telah berwujud dalam bentuk penundukan intelektual dan pengetahuan.

Buku ini merupakan gugatan keras terhadap cara pandang kolonialistik dalam cara kerja produksi ilmu pengetahuan. Selain itu, sebuah ikhtiar menyingkap ideologi dan semangat yang terkandung di balik segala sesuatu yang kerap mengatasnamakan perlindungan terhadap pengetahuan yang tak lain adalah kolonisasi, penjarahan, dan ekspansi pasar Barat terhadap Dunia Ketiga.

Maka hadirnya buku ini diharapkan dapat membuka ulang pengetahuan yang selama ini melulu didominasi Barat sekaligus membongkar praktik-praktik manipulatif pengetahuan yang dijalankan Barat. Ia juga mengingatkan bahwa cara-cara penelitian ilmiah yang dilakukan Barat sering juga menjadi sisi gelap kolonialisme pengetahuan yang selama ini tak terungkap.

*Achmad Maulani, mahasiswa pascasarjana UGM Yogyakarta. Sumber: Harian Media Indonesia – Januari 2008.

*Rehal buku: Dekolonisasi Metodologi/ Linda Tuhiwai Smith/ Nur Cholis (penerjemah)/ INSISTPress, 2005.