Mencari Jalan Lain Melawan Neoliberalisme

Mencari Jalan Lain Melawan Neoliberalisme*

Fenomena makin melonjaknya harga kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM) ternyata bukan monopoli Indonesia.

NEGARA-negara berkembang lainnya tengah mengalami krisis serupa. Buktinya, antrean masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar hingga demo menentang kenaikan harga kebutuhan pokok juga terjadi di Mesir, Kamerun,Pantai Gading, Mauritania, Ethiopia, Madagaskar, Filipina, dan beberapa negara lainnya.

Bahkan, PBB menyatakan bahwa perdamaian dunia tengah terancam dan berpotensi besar terjadi Perang Dunia III (PD III) akibat kecenderungan kenaikan harga-harga bahan makanan yang sudah terjadi di banyak negara. Menurut Direktur Jenderal Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO) Jacques Diout, gejala itu sudah terlihat dengan jatuhnya korban dalam aksi massa yang memprotes ke- naikan harga makanan.

Di Haiti misalnya, lima orang tewas dalam aksi unjuk rasa memprotes kenaikan harga makanan dan bahan bakar yang berujung dengan bentrokan. Pertanyaannya apa yang menyebabkan krisis tersebut terjadi? Menurut Ha-Joon Chang dan Ilene Grabel, penulis buku ini,semua itu disebabkan karena kebijakan pembangunan ekonomi neoliberalisme. Memang sejak dekade 1980-an, hampir semua negara berkembang menggeser kebijakan-kebijakan ekonomi mereka ke arah neoliberalisme dan memberikan kepercayaan yang lebih besar terhadap mekanisme pasar.

Mereka melakukan restrukturisasi peran negara dalam perekonomian untuk meliberalisasi perdagangan domestik, regulasi investasi, dan menswastakan perusahaan-perusahaan milik negara. Selain pembukaan pasar sebebas-bebasnya, prinsip neoliberalisme lainnya adalah memotong anggaran untuk pelayanan sosial. Misalnya, pencabutan subsidi pendidikan, kesehatan,dan infrastruktur publik (jalan raya, pembangunan jembatan, bendungan, dan sebagainya).

Semua anggaran digunakan semaksimal mungkin untuk meningkatkan profit. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara maksimal, sehingga mampu menjadi solusi bagi persoalan-persoalan yang menghadang negara-negara dunia ketiga. Seperti kemiskinan, pengangguran, gizi buruk, dan rendahnya tingkat pendidikan penduduk, dan sebagainya. Namun setelah hampir setengah abad sistem pasar ini berjalan, hasilnya justru menyakitkan.

Neoliberalisme membawa masalah baru dan justru memperburuk masalah yang telah ada sebelumnya, seperti meningkatnya kerentanan dunia perbankan, meluasnya krisis finansial, serta semakin lebarnya jurang kemiskinan. Dan parahnya, itu terjadi hampir di semua negara yang kini tengah menganut sistem pembangunan berbasis pasar itu.

Karena itu, Ha-Joon Chang dan Ilene Grabel dalam buku ini menyuguhkan alternatif-alternatif pembangunan yang memungkinkan untuk diterapkan di negaranegara berkembang disesuaikan dengan kondisi suatu negara; seperti sumber daya alam, kelangkaan mata uang asing, kedekatan dengan pasar utama,kondisi sosial politik, dan sebagainya. Sebab, memasrahkan semua persoalan ekonomi pada neoliberalisme adalah kesalahan fatal dan berbahaya (hal xi) Buku ini terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama yang terdiri dari enam bab mengurai mitos-mitos pembangunan neoliberalisme yang kerap menjadi pembenar kesuksesan neoliberalisme di negara maju.Padahal, faktanya kebijakan berbasis pasar itu justru menimbulkan malapetaka bagi negara berkembang pada seperempat abad terakhir ini.

Misalnya saja, mitos bahwa negara kaya mencapai kemakmuran berkat komitmen terhadap pasar bebas. Padahal, faktanya negara Inggris dan Amerika Serikat (AS) ketika awal-awal membangun negara justru menerapkan proteksi sangat ketat. Bahkan, mitos bahwa globalisasi neoliberalisme tidak dapat dan tidak akan berhenti juga diblejeti oleh Ha-Joon Chang dan Ilene Grabel dalam buku ini.

Dengan tegas penulis buku ini—mengikuti falsafah Marx—bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan menentang mitos Francis Fukiyama itu. Pada bagian kedua buku ini menawarkan alternatif sebagai counter bagi neoliberalisme. Setidaknya ada lima alternatif yang disuguhkan dalam buku setebal 230 halaman ini. Sayang,buku ini kurang tegas memberikan alternatif kebijakan pembangunan.

Benar kita diberi pilihan alternatif, tetapi kita tidak disuguhi kendala dan hambatan apa ketika menempuh jalur alternatif itu sehingga ibaratnya kita seperti berjudi dengan sistem ekonomi. Meski demikian, dalam memberikan alternatif,buku ini tidak terkesan menghakimi. Misalnya, ketika mencoba memberi alternatif terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) ala neoliberalisme, penulis buku ini menawarkan dua cara; memanfaatkan ruang dalam sistem HAKI atau menentang sistem itu.

Sebab, hanya sedikit manfaat ekonomis berkaitan dengan meningkatkan perlindungan HaKI di negara-negara berkembang. Dengan kata lain, yang diuntungkan dari HaKI hanyalah para pemilik modal sebagai jalan mempercepat lakunya produksi massal di bidang kesenian dan intelektual berbasis pasar.

Tawaran semacam itu diberikan penulis buku ini karena kelayakan setiap kebijakan tertentu tergantung pada kondisi suatu negara; seperti sumber daya alam,kelangkaan mata uang asing, kedekatan dengan pasar utama,kondisi sosial politik,dan sebagainya. Namun, yang paling mendasar menurut saya adalah keberanian para pemimpin negara untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa bergantung pada negara lain.

Tanpa keberanian bersikap yang demikian, alternatif pembangunan model apa pun pasti akan mengalami jalan buntu.

*Edy Firmansyah, Pustakawan di Sanggar Bermain Kata (SBK) Madura, Alumnus Kesejahteraan Sosial Universitas Jember | Sumber: Koran SINDO – 20 April 2008.

*Rehal buku: Membongkar Mitos Neolib: Upaya Merebut Kembali Makna Pembangunan/ Ha-Joon Chang dan Ilene Grabel/ Muh. Gusti Zainal (penerjemah)/ INSISTPress, 2008.