Bukan Sekadar Catatan Perjalanan

Bukan Sekadar Catatan Perjalanan*

CATATAN perjalanan bukanlah hal baru dalam dunia tulis-menulis (jurnalistik) dan akademis. Pada prinsipnya, catatan perjalanan memuat informasi tentang suatu tempat, peristiwa, manusia, alam, dan juga tradisinya.

Romo Mangunwijaya pernah menulis catatan perjalanannya ke berbagai negara dalam sebuah buku “Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa” (1987). Ia memberikan penilaian-penilaian berdasarkan perspektifnya, misalnya kontras antara kemajuan sebuah kota atau negara dengan borok-borok perkotaan antara lain penduduk miskin. Penilaian seperti ini juga bisa dijumpai dalam buku catatan perjalanan “Menyusuri Lorong-lorong Dunia” (Jilid 2) ini. Tanpa perlu membenturkannya dengan buku Romo Mangun, buku ini membeberkan pengalaman penulisnya ketika berkunjung ke Irlandia, Hongaria, Maroko, China, dan Vietnam.

Teks-teks yang menyusun catatan peristiwa tentang perjalanan dalam buku ini sangat mendetail dan disajikan dengan gaya bahasa bertutur, renyah, dan lugas; ia bukan segepok informasi praktis mengenai tempat tertentu atau semacam tourist guide. Meski ia ditulis dari perjalanan melancong ke beberapa tempat wisata, Sigit Susanto, penulis buku ini, menulisnya dengan pendekatan orang pertama tunggal.

Karena itu, membaca catatan perjalanan ini seperti membaca sebuah novel realis. Gaya penulisan itu membuat buku ini tidak menjemukan, meski misalnya, empat ratusan halaman tentu sesuatu yang sangat tebal untuk sebuah catatan perjalanan semata. Gaya penulisan ini menggairahkan dan mampu menarik imajinasi pembaca larut ke dalam lekuk-lekuk peristiwa dalam teks, sehingga pembaca seakan seperti berada di tempat yang sedang dikisahkan.

Sastra Perjalanan

Buku ini bisa disebut sastra perjalanan. Sastra (seni) berfungsi dalam dua hal yaitu, fungsi estetis (menyenangkan, menghibur) dan epistemik (bermanfaat). Horace menyebutnya dulce et utile. Gaya penulis buku ini menyenangkan, menghibur (estetis), dan bermanfaat yang melampaui segepok informasi kering layaknya buku-buku tourist guide itu. Yang terakhir ini tersebar dalam empat ratus halaman penuh yang bisa dijadikan sharing pengalaman.

Penulisnya memiliki bacaan dan taste yang baik tentang karya sastra dan wawasan yang cukup luas mengenai sastrawan — dua hal ini kini nyaris tidak dilakoni dan dimiliki lagi oleh para penulis baru kuncup di negeri ini. Dalam setiap babnya, penulisnya menyinggung sastrawan negara tersebut yang nama dan karyanya diperbincangkan oleh masyarakat pecinta sastra di negara-negara lain karena memang karya-karya mereka bermutu dan bukan asal dikatrol, digoreng, dan di-endorsed. Beberapa di antaranya adalah sastrawan Dunia Ketiga asal Maroko yaitu Tahar Ben Jelloun dan Mohamed Choukri.

Suplemen lainnya adalah menyebut nama sastrawan tertentu yang bagi pembaca di negeri ini mungkin jarang mendengarnya misalnya, Fernando Antonio Nogueira Pessoa, Bapak Sastra ortugal, yang sebetulnya, menurut pengakuan salah seorang dalam buku tersebut lebih diakui keberadaannya ketimbang Jose Saramago — peraih hadiah Novel Sastra 1998. Soal pengakuan publik di dalam negeri, Imre Kertesz — sastrawan Yahudi peraih hadiah Nobel Sastra pada 2002 yang lalu — juga sama. Menurut pengakuan seseorang dalam buku ini: “…orang Hongaria rata-rata tidak mengenal Imre Kertesz. Bahkan para sastrawan Hongaria sendiri juga heran. Dia kan belajar dan tinggal di Jerman”. Artinya, ini bisa membuat kita menerawang, jangan-jangan, panitia Novel Prize juga memainkan apa yang penyair Saut Situmorang sebut sebagai “politik sastra”!

Selain itu, ada kontras lain yang cukup menggelitik dan perlu dijadikan perbandingan dengan negeri kita — catatan perjalanan adalah juga sharing pengalaman antara satu negeri dengan negeri lainnya. Kontras itu adalah soal James Joyce, penulis Ulysses, dan apresiasi tentangnya. Di Zurich dan Duvblin, James Joyce dan karyanya diapresiasi dengan baik. Bahkan di Zurich ada kelab baca khusus yang mengaji Ulysses selama tiga tahun.

Orang Irlandia maupun orang Swiss bangga punya James Joyce yang jika dibandingkan dengan kebanggaan bangsa ini kepada sosok sastrawannya, bagaikan langit dan bumi karena itu terbiasa “memuja” jenderal tinimbang sastrawan. Padahal, sastrawan adalah simbol literacy bagi sebuah bangsa, sedangkan jenderal adalah simbol penakluk yang dalam catatan sejarah selalu dikutuk karena tangannya berdarah-darah.

Bandingkan misalnya bagaimana di negeri ini patung-patung menggambarkan sosok pahlawan perjuangan fisik, sementara di negeri lain, patung, monumen, sampai nama jalan diambil dari nama-nama seperti Oscar Wilde, Samuell Becket, Shakespeare, dan Goethe. Ini hanya sebagian kecil yang bisa disebutkan di sini, mengingat dalam buku ini informasi mengenai itu sangat gemuk. Bahkan Duta Besar Irlandia untuk Swiss menyempatkan diri membaca Ulysses di hadapaan hadirin kelab baca. Tentu ini sesuatu yang mungkin belum pernah dilakoni para dubes kita di negeri orang, katakanlah membaca karya Pram atau sastrawan besar Indonesia lainnya di hadapan publik luar.

Dalam buku ini dikisahkan ada sebuah spanduk bertuliskan “Joyce: I have Ulysses, what did you do?” Menulis adalah tindakan yang mampu mendongkrak martabat dan harga diri sebuah bangsa karena tulisan adalah simbol literacy, meski secara fisik misalnya, negeri itu tidak maju. Orang Maroko bangga punya penulis seperti Fatima Mernissi, Ben Jelloun dan Mohamed Choukri, Mesir membanggakan Naguib Mahfoudz, India dan China punya Tagore, Gandhi, dan Lu Xun, terlebih Eropa dan Amerika.

*Yudhis M. Burhanuddin, Mahasiswa S2 UNHI Denpasar | Sumber: Bali Post – Minggu, 08 Juni 2008.

*Rehal buku: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan Jilid 2/ Sigit Susanto/ INSISTPress, 2008