Sekolah Adalah Candu

Sekolah Adalah Candu*

Melalui karyanya yang terkenal Sekolah Itu Candu, Roem Topatimasang mengatakan bahwa sekolah –sebagaimana keberadaannya selama ini, tidak lagi berguna. Sekolah hanya meracuni anak didik.

Asumsi ini berangkat dari kemandulan sekolah berhadapan dengan realitas dalam melahirkan solusi alternatif terhadap setiap problem sosial kehidupan yang muncul. Tesis ini kemudian mendapatkan legitimasinya pada kenyataan tingkat pengangguran yang sangat tinggi.

Pengangguran yang sampai detik ini menjadi persoalan yang tidak mampu dicarikan solusinya oleh pemerintah akan terus berlanjut. Selama sekolah didefinisikan secara kaku. Sekolah hanya didefinisikan sebagai proses belajar dalam sebuah lembaga pendidikan yang formal dengan seperangkat aturan yang ketat dan kaku.

Padahal, menurut Moh Asy’ari Muthhar, aktifis Pondok Budaya IKON Surabaya, sekolah sebenarnya bisa dimaknai secara lebih luas sebagai suatu proses belajar dalam kehidupan semesta ini. Sekolah adalah seluas kehidupan itu sendiri.

Lembaga pendidikan yang telanjur dianggap sebagai wahana terbaik bagi pewarisan pelestarian nilai, akhirnya sekadar menjadi alat untuk mewariskan dan melestarikan nilai-nilai ‘resmi’ yang sedang berlaku dan direstui, tentu saja, oleh siapa yang berkuasa menentukan apa nilai-nilai resmi yang mesti berlaku dan direstui.

Dibungkus dengan slogan-slogan indah tapi membius, misalnya nation and character building, nilai-nilai resmi itu wajib diajarkan di semua lembaga pendidikan dengan satu penafsiran resmi yang seragam.

Dari sinilah, selain indoktrinasi, muncul juga berbagai peraturan, dan penyeragaman-penyeragaman, juga kultur semimiliter, seperti baris berbaris, budaya komando, dan seterusnya. Di sisi lain, lembaga pendidikan formal mayoritas juga telah menjadi kapitalistik.

Di sini, ada proses elitisasi, komersialisasi, dan kapitalisasi lembaga pendidikan. Ini sudah sangat lazim dalam lembaga pendidikan di tanah air. Pendidikan menjadi lembaga komersial, mewah, dan mengeluarkan banyak biaya, akan tetapi hanya melahirkan generasi-generasi yang gamang dan gagap.

*Rosi Sugiarto (Pondok TK Al Firdaus BSB Mijen Jatisari, Semarang). Sumber: news.detik.com – Senin, 24 November 2008.

*Rehal buku: Sekolah Itu Candu (Edisi Tahun 2007)/ Roem Topatimasang/ INSISTPress , 2007.