Mematikan Sekolah yang Telah Menjadi Candu, Memikirkan Sekolah Masa Depan

Mematikan Sekolah yang Telah Menjadi Candu, Memikirkan Sekolah Masa Depan*

Istilah sekolah selalu dilekatkan kepada suatu sistem, suatu lembaga, suatu organisasi besar dengan segenap kelengkapan perangkatnya. Istilah ini dulunya belum dikenal oleh manusia, karena sebelum istilah ini terlembaga laupun sudah terlembaga manusia belum membutuhkan kehadirannya. Dalam sejarah, ketika manusia sudah tidak mampu dan memiliki waktu untuk mentransformasi nilai-nilai hidup dan pengetahuan kepada anak-anak mereka, maka manusia mulai membutuhkan bantuan dari manusia lain. Bantuan ini kemudian termanifestasi dalam scola in loco (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu) yang sebelumnya berbentuk scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu). Demikianlah Roem memulai tulisannya dengan memaparkan sejarah kemunculan sekolah.

Pada halaman-halaman berikutnya kita akan diajak untuk memikirkan kembali kondisi pendidikan (baca: persekolahan) kita. Walaupun ditulis pada tahun 90an, tulisan-tulisan Roem masih memiliki relevansi dengan kondisi kekinian. Ditulis dengan bahasa ringan namun akhirnya dahi kita berkerut juga. Apalagi melihat beberapa referensi yang dijadikan sebagai rujukan dan inspirasi dalam penulisan buku ini.

Pamflet Illichian kembali menyeruak. Itulah kesimpulan saya setelah membaca buku Roem Topatimasang. Semangat dalam tulisannya mengingatkan saya kepada almarhum Mansour Fakih. Begitu pula dengan teman-teman sezamannya seperti Utomo Dananjaya yang selalu konsen dan kritis dengan masalah-masalah seputar pendidikan. Kritik-kritik yang dilontarkan Roem, adalah kritik-kritik konstruktif ala Illich dan Freire dengan élan sama pada zaman dan tempat yang berbeda. Kesamaan dengan Freire bisa jadi terlihat dalam beberapa tulisan karena Freire adalah orang Brazil yang juga bernasib sama seperti Indonesia. Sama-sama negara dunia ketiga.

Dalam epilog untuk buku ini, Roem menulis tentang Sukardal (sebagai tokoh rekaan dalam buku ini) yang berdialog dengan seorang profesor mengenai sekolah. Merekapun berdiskusi dengan beberapa warga mengenai apa yang akan mereka jadikan sekolah. Di akhir pembicaraan Sukardal mengajak warga lain untuk pergi ke sekolah dimana mereka bisa menyilangkan jenis labu untuk menghasilkan labu baru. Ya, sekolah itu adalah lahan pertanian karena Sukardal memang seorang petani. Petani yang bersekolah dengan bergelut bersama realitas dan mendapatkan pengetahuan dari sana, bukan sebaliknya mendapatkan pengetahuan di kelas dan juga mendapatkan pengetahuan bahwa realitas acapkali bertentangan dengan apa yang diajarkan di kelas. Maka tak salah, dalam salah satu tulisannya Roem menuliskan bahwa sekolah itu candu yang membius masyarakat, membuat orang terlena dengan kenyataan yang sudah parah.

Memang buku ini tidak berisi pemikiran Roem yang utuh mengenai persekolahan dan pendidikan. Hal ini dimengerti karena buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisannya. Namun buku ini baik untuk dijadikan sebagai bahan perenungan kembali terhadap dunia persekolahan dan pendidikan Indonesia. Sungguh buku yang mengganggu pikiran kita.

*Kamalfuadi. Sumber:  fuadinotkamal.wordpress.com – 10 Des-2008.

*Rehal buku: Sekolah Itu Candu (Edisi Tahun 2007)/ Roem Topatimasang/ INSISTPress , 2007.