Kebudayaan Lokal di Era Globalisasi

Kebudayaan Lokal di Era Globalisasi*

Globalisasi ekonomi dan digitalisasi menawarkan kondisi baru bagi sebagian besar produksi dan distribusi artistik di seluruh dunia. Berbagai ekspresi budaya korporasi mengelilingi kita. Tujuannya satu: mereka menjual dan kita membeli. Budaya itu menciptakan atmosfer di mana konsumsi lebih penting daripada nilai-nilai dan kebutuhan manusia lainnya.

Konglomerasi budaya memandulkan proses penciptaan karya seni lokal. Serangkaian pesan yang dikemas secara estetis dan menampilkan keindahan mendorong masyarakat melupakan budaya lokal dan menjauh dari realitas kehidupan. Berbagai cara dilakukan korporasi budaya untuk meyakinkan karya budaya yang mereka sajikan adalah karya terbaik. Kenyataan ini membuat kebudayaan rakyat kalah ketika dibawa ke arena korporasi. Budaya lokal suatu komunitas dianggap tidak menarik bagi komunitas lain. Globalisasi ekonomi tidak menjamin selamatnya warisan kebudayaan yang seharusnya menjadi warisan kita.

Publikasi ini menawarkan argumen kuat menyoal perlindungan keanekaragaman budaya dan mengajak memikirkan kembali konsep hak kekayaan intelektual atas budaya lokal. Salah satu wujud menjaga eksistensi budaya lokal adalah Konvensi Perlindungan dan Pengembangan Keanekaragaman Ekspresi Kebudayaan. Kesepakatan yang disetujui UNESCO ini memberi hak penuh pada setiap negara mengatur perlindungan dan pengembangan keanekaragaman budaya.(DRA/Litbang Kompas)

*Lansir dari Harian KOMPAS – Minggu, 21 Juni 2009.

•Rehal buku: Arts Under Pressure: Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi/ Joost Smiers/ Umi Haryati (penerjemah), Fitri Indra Harjanti (penyunting)/ INSISTPress, Febuari 2009.