Bagaimana Perjalanan Mengubahmu

Bagaimana Perjalanan Mengubahmu*

APA beda tulisan tentang tempat dan perjalanan berdasar pengalaman langsung dibandingkan hasil dari literatur, bahan rujukan, maupun angan-angan? Ada yang terkenal sebagai penulis travel writing, sementara lainnya menulis tempat imajinatif. Italo Calvino menulis kota-kota sureal-gaib yang disinggahi Marco Polo, R.K. Narayan dengan imajinasi rinci menulis tentang Malgundi. Adakah yang persis membedakan tempat real, bisa didatangi, dengan tempat dalam imajinasi, yang dijelajahi dengan pencerapan?

Pada 1800-an hiduplah Immanuel Kant yang tak pernah meninggalkan Konigsberg (kini Kaliningrad). Namun namanya begitu masyhur, sehingga orang terdidik di kota-kota besar seluruh dunia mengenal baik reputasi dan pemikirannya, terutama para peminat filsafat. Dia melampaui batas wilayah. Tanpa meninggalkan tempat pun ternyata dia bisa mengguncang dunia. Henry David Thoreau hanya sekali meninggalkan kampung halaman, Concord, untuk kemudian pulang hidup sederhana seirama alam, menghasilkan karya monumental, di antaranya Walden dan Civil Disobedient. Ini lain betul dengan Tan Malaka, Mohandas Gandhi, ataupun Syaikh Yusuf. Dunia mengenal mereka sebagai orang yang selalu membuat guncangan di setiap tempat yang mereka singgahi.

Petualangan dari tempat ke tempat terus berlangsung. Sebagian dilakukan dengan nyaman sebagai turis berkantong tebal, ditemani biro pariwisata, dihormati karena mendatangkan devisa. Sebagian dilakukan ngegembel sebagai backpacker, hanya berbekal kebutuhan hidup minimal, tidur di mana saja, kadang-kadang dikejar-kejar aparat atau dituduh imigran gelap. Entah di mana kini ada pejalan menjelajahi daerah kumuh dunia ketiga, gurun, hutan belantara, menyusuri pantai, atau malah tersesat. Orang bisa memilih perjalanan yang lebih selamat dan menyenangkan, kalau perlu penuh kenang-kenangan dan oleh-oleh. Time pernah mengutus Paul Theroux melintasi Eropa ke Asia menggunakan kereta api, sampai menghasilkan kesimpulan, “Kalau kamu ingin tahu seperti apa Asia, naiklah kereta api kelas ekonominya.”

Apa perjalanan bisa mengubah seseorang? Becermin pada Kant dan Thoreau orang tak perlu pergi untuk berubah; namun sebaliknya, sebagian orang menempuh perjalanan karena berbagai alasan, mulai dari riset, penjelajahan, petualangan, maupun pengusiran, dan itu mengubah hidup dan pandangan. Pandangan Karen Armstrong, komentator agama terkemuka, banyak berubah setelah mengunjungi Yerusalem untuk program televisi tentang tempat-tempat bersejarah agama Abrahamik.

SIGIT SUSANTO, penulis Indonesia tinggal di Swiss, rutin melancong ke berbagai sudut bumi dan telah menerbitkan buku perjalanan yang dipuji banyak kalangan, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, kini terbit jilid ke-2. Perjalanan merupakan kunci dia menghasilkan tulisan yang menarik tentang tempat. Fokus yang kerap dia jelajahi biasanya sejarah kota, sosial-politik, khazanah sastra-budaya, kemudian situs menarik. Bonusnya berbagai peristiwa bersama istri, Claudia Beck. Bonus itu kerap menjadi satu-satunya pelepasan mengungkapkan sisi emosional perjalanan.

Sigit mengunjungi tempat sesuai rencana, sambil menikmati dia merekam, mencatat, dan memotret yang menarik. Yang dia lihat, lakukan, rute perjalanan, diceritakan dengan antusias. Demi mengejar muatan terhadap subjek yang diceritakan, dia melengkapi info dari buku tentang tempat, panduan kota dan perjalanan, juga wikipedia. Berbagai sumber ini menimbulkan tanya, apa istimewanya buku ini dibandingkan informasi turis dalam buku seperti The Lonely Planet? Dari sini kita tahu Sigit kesulitan menyelam dari perjalanan menjadi petualangan. Ia memilih menambah info dari berbagai rujukan alih-alih menguatkan kemampuan menelisik temuan mengejutkan yang mungkin terjadi. Bila berharap cerita tentang kota, negara, beserta isi dan peristiwa, Menyusuri Lorong-lorong Dunia merupakan buku turisme berisi nyawa. Buku guide berisi informasi, sedangkan Sigit memberi narasi, nuansa, kekayaan batin, sisi pelik kehidupan. Di dalamnya ada aktivitas, denyut masyarakat, kegalauan penduduk, kegelisahan politik, perasaan warga terhadap pemerintahan, kekhawatiran menghadapi krisis, dan sejumlah lain cerita langka. Begitu kesempatan tiba dia ngobrol siapa saja yang ditemui untuk bicara tentang negeri mereka atau minimal belajar menyapa menggunakan bahasa setempat.

Di jilid ke-2 Sigit menyedikitkan tujuan, namun dengan volume lebih tebal. Dia berkunjung ke delapan negara, rata-rata ke tiga kota sasaran. Lepas merupakan pandangan pribadi, buku ini boleh dianggap sebagai wakil pandangan orang Indonesia terhadap negara tetangga, baik yang jauh di Eropa atau Afrika, maupun yang dekat di Asia. Pembaca mendapat keintiman, bahkan untuk beberapa subjek dengan intensitas luar biasa. Sigit amat tertarik sastra dan sosial-politik; untuk subjek ini dia bisa cerita banyak dan rinci. Misal tentang James Joyce, penulis paling berpengaruh di khazanah sastra modern. Sigit sampai butuh tiga bab untuk maraton bercerita tentang hidup Joyce dan jejak di berbagai tempat di Eropa. Mula-mula Sigit menelusuri Zurich, pusat Yayasan Joyce dan Bloomsday, festival James Joyce. Ujung perjalanan tentu di Dublin, kota kelahiran Joyce. Pembaca yang kurang tertarik sastra dan rincian hidup Joyce mungkin heran Sigit menghabiskan 107 halaman tentang satu subjek. Keasyikan itu membuatnya luput menceritakan hal lain. Di Dublin juga ada Christy Brown, penulis-pelukis legendaris pengidap cerebral palsy yang kisah hidupnya dramatik karena hanya bisa menggerakkan kaki kiri, sebagaiman terungkap dalam My Left Foot.

Sigit termasuk komplet menulis tiga negara sosialis: Hongaria, Vietnam, dan Cina. Dia menyelidik seperti apa jadi penduduk negara berideologi amat lain dengan Indonesia maupun Swiss. Wawasan luas tentang negara tujuan sering menghindarkan dia dari cerita klise wisatawan. Cerita kerap dibubuhi informasi pemandu, narasumber lokal, juga pengamatan langsung. Ungkapan dan diksi dia pun kuat, misal “Pagi di Tomar, seperti puisi yang baru lahir ke bumi” atau “Lagi-lagi terkapar sudah martabatku.” Upaya melampiaskan ungkapan dengan cara sastrawi seperti ini patut dipuji. Ia melawan klise penulisan wisata, membayar remeh-temeh rutin perjalanan yang percuma diceritakan, misal pemeriksaan paspor, visa, tiket, dan penginapan.

Dia baru terasa benar menyusuri lorong dunia mana kala lepas dari rombongan. Dia ke pasar, tersesat di jalur dalam kota, atau fenomena yang terlalu aib untuk diungkap pemandu. Di situ dia membuat buku ini punya emosi dan sisi manusiawi. Perjalanan ke Maroko diselingi kekikukan istrinya kala bertemu lagi dengan mantan mertua, karena mereka beda bahasa dan budaya; Sigit sendiri mendapat perlakuan diskriminatif kala masuk hotel di Cina, karena penampilannya terlalu sederhana. Sayang hal semacam itu tak terjadi di setiap tujuan.

KARENA ditulis pelancong yang safari terjadwal, sebentar, sulit menghindarkan buku seperti ini masuk kategori snap book—istilah Michael Massing untuk buku karya penulis besar yang terjun ke negara (biasanya dunia ketiga yang masih krisis), melihat-lihat sekilas, dan menuliskan seluruh pengalaman tersebut. Ciri snap book ialah penulis suka berlebih-lebihan menganggap kejadian dan merasa mengunjungi negara paling sengsara di dunia. Mati lampu disangka sabotase, lihat tentara disangka operasi militer. Sigit mengalami hal serupa, namun pandangannya positif dan simpatik, mengutamakan pertemuan budaya, keharmonisan dan keragaman sosial. Sigit pergi dan pulang terencana, membawa cendera mata. Perjalanan itu tidak drastik mengubah mental, namun ia merupakan pengalaman mencerahkan. Buku ini mungkin sekelas dengan dua buku perjalanan V.S. Naipaul, yaitu Among the Believers dan Beyond Belief.

Kekurangan yang mudah dirasakan ialah ternyata sulit menerbitkan dengan baik, meski editor sudah ikut “dijual” dan terkenal sebagai penulis kuat. Peta yang buruk, salah eja, inkonsistensi format berceceran, bahkan sampai di halaman indeks. Ini mesti segera diperbaiki bila nanti cetak ulang.[]

*Anwar Holid, eksponen  TEXTOUR, Rumah Buku Bandung | Lansiran sumber: www.superkoran.info – November 2009.

*Rehal buku: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan Jilid 2/ Sigit Susanto/ INSISTPress, 2008.