Gerakan Sosial di Dunia Maya

Gerakan Sosial di Dunia Maya*

Penggalangan gerakan melalui dunia maya, hanya efektif jika menyentuh isu ketidakadilan terhadap masyarakat. Ajakan untuk melakukan gerakan sosial berbau politik yang tidak populis, terbukti loyo di situs jejaring sosial.

Dalam kasus Prita Mulyasari melawan RS Omni Internasional misalnya, rasa ketidakadilan muncul dalam perkara buruknya pelayanan kesehatan. Facebook sukses menggugah kepedulian untuk melawan kuasa birokrasi. Wajar, jika gerakan ‘Koin untuk Prita’ muncul di berbagai daerah.

“Seluruh belas kasihan dimobilisir. Mereka disatukan dalam isu, justice for all. Dunia maya, bukan gerakan sosial baru, tapi membawa kita ke komunikasi lintas sektoral dan menyatukannya dalam satu isu utama yaitu keadilan,” kata Daniel Dhakidae, Wakil Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Menurut Daniel, harus diakui kecanggihan teknologi berdampak besar pada tatanan sosial. Namun reaksinya hanya efektif pada kalangan sosial tertentu. Sebab itu, gerakan ‘Turunkan SBY’ di Facebook, tidak terlalu mendapat respon. “Hanya isu keadilan yang bisa diterima,” ujarnya.

Hilmar Farid, sejarawan muda mengatakan, aktivitas sosial di dunia maya saat ini menjelma menjadi gerakan sosial yang nyata. Menurut dia, tipikal gerakan yang sederhana dalam jejaring sosial di dunia maya, mudah dicerna masyarakat awam. “Ini riil. Dukungan di dunia maya begitu mudah ditangkap oleh orang yang lugu. Akhirnya muncul kepedulian baru, meski sesaat,” kata Hilmar, dalam diskusi peluncuran buku ‘Oposisi Maya’, Kamis (25/2). (E1)

*Sumber: VHRmedia.com – 25 Februari 2010.